
KabarJawa.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI Angkatan Udara memutuskan untuk memperpanjang operasi modifikasi cuaca di langit Jakarta dan sekitarnya.
Langkah ini diambil menyusul prediksi masih tingginya potensi curah hujan ekstrem yang dapat memicu banjir di wilayah Jabodetabek.
Diperpanjang hingga 27 Januari
Semula, operasi teknologi modifikasi cuaca ini dijadwalkan berlangsung pada 16-22 Januari 2026. Namun, melihat dinamika atmosfer terkini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengumumkan bahwa operasi ini diperpanjang hingga 27 Januari 2026.
Berdasarkan data terbaru, operasi yang berpusat di Lanud Halim Perdanakusuma ini telah memasuki hari kedelapan.
“Pelaksanaan modifikasi cuaca ini sesuai pertimbangan BMKG terkait intensitas curah hujan tinggi di sebagian besar wilayah DKI Jakarta,” ungkap pihak BPBD melalui instagram resmi @bpbddkijakarta, sebagaimana dilansir KabarJawa.com pada Sabtu, 24 Januari 2026.
“Lokasi penyemaian yaitu sekitaran Sukabumi, Jawa Barat dan wilayah perairan Jakarta Utara, dengan ketinggian sekitar 8.500 Feet sampai 11.000 Feet serta membawa total garam yaitu 3.200 kg, dalam 4 kali penerbangan,” lanjutnya.
Strategi “Mengatup” Awan di Laut
Dalam kegiatan sebelumnya, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto telah menjelaskan mekanisme kerja operasi ini di wilayahnya.
Tim gabungan menggunakan pesawat jenis Casa 212 seri 200 (registrasi A-2105) untuk melakukan penyemaian garam (NaCl) ke dalam awan potensial.
Fokus utamanya adalah menjatuhkan hujan lebih awal sebelum awan tersebut masuk ke jantung kota. Seto mengungkap bahwa penyemaian diprioritaskan untuk menjatuhkan awan-awan hujan yang masih berada di lautan dan bergerak menuju daratan Jabodetabek.
“OMC di Jakarta ini merupakan bagian dari upaya penanganan siaga darurat bencana hidrometeorologi di wilayah Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya. Sebelumnya, OMC juga telah dilaksanakan pada 13–19 Januari 2026 dengan menyemai 21,4 ton NaCL dan 7,4 ton CaO pada total 31 sorti,” jelasnya.
Atmosfer Sedang Labil
Mengapa modifikasi cuaca ini mendesak dilakukan? Direktur Operasi Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, memaparkan adanya fenomena atmosfer yang cukup aktif.
Saat ini, wilayah Jabodetabek dipengaruhi oleh fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) fase 2, gelombang Kelvin, serta kondisi atmosfer yang labil.
“Labilitas atmosfer menunjukkan kondisi massa udara labil lemah dan potensi konveksi sedang. Prioritas utama kami adalah mengurangi awan-awan hujan yang berkembang dan bergerak memasuki wilayah Jakarta sehingga masyarakat dapat melaksanakan aktivitas dengan nyaman dan tenang,” ucapnya.
Kolaborasi Lintas Sektor
Operasi ini mendapat apresiasi dari Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB, Andi Eviana. Menurutnya, sinergi antara Pemprov DKI, BMKG, TNI AU, dan BNPB adalah kunci keselamatan warga.
“Penanganan bencana di Jakarta yang berjalan secara terintegrasi merupakan langkah baik yang perlu terus dijalankan dan dioptimalkan. Prakiraan dan pemantauan cuaca yang diberikan BMKG akan sangat diperlukan dalam menyusun strategi yang efisien dalam penanganan dan mitigasi bencana,” ujarnya.
Dengan diperpanjangnya operasi modifikasi cuaca ini, diharapkan intensitas hujan yang turun di daratan Jakarta dapat berkurang signifikan, sehingga risiko banjir dan genangan dapat ditekan seminimal mungkin.***