
KabarJawa.com– Hujan deras yang mengguyur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sejak Jumat pagi, 26 Desember 2025, memicu rangkaian bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah.
Banjir, gerakan tanah, pohon tumbang, hingga luapan sungai melanda sejumlah kabupaten dan kota, memaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY meningkatkan status kewaspadaan dan mempercepat langkah penanganan darurat.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Hadiyanto, menegaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dan membutuhkan kesiapsiagaan seluruh pihak.
Ia menyampaikan bahwa hujan dengan intensitas ringan hingga lebat turun hampir merata sejak pukul 10.50 WIB dan berlanjut hingga malam hari.
“Curah hujan tinggi sejak pagi memicu berbagai kejadian bencana. Tim kami masih melakukan penanganan dan pendataan di lapangan,” ujar Agustinus saat menyampaikan laporan harian Pusdalops PB BPBD DIY.
DIY Berstatus Siaga Darurat Hidrometeorologi
BPBD DIY menetapkan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi. Sejumlah kabupaten dan kota juga menetapkan status siaga sesuai karakteristik ancaman di wilayah masing-masing.
- Kota Yogyakarta: Siaga Darurat Banjir, Talud Longsor, dan Cuaca Ekstrem
- Kabupaten Bantul: Siaga Darurat Bencana Banjir, Tanah Longsor, dan Angin Kencang
- Kabupaten Gunungkidul: Siaga Darurat Hidrometeorologi Basah
- Kabupaten Sleman: Siaga Darurat Erupsi Gunung Api Merapi dan Siaga Darurat Cuaca Ekstrem
- Kabupaten Kulon Progo: kondisi nihil status khusus, meskipun kejadian longsor tetap terjadi
Di tengah cuaca ekstrem, Gunung Merapi menunjukkan aktivitas yang perlu diwaspadai. Pusat Vulkanologi mencatat kondisi cuaca mendung dan hujan di kawasan puncak dengan curah hujan mencapai 57 milimeter per hari.
Pengamat mencatat 77 kali guguran, 59 gempa hybrid, dan dua gempa tektonik jauh sepanjang periode pengamatan.
Petugas juga mengamati satu kali guguran lava ke arah Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.500 meter. Hingga saat ini, status aktivitas Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan tiga kejadian gempa bumi di wilayah DIY dengan kekuatan antara 2,5 hingga 2,6 magnitudo. Gempa tersebut terjadi pada kedalaman 15 hingga 105 kilometer dan tidak dirasakan oleh masyarakat.
Kabupaten Bantul mencatat dampak paling luas akibat cuaca ekstrem. Hingga Jumat malam, Pusdalops BPBD Bantul menerima laporan 61 titik kejadian.
Gerakan tanah terjadi di tujuh titik yang tersebar di wilayah Imogiri, Piyungan, dan Dlingo, merusak talud, akses jalan, serta rumah warga. Selain itu, 54 titik pohon tumbang terjadi di wilayah Sanden, Kretek, dan Imogiri.
Cuaca ekstrem juga berdampak signifikan di Kabupaten Gunungkidul. Pohon tumbang mengganggu akses jalan di kawasan Pantai Krakal.
Sementara itu, luapan Sungai Oyo menggenangi jalan permukiman warga di Playen. Genangan air juga merendam rumah warga, kios, serta fasilitas pendidikan di Kecamatan Tanjungsari.
Di Kabupaten Kulon Progo, tanah longsor terjadi di Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap. Longsoran tanah menghantam rumah warga hingga menyebabkan dinding rumah jebol pada Jumat malam sekitar pukul 22.00 WIB.
Pantauan Natal dan Tahun Baru Tetap Kondusif
BPBD DIY memastikan bahwa posko Natal dan Tahun Baru di seluruh wilayah DIY tetap dalam kondisi aman dan terkendali.
Meski hujan turun seharian dan menyebabkan kemacetan di beberapa titik, situasi umum tetap kondusif. Personel BPBD DIY aktif melakukan patroli dan sambang ke pos pelayanan, termasuk pos medis di Kota Yogyakarta.
BMKG memprakirakan cuaca berawan hingga hujan ringan pada Sabtu, 27 Desember 2025, dengan suhu udara berkisar 22–31 derajat Celsius.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang di wilayah Sleman utara, Kulon Progo utara, Gunungkidul bagian selatan-tengah, serta Bantul bagian selatan.
Kepala Pelaksana BPBD DIY mengimbau masyarakat agar tetap tenang namun waspada. Ia meminta warga membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang rawan tumbang, memeriksa atap dan instalasi listrik, serta menghindari berteduh di bawah pohon saat hujan lebat.
“Masyarakat perlu memantau informasi resmi dan segera mengungsi ke tempat aman jika muncul tanda-tanda bencana,” tegas Agustinus.
BPBD DIY menegaskan bahwa proses penanganan dan pendataan masih berlangsung dan data dapat berubah sesuai perkembangan di lapangan.
Pemerintah daerah bersama seluruh unsur terus berupaya memastikan keselamatan warga di tengah ancaman cuaca ekstrem yang masih berlanjut. (ef linangkung)