
KabarJawa.com — Pemerintah Kota Yogyakarta terus mempercepat penanganan persoalan sampah dengan memperkuat pengelolaan dari hulu melalui program emberisasi.
Program ini mendorong masyarakat melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga, khususnya untuk sampah organik basah yang selama ini mendominasi komposisi sampah kota.
Pemkot Yogyakarta mengajak warga memilah sampah organik basah dan kering agar hanya sampah residu yang masuk ke depo. Langkah ini dinilai penting untuk menekan volume sampah yang harus diangkut dan diolah oleh pemerintah kota.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyatakan bahwa pengelolaan sampah organik menjadi kunci utama dalam menurunkan beban sistem persampahan. Menurut dia, sekitar 60 persen komposisi sampah kota merupakan sampah organik.
“Strateginya jelas, kami menurunkan volume sampah organik agar tidak lagi dibawa ke depo,” ujar Hasto saat ditemui di sela Musyawarah Kota Kadin Yogyakarta.
Ia menambahkan, apabila pengelolaan sampah organik dapat dilakukan secara optimal, maka hanya sekitar 40 persen sampah residu yang perlu ditangani oleh unit pengelolaan milik pemerintah kota.
Hasto mencontohkan capaian program emberisasi yang telah berjalan sejak tahun lalu. Pemkot Yogyakarta berhasil mengelola sekitar 1.000 ember atau setara 25 ton sampah organik basah per hari. Ke depan, pemerintah kota menargetkan peningkatan hingga 2.000 ember atau sekitar 50 ton per hari.
“Harapan saya, pengelolaan ini terus meningkat. Kami ingin menguasai pengelolaan sampah organik basah dan organik kering secara menyeluruh,” kata Hasto.
Selain sampah organik basah, Pemkot Yogyakarta juga menyiapkan skema pengelolaan sampah organik kering, seperti daun dan dahan, melalui sistem penjemputan langsung di wilayah.
Sampah tersebut kemudian diolah di unit pengolahan pupuk organik milik pemerintah kota, antara lain di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY), serta unit yang tengah disiapkan di Tegalrejo dan Tegalgendu.
Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Supriyanto, menjelaskan bahwa saat ini pengelolaan sampah organik basah telah mencapai rata-rata 1.100 ember per hari atau setara 27,5 ton.
Sampah organik basah tersebut disalurkan kepada 12 mitra offtaker dari kalangan peternak ayam, bebek, maggot, ikan, dan babi untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Sementara itu, sampah organik kering yang terdiri atas daun, sapuan jalan, dan tebangan pohon diangkut sekitar tiga truk per hari atau setara 7,5 ton.
“Seluruh wilayah sudah melaksanakan emberisasi sampah organik basah. Kami juga menetapkan 45 titik penjemputan dan membagikan ribuan ember kepada penggerobak di 45 kelurahan,” ujar Supriyanto, Senin (26/1/2026).
Para penggerobak mengambil sampah organik basah dari rumah tangga dan galon-galon bekas milik warga, sementara sampah organik kering dikumpulkan di tingkat kelurahan untuk kemudian dijemput petugas DLH.
DLH Kota Yogyakarta terus mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran memilah sampah dan menyediakan petugas pengawas pemilahan di setiap kelurahan.
Pemerintah kota berharap melalui perluasan program emberisasi, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan mitra dapat mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan lingkungan perkotaan yang lebih bersih serta sehat.