
KABARJAWA – Pantai Parangkusumo, Bantul, bersiap menyambut ribuan mata yang menengadah ke langit.
Jogja International Kite Festival (JIKF) 2025 akan menggelar kegiatan berskala internasional pada 19-27 Juli 2025, menegaskan kejayaan budaya Nusantara di mata dunia.
Acara Spektakuler
Ketua Panitia JIKF 2025, Anang Saryanto, menegaskan pihaknya akan menampilkan festival layang-layang paling spektakuler sepanjang sejarah DIY.
“Kami menghidupkan Parangkusumo dengan layang-layang raksasa, 3 dimensi, hingga train. Kami menyiapkan road to JIKF sejak 19 Juli agar wisatawan betah berlama-lama di Yogyakarta,” tegas Anang.
Rundown Jogja International Kite Festival 2025
-
Sabtu, 19 Juli: Anak-Anak Menjadi Penerus Tradisi Layang-layang
Panitia membuka rangkaian festival dengan eksebisi di Rest Area Grogol, Paliyan, Gunungkidul. Peserta berangkat pukul 07.30 WIB.
Mereka menggelar tarian penyambutan, sambutan lurah Grogol, panitia, dan Dinas Pariwisata DIY/Gunungkidul.
Panitia mengajak peserta menyaksikan karawitan anak dan produksi tempe diiringi gejluk lesung.
Anak-anak belajar membuat sarang layang-layang sebelum mengikuti festival layang-layang anak dan eksebisi layang-layang internasional. Panitia membagikan hadiah sebelum peserta kembali ke penginapan pukul 18.30 WIB.
-
Minggu, 20 Juli: Menanam Pohon Endemik Langka
Panitia membawa rombongan ke Gedangsari, Karangmojo untuk menyelamatkan pohon endemik langka.
Pukul 09.30 WIB, pejabat, tokoh masyarakat, dan penerbang layang-layang internasional menanam pohon mewakili negaranya masing-masing. Panitia menggelar makan siang di Sego Berkat Tan Tlogo Bu Tiwi sebelum peserta kembali ke hotel.
-
Senin, 21 Juli: Layang-Layang Internasional Hiasi Pantai Krakal
Pukul 07.30 WIB, peserta berangkat menuju Pantai Krakal. Panitia menggelar penyambutan dan ramah tamah sebelum makan siang bersama.
Pukul 13.00 WIB, peserta menerbangkan layang-layang internasional, menorehkan warna-warni di langit selatan Gunungkidul. Malam harinya, panitia mengajak makan di Sego Berkat Tan Tlogo sebelum kembali ke penginapan.
-
Selasa, 22 Juli: City Tour
Panitia mengajak peserta city tour ke Kampung Batik Wukirsari pada pagi hari.
Setelah makan siang, peserta berbelanja oleh-oleh di Malioboro dan Pasar Beringharjo sebelum kembali ke penginapan sore hari. Panitia memastikan peserta mengenal kearifan lokal Yogyakarta.
-
Rabu-Kamis, 23-24 Juli: Kirab Warga di Pantai Pandansari
Peserta bergerak ke Pantai Pandansari, Bantul. Warga Wonoroto Pandansari menggelar kirab majemukan, pertunjukan seni, dan potensi desa.
Panitia menyiapkan makan siang dan eksebisi layang-layang internasional hingga sore hari sebelum peserta kembali ke penginapan.
-
Sabtu, 26 Juli: Opening Ceremony di Parangkusumo
Panitia membuka acara dengan defile pasukan bergodo, parade umbul-umbul pelayang internasional dan nasional, Tari Pambagyo, hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Gubernur DIY dan Menteri Pariwisata RI menyampaikan sambutan sebelum melakukan Umbul Dongo Larung Sesaji dan Sedekah Laut.
Panitia menggelar ceremony menaikkan layang-layang oleh Menteri Pariwisata RI, atraksi layang-layang dari Angkasa Satu, sport kite dari pelayang Bali, Lollipop Drop, Nyebar Udhik-Udhik Kite, dan Rokkaku Challenge peserta nasional.
Malam harinya, panitia menampilkan Night Flying dan Reggae Night Flying, menutup hari dengan lagu Bagimu Negeri dan Cinta Tanah Air.
-
Minggu, 27 Juli: Battle Train Dragon Penutup Festival
Panitia menutup festival dengan Battle Train Dragon pada Minggu, 27 Juli. Pukul 08.00 WIB, peserta mengikuti lomba layang-layang.
Mereka menampilkan barongsai, Train Naga with Barongsai, game, dorprize, dan Second Line Band. Panitia mengumumkan pemenang sebelum menutup acara pukul 16.05 WIB.
Anang Saryanto menegaskan festival ini mengukuhkan diplomasi budaya Indonesia melalui layang-layang. Panitia menghadirkan penerbang layang-layang dari 8 negara dan seluruh penjuru Nusantara.
“Kami ingin generasi muda mencintai layang-layang. Kami ingin Yogyakarta dikenal sebagai pusat layang-layang internasional,” tegas Anang.
Jogja International Kite Festival 2025 bukan sekadar festival. Layang-layang di langit Parangkusumo akan membawa pesan persatuan, kreativitas, dan kekuatan budaya Nusantara kepada dunia. (ef linangkung)