
KabarJawa.com— Suasana riuh di Lapangan Udara Gading, Playen, Gunungkidul, berubah panik pada Sabtu (1/11) siang.
Hujan deras beserta angin kencang menerjang kawasan itu, memporak-porandakan puluhan tenda peserta dan stan di arena event Drag Race yang tengah berlangsung.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebut, peringatan dini cuaca ekstrem sebenarnya telah dikeluarkan oleh BMKG Daerah Istimewa Yogyakarta sejak pukul 12.58 WIB.
“BMKG memperingatkan adanya potensi hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang mulai pukul 13.00 WIB, dan benar saja, sekitar waktu itu cuaca berubah ekstrem di wilayah Playen,” ujar Purwono.
Cuaca Ekstrem saat Drag Race di Lanud Gading
Pukul 13.10 WIB, langit mendung tampak di atas Lanud Gading. Para peserta Drag Race awalnya hanya mengira akan turun hujan biasa.
Namun dalam beberapa menit, tiupan angin berubah menjadi kencang dan menghantam seluruh area lapangan.
Tenda-tenda besar yang menaungi pedok dan stan penjual roboh satu per satu, menimpa mobil peserta dan peralatan lomba.
Sebanyak 52 tenda pedok dan 8 tenda stan rusak berat akibat terjangan angin. Tak hanya itu, 8 unit mobil yang terparkir di area kegiatan juga tertimpa reruntuhan tenda.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, meskipun beberapa orang sempat berlarian menyelamatkan diri di tengah hujan lebat dan tiupan angin.
“Tim TRC kami segera turun ke lokasi begitu menerima laporan dari warga dan panitia lomba. Kami lakukan asesmen cepat dan memastikan tidak ada korban luka,” kata Purwono.
Dampak di Wilayah Playen dan Sekitarnya
Selain di area event Drag Race, angin kencang juga menimbulkan kerusakan di sejumlah titik di Kalurahan Gading dan sekitarnya. Berdasarkan data sementara BPBD Gunungkidul, sedikitnya sembilan lokasi mengalami kerusakan ringan.
Beberapa rumah warga di Gading, Playen, rusak tertimpa pohon tumbang dan atap yang beterbangan.
Rumah milik Sarwo, warga Padukuhan Gading 8, kehilangan 18 lembar asbes teras akibat diterpa angin. Sementara rumah milik Tuminem di Gading 9 tertimpa pohon jati hingga bagian atapnya rusak.
Kerusakan juga menimpa gudang kayu milik Lukas Wawan Prayoga, yang rangka galvalumnya ambruk tersapu angin.
Di Logandeng, pohon jati tumbang menimpa teras rumah milik Deltra Ningsih, sementara di Tegalrejo, Gedangsari, talut setinggi delapan meter ambrol akibat hujan deras berhari-hari.
“Total kerugian material sementara mencapai Rp4,7 juta. Meskipun angka ini tergolong kecil, dampak psikologis dan gangguan kegiatan masyarakat cukup besar,” ujarnya.
BPBD Gunungkidul bersama TRC, TNI, Polri, Tagana, Pemkal, PLN, relawan penanggulangan bencana, dan warga segera melakukan pembersihan serta pemotongan pohon tumbang.
Petugas juga mengevakuasi tenda-tenda yang rusak dan memastikan area Lanud Gading aman dari risiko susulan.
“Koordinasi lintas instansi langsung kami lakukan untuk mempercepat pemulihan. Kami juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih bisa terjadi hingga malam hari,” tutur Purwono.
Rekomendasi dan Peringatan BMKG
BPBD Gunungkidul meminta masyarakat terus memantau informasi prakiraan cuaca dari BMKG, terutama pada awal November ini yang bertepatan dengan masa transisi menuju musim penghujan.
Warga sebaiknya memangkas pohon-pohon lapuk, menghindari berteduh di bawah reklame, tiang listrik, dan pepohonan besar saat hujan lebat disertai angin.
BMKG memprediksi potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan terjadi di sejumlah wilayah seperti Wonosari, Patuk, Playen, Karangmojo, hingga Panggang. K
ondisi atmosfer yang tidak stabil menjadi penyebab utama meningkatnya kecepatan angin di beberapa titik.
Purwono menegaskan, pihaknya akan terus memperbarui data perkembangan situasi di lapangan. Pihaknya berharap masyarakat berperan aktif melaporkan kejadian di lingkungan masing-masing.
“Dengan informasi cepat, kami bisa menurunkan tim lebih sigap,” tegasnya.
Ia menambahkan, koordinasi dengan aparat kalurahan dan relawan akan ditingkatkan agar mitigasi bencana berjalan lebih efektif.
Kerja sama semua pihak sangat penting karena cuaca ekstrem seperti ini bisa datang mendadak, dan kesiapsiagaan adalah benteng utama. (ef linangkung)