
KabarJawa.com – Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur Kabupaten Gunungkidul dalam beberapa hari terakhir memicu terjadinya tanah longsor di sejumlah lokasi.
Kondisi ini meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi basah dan mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat meningkatkan status kewaspadaan hingga akhir Januari 2026.
Salah satu kejadian longsor dilaporkan terjadi di Padukuhan Mongkrong, Kalurahan Sampang, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, pada Sabtu, 10 Januari 2026.
Hujan berintensitas tinggi menyebabkan talud batu sepanjang sekitar 14 meter dengan ketinggian kurang lebih 5 meter, serta pagar rumah milik warga bernama Sulano, runtuh.
Talud yang berada di depan rumah korban berfungsi sebagai penahan tanah. Curah hujan yang berlangsung terus-menerus meningkatkan tekanan air dan melemahkan struktur bangunan tersebut hingga akhirnya ambruk dan memicu longsoran tanah.
Sulano menyampaikan, peristiwa longsor terjadi dua kali dalam rentang waktu berdekatan. Longsor pertama terjadi sekitar pukul 08.30 WIB, disusul longsor kedua pada pukul 09.15 WIB.
Retakan tanah yang semakin melebar menimbulkan kekhawatiran warga karena berpotensi merembet ke bangunan di sekitarnya.
“Setelah kejadian pertama, longsor kembali terjadi tidak lama kemudian. Kondisinya semakin mengkhawatirkan,” ujar Sulano.
Korban kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala Dukuh Padukuhan Mongkrong. Laporan itu diteruskan ke pihak Kalurahan Sampang untuk kemudian disampaikan kepada BPBD Kabupaten Gunungkidul.
Sebagai langkah awal penanganan darurat, warga bersama perangkat padukuhan memasang pagar bambu di sekitar lokasi longsor.
Upaya tersebut dilakukan untuk membatasi akses warga dan mengurangi risiko kecelakaan akibat pergerakan tanah lanjutan.
“Masyarakat merasa khawatir karena jika tidak segera ditangani, longsoran bisa menjalar ke sisi lain yang kondisinya sudah retak dan berlubang,” imbuh Sulano.
Longsor Juga Terjadi di Patuk
Selain di Gedangsari, kejadian serupa dilaporkan di wilayah Kapanewon Patuk. Tanah longsor terjadi di Dusun Gambiran, Kalurahan Bunder, serta Dusun Kepil, Kalurahan Putat.
Hingga saat ini, longsor di kedua lokasi tersebut belum menimbulkan kerusakan bangunan, namun potensi ancaman terhadap rumah warga masih ada seiring kemungkinan pergerakan tanah lanjutan.
Status Siaga Hidrometeorologi
Menyikapi perkembangan tersebut, BPBD Kabupaten Gunungkidul menetapkan status Siaga Darurat Hidrometeorologi Basah hingga 31 Januari 2026. Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menyatakan bahwa potensi cuaca ekstrem masih tinggi sehingga kewaspadaan terus ditingkatkan.
“Dengan kondisi cuaca seperti ini, kami tetap bersiaga penuh,” kata Purwono, Minggu (11/1/2026).
Ia menjelaskan, BPBD setiap hari menyiagakan personel gabungan yang terdiri atas 8 anggota Tim Reaksi Cepat (TRC), 6 personel Pemadam Kebakaran, dan 3 personel Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops).
Selain petugas yang bertugas piket, personel lainnya juga disiagakan untuk mendukung respons cepat apabila terjadi bencana.
“Ketika bencana terjadi, kami langsung mengerahkan seluruh kekuatan, termasuk personel di luar jadwal piket, agar respons cepat bisa segera dilakukan,” ujarnya.
Berdasarkan pemetaan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Februari.
Informasi peringatan dini tiga harian menunjukkan potensi hujan lebat disertai angin kencang masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.
“Peringatan tiga harian dari BMKG menunjukkan potensi hujan dan angin kencang masih cukup tinggi,” kata Purwono.
Wilayah Rawan dan Imbauan
Purwono menambahkan, potensi bencana hidrometeorologi cenderung mengarah ke wilayah Gunungkidul bagian selatan dan tengah. Sebelumnya, banjir genangan dilaporkan terjadi di Kapanewon Tanjungsari, sementara angin kencang berdampak pada sejumlah wilayah di Wonosari.
BPBD mencatat jenis bencana yang berpotensi muncul selama puncak musim hujan meliputi angin kencang, banjir genangan, serta longsor pada talud dan tebing penahan tanah.
“Kecenderungannya banjir genangan dan angin kencang terjadi di wilayah selatan dan tengah Gunungkidul,” jelasnya.
Untuk memperkuat langkah mitigasi, BPBD terus berkoordinasi dengan relawan kebencanaan dan pemerintah kalurahan, terutama apabila bencana terjadi secara bersamaan di beberapa titik.
BPBD juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas, khususnya di luar ruangan. Warga diminta mengenali kondisi lingkungan sekitar, terutama daerah rawan longsor dan keberadaan pohon besar yang berpotensi tumbang.
“Kami mengimbau masyarakat terus memantau informasi cuaca dari BMKG dan meningkatkan kewaspadaan,” pungkas Purwono.
Selain itu, masyarakat diharapkan rutin membersihkan saluran drainase, memperbaiki talud yang mengalami retak, serta memangkas ranting pohon yang berpotensi roboh guna meminimalkan risiko bencana selama puncak musim hujan.