
KabarJawa.com– Senja baru saja berlalu di sebuah rumah kontrakan sederhana di Dusun Kedaton, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, Senin (1/6/2026).
Namun, tiba-tiba suara tangisan seorang anak kecil terus terdengar dari salah satu kamar kontrakan. Tangisan itu bukan sekali dua kali terdengar. Suaranya membuat tetangga sekitar mulai curiga.
Sekitar pukul 17.00 WIB, seorang tetangga bernama Abdul Baqir Zein Ikhsan melihat seorang perempuan berinisial TKS keluar dari rumah kontrakan seorang diri.
Satu jam kemudian, perempuan yang merupakan ibu kandung seorang anak perempuan berusia tiga tahun itu kembali ke kontrakan.
Terkuaknya Dugaan KDRT di Kontrakan Bantul
Tidak ada yang tampak mencurigakan saat itu. Namun, selepas Magrib, suara tangisan anak kecil terus terdengar dari dalam kamar kontrakan yang ditempati TKS. Tangisan itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya mengundang perhatian warga sekitar.
Abdul Baqir yang saat itu sedang membakar sate di depan kontrakan merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia mendengar tangisan tersebut berkali-kali dan tidak melihat aktivitas dari dalam kamar.
Malam semakin larut. Sekitar pukul 20.50 WIB, Abdul Baqir bersama pemilik sekaligus pengelola kontrakan, Muhamad Astrianto Sofi W, memutuskan mengecek kondisi penghuni kamar tersebut.
Keduanya mencoba memastikan keadaan dari luar. Namun, tidak ada respons yang mereka terima. Karena khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan, mereka kemudian berinisiatif memeriksa bagian dalam kamar dengan mencongkel jendela.
Apa yang mereka temukan membuat keduanya terkejut. Di dalam kamar, seorang anak perempuan berusia tiga tahun berinisial ACB terlihat dalam kondisi lemas. Bocah asal Gunungkidul itu tidak bisa bergerak bebas.
Mulut korban diduga tertutup menggunakan lakban plastik bening. Kedua tangannya mungkin juga terikat menggunakan lakban serupa. Sementara itu, kedua kakinya terikat dengan lakban bening dan selendang berwarna merah marun.
Kondisi itu membuat warga yang mengetahui kejadian tersebut langsung panik. Mereka segera berupaya memberikan pertolongan dan melaporkan temuan tersebut kepada aparat kepolisian.
Setelah menemukan kondisi korban yang memprihatinkan, pengelola kontrakan segera menghubungi Bhabinkamtibmas Kalurahan Pleret, Aiptu Rofiq Dwi Hartanto.
Personel gabungan dari Polsek Pleret yang dipimpin Ps Kanit Lantas Aiptu Kristinawanti bersama Ka SPKT III Aiptu Oki P segera mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan tempat kejadian perkara sekaligus memastikan kondisi korban.
Petugas kemudian melakukan serangkaian tindakan kepolisian guna mengungkap peristiwa yang mengarah pada dugaan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga tersebut. Korban selanjutnya mendapatkan penanganan dan perlindungan dari keluarga.
Keberadaan Korban
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ACB merupakan anak dari pasangan Ridho Fahriza dan TKS. Selama ini TKS tinggal di rumah kontrakan tersebut bersama anaknya, sementara suaminya bekerja di Jakarta.
Setelah kejadian terungkap, keluarga dari pihak ayah kandung korban segera mengambil langkah untuk memberikan perlindungan kepada bocah tersebut.
Saat ini korban berada dalam perawatan dan pengawasan keluarga ayah kandungnya. Korban diasuh oleh bibinya, Fitriani Isnaeni, warga Semoyo, Patuk, Gunungkidul. Kondisi korban terus menjadi perhatian keluarga dan aparat terkait guna memastikan pemulihan fisik maupun psikologis anak tersebut.
Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, membenarkan adanya penanganan kasus dugaan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di wilayah Pleret.
Polisi saat ini masih melakukan pendalaman terhadap seluruh fakta dan keterangan saksi guna mengungkap secara utuh rangkaian peristiwa yang terjadi.
Petugas juga telah mengumpulkan berbagai informasi dari lokasi kejadian serta meminta keterangan sejumlah pihak yang mengetahui peristiwa tersebut.
“Kasus tersebut saat ini masih dalam proses penanganan dan pendalaman oleh kepolisian,” ujar Iptu Rita Hidayanto.
Kasus yang menimpa bocah berusia tiga tahun ini menyisakan keprihatinan mendalam bagi warga sekitar. Tangisan biasa ternyata menjadi petunjuk penting yang menyelamatkan seorang anak dari kondisi yang diduga membahayakan keselamatannya.
Kepekaan warga yang tidak mengabaikan suara tangisan itu akhirnya membuka tabir sebuah peristiwa yang kini menjadi perhatian aparat penegak hukum.
Kini, publik menanti hasil penyelidikan kepolisian untuk mengungkap secara terang apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu di sebuah sudut permukiman di Pleret, Bantul. (ef linangkung)