
KabarJawa.com – Hujan deras mengguyur wilayah Tancep, Kecamatan Ngawen, sejak Sabtu sekitar pukul 15.00 WIB. Intensitas hujan tinggi dan berlangsung lama, membasahi lereng-lereng pegunungan yang mengelilingi dusun warga.
Air yang semula hanya limpasan berubah menjadi arus deras. Dari bagian atas bukit, aliran membawa lumpur, batu, hingga batang pohon ke permukiman. Material tersebut menghantam rumah warga dan memenuhi halaman serta ruang dalam bangunan.
Lurah Tancep, Yulianto, menjelaskan wilayahnya memang berada di kawasan lereng pegunungan dengan tingkat kerawanan bencana cukup tinggi.
“Kemarin sore sekitar pukul 15.00 wilayah Tancep diguyur hujan sangat deras dan berlangsung cukup lama. Wilayah kita lereng pegunungan sehingga aliran air yang sangat deras membawa material dari atas diikuti air dan lumpur ke rumah warga,” ujar Yulianto.
Di satu titik lokasi, sedikitnya 13 rumah dan satu masjid terdampak. Lima rumah dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah, sementara lainnya dipenuhi lumpur serta material kayu yang terbawa arus.
Teriakan Subuh dan Kepanikan Warga
Sekitar pukul 04.00 WIB, saat sebagian warga masih beristirahat, suasana mendadak berubah. Teriakan terdengar dari luar rumah, membangunkan penghuni yang belum menyadari datangnya arus deras.
Kartini mengaku tidak menyangka peristiwa itu terjadi begitu cepat.
“Saya lagi di dalam rumah, anak saya di luar. Tiba-tiba dia teriak-teriak, bilang airnya seperti ini,” kata Kartini.
Ia segera keluar rumah sambil membawa peralatan dapur seadanya. Dari arah belakang rumah, ia melihat air turun deras membawa lumpur dan batu berukuran cukup besar.
“Saya lihat di belakang, turunnya lewat sana. Sudah lumpur, batu-batu banyak. Saya sudah tidak berani apa-apa. Tidak sempat tutup pintu, makanya lumpur masuk ke dalam rumah,” tuturnya.
Kartini memilih memastikan keselamatan anak-anaknya lebih dulu. Ia tidak sempat menyelamatkan barang-barang di dalam rumah.
“Alhamdulillah anak-anak selamat. Kami langsung mengungsi ke rumah bapak,” ujarnya.
Pada waktu hampir bersamaan, Fendi Muhammad Muslim menyaksikan arus air bercampur lumpur, batu, dan kayu menghantam sejumlah rumah sekitar pukul 04.30 WIB.
Ia mencatat setidaknya tiga rumah mengalami kerusakan paling parah. Pemilik rumah langsung mengungsi karena air masuk tanpa bisa dibendung.
Wilayah Rawan Sejak Lama
Yulianto mengingatkan bahwa wilayah Tancep telah lama masuk kategori rawan bencana. Ia merujuk peristiwa longsor besar pada 2011 yang sempat menelan korban jiwa.
“Wilayah kita dari geografis memang rawan. Tahun 2011 pernah terjadi longsor besar dan ada korban. Kalau kecil-kecil sudah sering, tapi potensi besar tetap ada,” tegasnya.
Sejak hujan deras belum reda pada sore hari, pemerintah desa telah mengimbau warga untuk bersiap mengungsi. Sejumlah keluarga yang tinggal di titik rawan memilih pindah sementara ke rumah kerabat.
Pemerintah desa juga terus memantau kondisi lapangan untuk mengantisipasi kemungkinan bencana susulan.

Dapur Umum Siapkan 300 Porsi Makanan
Di tengah kondisi darurat, warga bergerak cepat membentuk dapur umum. Suyanti, warga Sendangrejo, terlibat dalam pengelolaan logistik dan konsumsi.
“Kita langsung kumpul sesuai tugas masing-masing. Kalau bagian dapur umum, kita langsung mengondisikan tempat. Semua bantuan masuk ke dapur umum dulu,” ujarnya.
Relawan melakukan asesmen untuk menentukan titik terdampak paling mendesak. Distribusi logistik dilakukan secara terorganisir agar bantuan merata.
Sekitar 300 porsi makanan disiapkan untuk warga terdampak, termasuk untuk wilayah seberang yang juga mengalami dampak arus deras.
“Alhamdulillah untuk yang evakuasi di sini sementara sudah aman,” kata Suyanti.
Antara Ketakutan dan Keteguhan
Banjir bandang di Jono Tancep, Ngawen, meninggalkan lumpur dan kerusakan pada sejumlah rumah. Peristiwa ini juga memunculkan kembali ingatan warga terhadap bencana sebelumnya.
Meski demikian, warga berupaya bangkit. Sejumlah warga membersihkan lumpur dari rumah masing-masing. Bantuan logistik terus disalurkan. Pemerintah desa tetap siaga memantau perkembangan cuaca dan kondisi lereng.
Warga berharap cuaca kembali membaik dalam beberapa hari ke depan. Mereka menyadari tinggal di kawasan lereng pegunungan berarti berdampingan dengan potensi risiko. Namun koordinasi antarwarga dan dukungan relawan menjadi modal untuk menghadapi situasi darurat.