KabarJawa.com — Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menantang manajemen RSUP Dr. Sardjito untuk mempercepat pembangunan rumah sakit rujukan nasional tersebut.
Menkes meminta percepatan pembangunan dilakukan secara simultan dengan membangun tiga gedung sekaligus serta memajukan target penyelesaian Masterplan 2040 menjadi tahun 2029.
Pernyataan tersebut disampaikan Menkes Budi saat menghadiri prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) Gedung Central Medical Unit (CMU) Zona C RSUP Dr. Sardjito, Kamis (8/1/2026).
Dalam kesempatan itu, Menkes menegaskan bahwa transformasi layanan kesehatan nasional membutuhkan keberanian rumah sakit pemerintah dalam mengambil keputusan strategis.
Dorongan Skema Pendanaan Agresif
Menkes Budi mengkritik pola pembangunan rumah sakit yang masih bergantung pada dana internal. Ia mendorong RSUP Sardjito memanfaatkan skema leverage keuangan agar pembangunan dapat dilakukan lebih cepat dan berskala besar.
Ia menyebut RSUP Sardjito memiliki dana mandiri sekitar Rp 900 miliar yang dinilainya cukup kuat untuk menjadi modal awal pembiayaan perbankan.
“Kalau kita ingin memperbanyak gedung, jangan pakai pola lama. Dengan uang Rp 900 miliar, perbankan akan senang memberikan pinjaman sampai Rp 1,8 triliun. Totalnya bisa menjadi Rp 2,7 triliun, dan itu cukup untuk membangun tiga gedung sekaligus,” ujar Menkes Budi.
Menurutnya, pendekatan tersebut akan memberikan dampak signifikan terhadap percepatan peningkatan layanan kesehatan dan daya saing rumah sakit pemerintah.
Target Tujuh Gedung Beroperasi 2029
Dalam arahannya, Menkes Budi menetapkan target agar tujuh gedung utama dalam masterplan RSUP Dr. Sardjito dapat beroperasi dan diresmikan secara bersamaan pada tahun 2029. Target tersebut lebih cepat sekitar 11 tahun dibandingkan rencana awal yang ditetapkan pada 2040.
Ia menekankan bahwa tahun 2026 tidak boleh hanya diisi dengan satu kegiatan seremonial. Menkes meminta minimal dua gedung langsung memulai proses pembangunan, termasuk peremajaan Gedung E yang merupakan bangunan tertua di RSUP Sardjito.
“Tahun ini minimal dua gedung harus mulai dibangun. Jangan hanya satu acara seremonial. Gedung E yang sudah paling tua juga harus segera diremajakan,” tegasnya.
Keterlibatan Langsung Menkes dalam Skema Keuangan
Menkes Budi juga menyatakan kesiapannya untuk terlibat langsung dalam penyusunan skema pembiayaan proyek pembangunan tersebut. Dengan latar belakang sebagai mantan bankir, ia menegaskan siap membantu jajaran direksi rumah sakit dalam merancang struktur pendanaan.
“Kalau Direktur Keuangannya belum paham, Menterinya siap membantu. Kita strukturkan transaksinya supaya tiga gedung bisa dibangun bersamaan. Tinggal nanti diatur tahapan operasionalnya,” kata Menkes.
Ia menambahkan bahwa dengan dana Rp 900 miliar, RSUP Sardjito setidaknya harus mampu membangun dua gedung pada tahap awal, termasuk untuk layanan rawat inap dan onkologi pada tahap berikutnya.
Tambahan Dana APBN dan Tahap Lanjutan
Menkes Budi juga mengungkapkan peluang tambahan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 1 triliun pada tahun 2027. Ia kembali mengingatkan agar dana tersebut tidak digunakan hanya untuk satu proyek pembangunan.
“Dengan Rp 1 triliun itu jangan cuma bangun satu gedung. Dana itu bisa kita leverage menjadi Rp 2,5 triliun. Insya Allah tujuh gedung bisa beroperasi dan diresmikan tahun 2029, sebelum masa jabatan kami berakhir,” ujarnya.
Gedung CMU Perkuat Layanan Medis Terpadu
Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito, dr. Eniarti, menjelaskan bahwa Gedung Central Medical Unit (CMU) dirancang sebagai pusat layanan medis berteknologi tinggi. Gedung tersebut dibangun di atas lahan seluas 51.825 meter persegi, terdiri dari delapan lantai dan dua basement.
Dengan kehadiran Gedung CMU, kapasitas tempat tidur RSUP Dr. Sardjito meningkat menjadi 1.189 unit. Sebanyak 302 unit di antaranya diperuntukkan bagi perawatan intensif, termasuk 195 tempat tidur ICU.
Gedung tersebut juga dilengkapi 30 kamar operasi, lima ruang khusus bedah robotik, laboratorium produksi stem cell, cath lab biplane, serta layanan kegawatdaruratan dengan 52 tempat tidur.
“Gedung ini akan mengintegrasikan layanan yang selama ini tersebar. Kami ingin membuktikan bahwa kualitas pengobatan di dalam negeri mampu menyaingi layanan kesehatan luar negeri,” kata dr. Eniarti.
Pendampingan dan Pengawasan Pembangunan
Dr. Eniarti menambahkan bahwa operasional Gedung CMU akan melibatkan lebih dari 1.500 tenaga medis dan tenaga profesional kesehatan. Ia memastikan seluruh proses perencanaan dan pembangunan dilakukan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
“Kami mendapat pendampingan dari Kejaksaan DIY, BPKP, PUPR Jogja, serta tenaga ahli dari Universitas Gadjah Mada. Kami memastikan pembangunan ini berjalan sesuai aturan dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan target percepatan masterplan dan dukungan lintas sektor, RSUP Dr. Sardjito memasuki fase penting dalam pengembangan layanan kesehatan.
Pemerintah menargetkan rumah sakit ini menjadi contoh percepatan pembangunan fasilitas kesehatan pemerintah di tingkat nasional.