Kabarjawa – Penyakit mulut dan kuku (PMK) menjadi salah satu perhatian utama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul, DI Yogyakarta. Dengan kasus yang mencapai sekitar 1.800 ekor sapi terdeteksi, berbagai upaya DPKH Gunungkidul intensif terus dilakukan untuk tangani wabah PMK. Langkah-langkah yang diambil meliputi vaksinasi, pengobatan, dan edukasi kepada para peternak untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Kasus PMK di Gunungkidul
Hingga Januari 2025, sebanyak 350 hingga 400 ekor sapi dilaporkan telah sembuh dari PMK. Hal ini merupakan hasil dari berbagai langkah yang telah diambil, termasuk pemantauan aktif oleh petugas di lapangan. Namun, data rinci mengenai kasus PMK masih dalam proses pengumpulan, mengingat petugas DPKH terus bergerak melakukan pemantauan langsung.
Menurut Kepala DPKH Gunungkidul, Wibawanti Wulandari, program vaksinasi menjadi prioritas utama. “Kami menargetkan distribusi sebanyak 3.000 dosis vaksin selama bulan Januari,” jelasnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 800 dosis telah dialokasikan untuk dokter hewan praktisi dan Puskeswan.
Vaksinasi dan Penyemprotan Disinfektan
Vaksinasi dilakukan secara terjadwal setiap hari, tetapi DPKH juga melaksanakan kegiatan pendukung seperti pengobatan dan penyemprotan disinfektan di area peternakan. Langkah ini bertujuan untuk mencegah penyebaran virus lebih luas, terutama di wilayah dengan risiko tinggi.
Meskipun jadwal vaksinasi telah ditentukan untuk 48 peternak, hanya 27 peternak yang bersedia menjalani program ini. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan lebih mendalam terkait komunikasi dan edukasi kepada para peternak mengenai pentingnya vaksinasi PMK.
Fokus Wilayah dan Edukasi Peternak
Strategi vaksinasi difokuskan pada wilayah yang belum terpapar kasus PMK, dengan tujuan menjaga area tersebut tetap aman dari penyebaran virus. Edukasi kepada peternak juga menjadi bagian penting dari program DPKH. Informasi mengenai manfaat vaksinasi dan langkah pencegahan lain terus disampaikan melalui berbagai media dan pertemuan langsung dengan peternak.
“Komunikasi, informasi, dan edukasi adalah kunci keberhasilan dalam program ini,” ujar Wibawanti. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara petugas dan peternak untuk mencapai hasil maksimal.
Dengan target vaksinasi yang jelas dan berbagai upaya strategis, DPKH Gunungkidul menunjukkan komitmennya dalam menangani wabah PMK. Meskipun tantangan masih ada, seperti kurangnya partisipasi beberapa peternak, langkah-langkah yang telah diambil memberikan harapan akan situasi yang segera membaik. Keberhasilan program ini membutuhkan sinergi antara pemerintah, petugas di lapangan, dan peternak untuk memastikan kesehatan hewan ternak tetap terjaga.(Kabarjawa)