
KabarJawa.com– Sebanyak 1.044 pelajar dari 37 sekolah di wilayah Sentolo, menerima menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sekitar 200 pelajar mengalami gejala keracunan makanan setelah menyantap hidangan tersebut.
Mereka mengeluhkan mual, muntah, sakit perut, dan diare hanya beberapa jam setelah konsumsi. Orang tua panik. Guru bergegas membawa siswa ke fasilitas kesehatan terdekat. Tenaga medis pun bekerja cepat menangani para korban.
Sebanyak 9 pasien menjalani perawatan di Klinik Pengasih Husada dan 7 pasien di RS Queen Latifa Sentolo. Sebagian besar siswa lainnya mendapat penanganan rawat jalan setelah kondisi mereka stabil.
Pemicu Keracunan MBG di Sentolo
Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat segera melakukan investigasi menyeluruh. Kepala Bidang yang menangani kasus tersebut, Susilaningsih, mengungkapkan hasil temuan laboratorium dan evaluasi lapangan.
Ia menyatakan telur kukus menjadi pemicu utama dugaan keracunan massal tersebut. Terlebih, proses memasak telur tersebut 12 am sebelum pembagian dan tak ada pemasakan ulang.
“Telur kukus dimasak 12 jam sebelum didistribusikan dan tidak dimasak ulang sebelum dikonsumsi,” ujar Susilaningsih.
Ia menjelaskan bahwa telur kukus menjadi kendaraan utama penyebaran bakteri karena proses penyimpanan berlangsung pada suhu ruang dalam waktu terlalu lama.
Padahal, makanan berprotein tinggi seperti telur sangat rentan terkontaminasi jika penyimpanan tidak berada dalam suhu aman.
Telur kukus juga menjadi menu yang paling banyak para pelajar konsumsi pada hari itu, sehingga tingkat paparan menjadi lebih luas.
Hasil pemeriksaan laboratorium tidak hanya menemukan persoalan pada telur kukus. Tim juga mendeteksi keberadaan bakteri Bacillus cereus pada nasi dan tempe, serta bakteri Staphylococcus aureus pada nasi dan tempe.
Menurut Susilaningsih, bakteri tersebut mudah berkembang pada makanan yang mengandung gula dan dalam kondisi tidak higienis.
Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa proses penyimpanan dan distribusi makanan tidak memenuhi standar keamanan pangan.
Penyimpanan dalam suhu ruang terlalu lama membuka peluang pertumbuhan bakteri secara masif sebelum makanan sampai ke tangan para siswa.
Dorongan Evaluasi Total dan Penerapan HACCP
Dinkes langsung mendorong pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari proses penyiapan bahan, pengolahan, hingga distribusi makanan.
Susilaningsih menekankan pentingnya penerapan sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) guna memastikan keamanan pangan di setiap titik kritis produksi.
Ia juga meminta pengelola SPPG untuk menggelar pelatihan rutin dan evaluasi berkala terhadap kepatuhan Prosedur Operasional Standar (SOP).
“Pelatihan dan evaluasi terhadap kepatuhan prosedur harus dilakukan secara berkala,” tegasnya.
Langkah ini menjadi krusial agar kejadian serupa tidak terulang, terutama karena program MBG menyasar ribuan pelajar setiap harinya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kulon Progo, Aini, mengaku belum menerima hasil resmi pemeriksaan dan rekomendasi dari Dinkes. Ia menyatakan pihaknya masih menunggu dokumen tersebut.
Di sisi lain, SPPG Kaliagung yang memproduksi dan mendistribusikan MBG di Sentolo langsung menghentikan operasional sementara.
Pengelola melakukan perbaikan infrastruktur dan evaluasi menyeluruh berdasarkan catatan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) dari Puskesmas dan Dinkes.
“Sampai saat ini SPPG Kaliagung belum beroperasi dan sedang dalam perbaikan fasilitas infrastruktur,” ujar Aini melalui pesan singkat.
Langkah penghentian operasional ini menunjukkan upaya pembenahan serius demi menjamin keamanan pangan bagi para siswa.
Program Makan Bergizi Gratis sejatinya hadir untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak dan mendukung tumbuh kembang generasi muda. Namun, kejadian ini mengingatkan semua pihak bahwa kita tidak boleh berkompromi pada keamanan pangan.
Di balik angka 200 pelajar yang bergejala, terdapat wajah-wajah anak yang sempat menahan sakit. Ada orang tua yang cemas menunggu di ruang perawatan. Ada guru yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan muridnya.
Kasus dugaan keracunan MBG di Sentolo menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan. Evaluasi menyeluruh, penerapan standar higienitas ketat, serta pengawasan berkelanjutan harus menjadi prioritas utama. (ef linangkung)