
KabarJawa.com — Dua rumah warga di Kampung Jetisharjo, Kemantren Jetis, dan kawasan Tegalrejo kini berdiri lebih layak setelah melalui program bedah rumah yang melibatkan Pemerintah Kota Yogyakarta bersama sektor swasta dan masyarakat.
Program yang dilaksanakan tanpa menggunakan anggaran APBD ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat urban.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, turun langsung memimpin dan memantau jalannya renovasi dua rumah milik Ari Prianto, warga Jetisharjo, Kelurahan Cokrodiningratan, Kemantren Jetis, dan Slamet Priyo Utomo, warga RT 14 RW 04 Tegalrejo.
“Program ini berjalan bukan karena dana APBD, melainkan karena kebaikan hati para donatur, pegawai Pemkot, dan warga sekitar. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu mewujudkan rumah layak huni bagi saudara-saudara kita,” ujar Hasto saat meninjau lokasi, Minggu (19/10/2025).
Kolaborasi Publik-Swasta Jadi Kunci
Bedah rumah kali ini benar-benar menunjukkan kekuatan kolaborasi. Sejumlah donatur dari kalangan swasta dan lembaga sosial memberikan kontribusi yang signifikan.
Bank BPD DIY menyalurkan bantuan senilai Rp20 juta untuk memperbaiki rumah milik Ari Prianto di Jetisharjo. Dukungan juga datang dari Anisku Grup, yang menyumbangkan puluhan sak semen untuk mempercepat proses pembangunan.
Di sisi lain, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kemantren Tegalrejo tak ketinggalan menyalurkan bantuan Rp20 juta untuk memperbaiki rumah Slamet Priyo Utomo.
Kolaborasi lintas pihak ini menjadi bukti bahwa kepedulian sosial dapat tumbuh dari banyak arah, tanpa harus menunggu alokasi anggaran pemerintah.
Bukan Sekadar Membangun Rumah, tapi Membangun Kepedulian
Dalam sambutannya, Hasto menegaskan bahwa program bedah rumah bukan hanya urusan pembangunan fisik. Program ini, katanya, adalah wujud nyata dari semangat gotong royong dan solidaritas sosial warga Yogyakarta.
“Ini bukan sekadar membangun dinding atau atap, tetapi membangun kepedulian. Rumah layak huni melahirkan rasa aman, kenyamanan, dan kesehatan bagi penghuninya. Dari rumah yang sehat akan lahir keluarga yang bahagia dan produktif,” tegas Hasto.
Ia menambahkan bahwa pemerintah kota terus membuka ruang partisipasi bagi lembaga swasta, komunitas, maupun masyarakat umum untuk ikut serta. Menurutnya, sinergi seperti ini terbukti mempercepat penanganan persoalan hunian tidak layak di perkotaan.
Membangun Kota dari Akar Sosialnya
Program bedah rumah berbasis kolaborasi ini bukan kali pertama dilakukan di Kota Yogyakarta. Pemkot terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak agar setiap warga memiliki tempat tinggal yang layak dan sehat.
Dengan mengedepankan transparansi, partisipasi masyarakat, dan semangat gotong royong, program ini kini menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
Harapan Baru dari Rumah yang Dulu Rapuh
Bagi para penerima manfaat, bantuan ini terasa seperti hadiah besar yang datang di tengah keterbatasan. Ari Prianto, salah satu penerima, mengaku nyaris tak percaya ketika rumahnya ditunjuk untuk direnovasi.
“Saya sangat bersyukur. Rumah kami sudah lama butuh perbaikan, tapi kami tidak punya biaya. Alhamdulillah, sekarang semua dibantu oleh pemerintah dan para donatur. Terima kasih atas kepedulian semua pihak,” ucap Ari.
Sementara itu, Slamet Priyo Utomo menyebut bantuan ini sebagai anugerah yang mengubah hidup keluarganya.
“Saya tidak pernah membayangkan rumah kami akan diperhatikan. Bantuan ini luar biasa membantu. Semoga kebaikan para donatur dibalas oleh Allah,” tuturnya dengan penuh rasa syukur.