
YOGYAKARTA – Semangat gotong royong warga Kampung Ngadiwinatan, Kelurahan Ngampilan, Kota Yogyakarta, membara tak terbendung.
Mereka membuktikan kekuatan solidaritas dengan cara menggalang dana hingga Rp25 juta untuk membedah rumah tak layak huni (RTLH) milik Maryadi, salah satu warga RT 56 RW 11.
Aksi tulus tersebut menyentak perhatian publik dan mengundang apresiasi luar biasa dari Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.
Penggalangan Dana Warga Kampung Ngadiwinatan
Warga Ngadiwinatan bergerak tanpa menunggu perintah. Mereka melihat kondisi rumah Maryadi yang memprihatinkan—atap bocor, dinding dari anyaman bambu rapuh, lantai rusak dan lembab, serta tanpa plester.
Kemudian, mereka merapatkan barisan, mengetuk hati para tetangga, menggalang dana dari kantong pribadi hingga menggandeng dukungan dari pelaku usaha lokal lewat CSR. Mereka tidak menunggu belas kasih dari anggaran pemerintah. Akhirnya,mereka bergerak sendiri.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo langsung turun ke lokasi pada Sabtu (14/6/2025). Ia mengawali bedah rumah dengan menurunkan genteng di atap bersama Ketua DPRD Kota Yogyakarta, FX Wisnu Sabdono Putro.
Keduanya juga memberikan bantuan pribadi berupa masing-masing 20 sak semen. Hasto bahkan menyusuri rumah yang pengap dan nyaris runtuh itu.
Ia menyingkap terpal yang menutupi kebocoran, menatap lantai retak yang diselimuti lembab, dan mengelus dinding reot yang hanya terbuat dari bambu usang.
“Saya betul-betul kagum. Saya sering melihat gotong royong di Yogya, tapi yang bisa mengumpulkan Rp25 juta dari warga untuk bedah rumah—ini baru pertama kali. Ini murni dari rakyat untuk rakyat. Tidak pakai dana negara, tidak pakai APBD,” tegas Hasto dengan mata berkaca-kaca.
Hasto tak hanya menyoroti kehebatan solidaritas warga. Ia juga menyinggung tragedi pribadi keluarga Maryadi. Salah satu anak Maryadi, berusia 27 tahun, belum lama ini meninggal karena Leptospirosis.
Risiko Rumah Tak Layak
Ia menyebut rumah yang bocor, kotor, dan basah menjadi tempat ideal bagi penyebaran bakteri Leptospira yang berasal dari air kencing tikus.
“Ini bukan sekadar rumah rusak. Ini potensi bencana kesehatan. Leptospirosis bisa mematikan. Dan hari ini, gotong royong warga menyelamatkan satu keluarga dari ancaman itu,” ungkap Hasto dengan suara bergetar.
Ia juga menekankan bahwa banyak rumah tak layak huni di kota ini tidak bisa dibantu menggunakan APBD karena keterbatasan legalitas, seperti ketiadaan sertifikat tanah. Namun, gotong royong membuka jalan.
“Kalau pakai APBD, rumah seperti ini pasti tersendat. Tapi dengan gotong royong, kita bisa menyelesaikan bahkan yang secara administrasi sulit. Inilah kekuatan Segoro Amarto—Semangat Gotong Royong Agawe Majuning Kota Yogyakarta,” kata Hasto penuh semangat.
Ketua LPMK Ngampilan, Edy Haryono, membenarkan tantangan tersebut. Ia menyatakan Maryadi tinggal di rumah milik orang lain, yaitu Jadi Mulyono, sehingga status kepemilikan menjadi penghalang untuk menerima bantuan pemerintah. Karena itu, warga dan CSR lokal kompak bergerak.
“Kami sadar rumah Pak Maryadi sudah sering diusulkan ke Pemkot, tapi mentok di status tanah. Maka, kami berpikir jangan menunggu lagi. Apalagi beliau bekerja sebagai transporter sampah, dan baru kehilangan anak karena sakit. Hati kami tidak sanggup membiarkannya tinggal dalam kondisi begitu,” ungkap Edy sebagai Ketua Panitia Bedah Rumah.
Maryadi sendiri tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Di hadapan warga, ia berkali-kali menunduk dan mengucap syukur. Air matanya mengalir saat genteng pertama diturunkan oleh Wali Kota.
“Saya benar-benar tidak menyangka. Terima kasih sebanyak-banyaknya. Kepada seluruh warga Ngadiwinatan, kepada Pak Wali Kota dan Pak Ketua DPRD. Saya berharap rumah ini nanti jadi tempat yang nyaman buat keluarga saya. Anak saya bisa belajar tenang, tidak lagi ketakutan saat hujan turun,” ucap Maryadi lirih.
Kisah gotong royong warga Ngadiwinatan ini mengajarkan satu hal penting: bahwa ketika tangan saling menggenggam, gunung pun bisa dipindahkan.
Hari itu, mereka membuktikannya—satu rumah, satu keluarga, satu kehidupan berhasil mereka selamatkan. Semua berkat kekuatan solidaritas warga yang tak tergantikan. (ef linangkung)