Delegasi 8 Negara Terkesima: Ikut Kenduri Laut di Pantai Pandansari, Jogja International Kite Festival 2025 jadi Panggung Budaya

Bagikan :
Delegasi dalam Jogja International Kite Festival (JIKF) 2025/Foto: ef linangkung

KABARJAWA – Peserta Jogja International Kite Festival (JIKF) 2025 dari delapan negara tak bisa menyembunyikan kekaguman mereka ketika mengikuti upacara adat Kenduri Laut di Pantai Pandansari, Gadingsari, Sanden, Bantul.

Rangkaian roadshow festival layang-layang internasional ini menghadirkan pengalaman budaya yang memikat hati para delegasi sejak mereka tiba di bibir pantai selatan Yogyakarta itu.

Delegasi 8 Negara

Panitia JIKF mengajak para delegasi menapaki pasir putih Pantai Pandansari yang terhampar luas di bawah matahari pagi. Angin sepoi-sepoi berembus lembut, menebarkan aroma khas laut selatan.

Mereka berdiri berjejer, menatap khidmat ketika warga Gadingsari menggelar ritual Kenduri Laut sebagai wujud syukur atas rezeki dan keselamatan nelayan.

Para peserta JIKF menatap kagum ketika bregodo mengawali prosesi dengan langkah gagah. Iringan gamelan mengalun syahdu, memanggil Tari Gambyong tampil anggun di depan tenda tamu kehormatan.

Mereka menatap tanpa berkedip saat perempuan penari menebar senyum lembut sambil menggoyangkan selendang hijau kuningnya.

Perwakilan panitia JIKF, RM Kukuh Hertriasning menegaskan bahwa pihaknya sengaja mengajak delegasi menyaksikan upacara tradisi Sedekah Laut. Hari ini para peserta mereka ajak menyaksikan Kenduri sedekah laut.

Baca juga  Ormas Award 2025: Pemkot Yogyakarta Tegaskan Ormas sebagai Agen Perubahan

“Mereka sangat antusias karena ini pengalaman yang unik. Budaya seperti ini akan mereka ceritakan saat kembali ke negara masing-masing,” katanya.

Ia menambahkan bahwa festival ini tidak sekadar menampilkan layangan dari berbagai negara, melainkan juga menjadi diplomasi budaya yang menghubungkan Indonesia dengan dunia.

“Ini menjadi bagian dari ekspedisi budaya kita. Kita tidak hanya menampilkan layangan, tapi juga memperkenalkan tradisi dan kehangatan masyarakat pesisir kita,” tegas cucu Sri Sultan HB VIII ini.

Sambutan Lurah Gadingsari

Sementara itu, Lurah Gadingsari, Widodo, menyambut gembira hadirnya JIKF di wilayahnya. Ia menyampaikan rasa syukur karena Pantai Pandansari mendapat kesempatan menjadi tuan rumah roadshow internasional ini.

“Kami punya tanggung jawab untuk terus melestarikan budaya Gadingsari. Terima kasih kepada panitia JIKF yang sudah membawa event ini ke sini. Ini momen perdana yang semoga bisa terus berlanjut setiap tahun di Pantai Pandansari,” ujarnya.

Widodo menegaskan bahwa meski saat ini Gadingsari belum memiliki lahan luas untuk menggelar atraksi layangan naga raksasa, ia optimistis pemerintah desa akan menyiapkan fasilitas lebih baik ke depannya.

Baca juga  Perubahan Pola Mobilitas Warga Menjadi Tantangan Besar Mewujudkan Transportasi Berkelanjutan di DIY

“Target kami tahun depan bisa menyiapkan lahan dua hektare. Sementara ini kami kenalkan potensi wisata Pandansari, Goa Cemara, dan konservasi penyu di sini,” tambahnya.

Para delegasi kemudian melanjutkan agenda dengan eksibisi latihan layang-layang di tepian pantai. Mereka menertawakan momen lucu saat layangan sempat terombang-ambing di angin kencang. Usai latihan, para tamu undangan diajak mencicipi kuliner khas pesisir seperti ikan bakar sambal kecap dan es kelapa muda segar.

Sorak kagum para tamu asing menggema ketika nelayan Gadingsari menunjukkan ritual pelepasan sesaji ke laut.

Mereka mengangkat ponsel, merekam setiap detail prosesi sambil saling berbisik dalam bahasa masing-masing. Beberapa di antaranya bahkan larut ketika doa keselamatan dilantunkan.

Jogja International Kite Festival 2025 membuktikan bahwa festival layang-layang bukan sekadar ajang hobi. Festival ini menjadi panggung internasional bagi kearifan lokal Bantul.

Budaya Gadingsari melambung tinggi bersama warna-warni layangan, menembus langit Indonesia hingga menancap di hati dunia. (ef linangkung)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid