
KabarJawa.com – Pemerintah Daerah DIY memperpanjang status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi setelah rangkaian bencana terus terjadi sejak pertengahan Oktober.
BPBD DIY menyatakan perpanjangan ini mendesak karena intensitas hujan meningkat dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Januari hingga Februari mendatang.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, memastikan pihaknya memproses perpanjangan status siaga darurat hingga satu bulan ke depan.
Sebelumnya, SK Gubernur hanya berlaku hingga 19 November, namun kondisi cuaca yang tidak stabil mendorong BPBD DIY mengambil langkah cepat.
“Iya kita perpanjang, sedang berproses di Pak Gubernur, masih di Bu Sekda. Ini karena periode musim hujannya masih panjang dan curah hujannya mencapai puncaknya Januari, Februari,” ujar Ruruh pada Senin (24/11).
Musim Hujan Memanjang, BPBD DIY Bergerak Cepat
Ruruh menegaskan, status siaga darurat menjadi pintu penting dalam memastikan dukungan dari tingkat nasional.
Dengan status tersebut, BPBD DIY dapat menerima bantuan dari BNPB, mulai dari logistik hingga pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) jika diperlukan.
“Kalau belum ada SK siaga darurat maka BNPB tidak bisa masuk memberikan bantuan termasuk terkait OMC,” tegasnya.
BPBD DIY mencatat 400 kejadian bencana dalam rentang 15 Oktober hingga 22 November. Angka ini menunjukkan tingginya ancaman hidrometeorologi di wilayah DIY.
Rinciannya meliputi 314 titik cuaca ekstrem, 84 titik tanah longsor, dan 2 titik banjir. Data tersebut memperlihatkan kerentanan topografi DIY, terutama wilayah perbukitan dan kawasan urban yang padat.
Gunungkidul menjadi wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi. Daerah perbukitan karst ini menerima cuaca ekstrem dan tanah longsor dalam volume besar.
Kota Yogyakarta, Bantul, Sleman, dan Kulon Progo menyusul dengan sebaran kejadian yang variatif.
“Di Gunungkidul ada 108 titik cuaca ekstrem dan 24 titik tanah longsor; di Kota Yogyakarta ada 87 titik cuaca ekstrem dan 2 titik tanah longsor; di Bantul ada 48 titik cuaca ekstrem dan 1 titik tanah longsor; di Sleman ada 44 titik cuaca ekstrem dan 1 titik tanah longsor; serta di Kulon Progo ada 27 titik cuaca ekstrem, 56 titik tanah longsor, dan 2 titik banjir,” ungkap Ruruh.
Kesiapsiagaan Diperketat, Warga Diminta Tetap Waspada
Dengan perpanjangan status siaga darurat, BPBD DIY memperketat koordinasi antara kabupaten/kota, relawan, dan instansi terkait.
Setiap laporan kejadian kini ditindaklanjuti dengan respons cepat untuk menekan dampak kerusakan dan korban.
BPBD DIY juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama warga yang tinggal dekat tebing, bantaran sungai, serta kawasan rawan longsor dan banjir.
Curah hujan yang terus meningkat membuat ancaman dapat muncul kapan saja.
Status siaga darurat ini menunjukkan bahwa DIY memasuki fase musim hujan yang lebih panjang dan intens dibanding tahun sebelumnya.
Dengan 400 bencana dalam waktu singkat dan puncak hujan yang masih akan datang, BPBD DIY mengambil langkah cepat untuk menjaga kesiapsiagaan.
Ruruh menegaskan bahwa perpanjangan status ini menjadi peringatan bagi masyarakat DIY untuk bersiap menghadapi potensi bencana hingga awal tahun depan.
Ia menyebut semakin cepat semua pihak bergerak, semakin besar peluang untuk menyelamatkan nyawa dan mengurangi kerugian.