Bibit Siklon 92W Mengintai, Sleman dan Wilayah Utara DIY Berpotensi Hujan di Tengah Kemarau

Bagikan :
Potensi hujan lokal intensitas ringan mengintai wilayah Sleman, Kulon Progo, dan Gunungkidul bagian utara di tengah musim kemarau 2026. (KJ)

KabarJawa.com — Sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berpotensi diguyur hujan lokal berdurasi singkat di tengah periode musim kemarau yang sedang berlangsung.

Fenomena anomali ini dipicu oleh aktivitas Bibit Siklon Tropis 92W yang terpantau aktif di Samudera Pasifik utara Papua, sehingga mengacaukan dinamika atmosfer di selatan Jawa.

Kondisi tersebut membuat dinamika atmosfer di wilayah DIY mengalami perubahan. Akibatnya, beberapa kawasan yang seharusnya mulai memasuki periode kering justru berpotensi diguyur hujan, meskipun dengan intensitas ringan.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta, Feriomex Hutagalung, menjelaskan bahwa Bibit Siklon 92W secara tidak langsung menarik massa udara dan meningkatkan kelembapan di lapisan atas DIY.

Saat ini kelembapan udara pada ketinggian 1,5 hingga 3 kilometer berada di angka 50 sampai 90 persen, yang menjadi modal utama pembentukan awan hujan.

“Untuk potensi hujan masuk kategori ringan,” ujar Feri, Minggu (21/6/2026).

Wilayah Utara DIY Jadi Target Utama

BMKG memetakan kawasan utara dan perbukitan sebagai wilayah yang paling rawan terdampak hujan lokal ini. Karakteristik geografis pegunungan mempercepat pertumbuhan awan begitu mendapat pasokan udara lembap.

  • Sleman: Terutama wilayah lereng Gunung Merapi dan sekitarnya.

  • Kulon Progo: Kawasan perbukitan Menoreh bagian utara.

  • Gunungkidul: Zona utara yang berbatasan dengan Klaten dan Sukoharjo.

Baca juga  Kejari Gunungkidul Musnahkan Barang Bukti 15 Perkara Inkracht, Tegaskan Komitmen Penegakan Hukum tanpa Kompromi

Meski hanya berstatus hujan ringan, fenomena hujan yang muncul di tengah musim kemarau tetap menjadi perhatian.

Sebab, perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba dapat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan.

Tidak sedikit warga yang mulai menganggap musim kemarau sebagai periode aman dari hujan.

Padahal, kondisi atmosfer yang dinamis masih memungkinkan terjadinya hujan lokal dalam durasi singkat. Situasi seperti ini sering kali memunculkan cuaca yang berubah drastis dalam hitungan jam.

Pada pagi hingga siang hari, cuaca dapat terasa sangat panas dengan paparan sinar matahari yang kuat.

Namun menjelang sore, awan tebal dapat berkembang dan memicu hujan di beberapa titik. Perubahan cuaca yang kontras inilah yang perlu diantisipasi masyarakat.

Ancaman Ganda: Dehidrasi dan Jalan Licin

Selain mewaspadai peluang hujan lokal, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tetap memperhatikan dampak cuaca panas yang terjadi selama musim kemarau.

Suhu udara yang tinggi pada siang hari berpotensi menyebabkan tubuh kehilangan cairan dalam jumlah cukup besar.

Baca juga  Kantor Pertanahan Gunungkidul Sukses Tuntaskan 3.500 Sertifikat PTSL, Realisasi Capai 100 Persen
Waktu Kondisi Cuaca Nyata Risiko Dampak Publik Antisipasi Warga
Pagi – Siang Terik menyengat, radiasi UV tinggi Dehidrasi, kelelahan fisik Minum air putih berkala, batasi outdoor
Sore – Malam Mendung tebal, hujan lokal mendadak Jalan licin, jarak pandang turun Sediakan jas hujan di bagasi motor

BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh dengan memenuhi kebutuhan cairan harian serta mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak pada saat suhu udara berada pada puncaknya.

“Cukupi kebutuhan cairan tubuh serta batasi aktivitas luar ruangan yang tidak diperlukan,” pesan Feri.

Fenomena hujan lokal di tengah musim kemarau ini menjadi pengingat bahwa cuaca tidak selalu berjalan sesuai pola musim yang umum terjadi.

Pengaruh sistem cuaca berskala regional, seperti bibit siklon tropis 92W, mampu menciptakan perubahan atmosfer yang berdampak hingga ke wilayah DIY.

Masyarakat pun diharapkan terus memantau perkembangan informasi cuaca resmi dari BMKG agar dapat mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi.

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya