
KabarJawa.com — Rentetan gempa bumi yang kembali mengguncang wilayah Kabupaten Gunungkidul menyebabkan kerusakan serius pada bangunan Taman Budaya Gunungkidul.
Guncangan tersebut membuat tembok sisi timur bangunan terlepas dari pondasi, sementara plafon ruang pertunjukan di lantai dua kembali runtuh. Kondisi bangunan kini dinilai semakin mengkhawatirkan dan berpotensi membahayakan keselamatan.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningaih, mengatakan kerusakan ini bukan kali pertama terjadi. Menurut dia, plafon ruang pertunjukan sebelumnya juga pernah runtuh akibat gempa pada tahun lalu. Namun, gempa terbaru memperparah kondisi bangunan dan memperluas titik kerusakan.
“Gempa yang kemarin terjadi kembali berdampak pada Taman Budaya. Ruang-ruang terdampak cukup banyak, terutama di lantai dua pada ruang pertunjukan. Seperti tahun sebelumnya, plafon kembali rontok, tetapi kali ini efeknya jauh lebih luas,” ujar Endah.
Atap dan Penangkal Petir Ikut Rusak
Endah menjelaskan, kerusakan tidak hanya terjadi pada plafon, tetapi juga pada bagian atap bangunan. Sejumlah genteng di beberapa sudut dilaporkan bergeser dan berpotensi semakin parah saat musim hujan.
“Kalau genteng ini tidak segera diselesaikan, air pasti akan masuk ke dalam. Kondisi ini akan mengganggu instalasi listrik dan fasilitas lainnya,” katanya.
Selain itu, sistem pengamanan bangunan juga terdampak. Penangkal petir di kawasan Taman Budaya Gunungkidul dilaporkan tersambar atau bahkan patah akibat guncangan gempa, sehingga menambah risiko keselamatan.
Tembok Lepas dari Pondasi
Kerusakan terberat terjadi pada struktur tembok. Endah menyebut, tembok yang sejak sebelumnya sudah menjadi perhatian kini mengalami kerusakan struktural lebih parah.
Pondasi di sisi barat dilaporkan terbelah dan patah, sementara tembok sisi timur telah terlepas dari struktur utama bangunan.
“Kalau di sisi timur, tembok sudah lepas antara bagian timur dan barat. Ini yang semakin parah karena pondasi di sisi barat ikut terbelah dan patah,” ungkapnya.
Pemkab Lakukan Identifikasi Kerusakan
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul langsung mengambil langkah awal. Pada pagi hari setelah gempa, Bupati meminta Kepala Dinas Pekerjaan Umum menurunkan tim dari bidang Cipta Karya untuk melakukan identifikasi kerusakan.
Hasil identifikasi ini akan menjadi dasar perhitungan kebutuhan anggaran perbaikan sekaligus penentuan sumber pendanaan, apakah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Gunungkidul atau melalui skema berbagi dengan Dana Keistimewaan DIY.
“Nanti dari identifikasi kerusakan itu akan keluar angka kebutuhan perbaikan. Dari situ baru kita tentukan sumber anggarannya, apakah dari APBD atau sharing dengan Dana Keistimewaan,” jelas Endah.
Ia juga mengingatkan bahwa pada tahun sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama Gusti Kanjeng Ratu Hemas sempat meninjau langsung Taman Budaya Gunungkidul pascagempa. Saat itu, penanganan dilakukan melalui Paniradya Pati dan kawasan taman budaya sempat ditutup selama beberapa bulan.
“Waktu tahun lalu, Ngarso Dalem dan Gusti Ratu Hemas tindak mirsani kondisi gempa. Beliau langsung memerintahkan penanganan dari Paniradya Pati, sehingga beberapa bulan kawasan itu ditutup,” katanya.
Pengamanan Jadi Prioritas 2026
Untuk tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul memastikan penanganan kerusakan Taman Budaya menjadi prioritas. Endah menekankan pentingnya pengamanan segera, mengingat lokasi bangunan berbatasan langsung dengan area pertanian dan ruang terbuka.
Ia khawatir kerusakan yang tidak segera ditangani dapat membahayakan masyarakat sekitar sekaligus mengganggu fungsi kawasan sebagai pusat kegiatan seni dan budaya.
“Yang paling penting sekarang adalah pengamanan segera. Di luar sana itu area pertanian, dan kalau tidak segera kita amankan, ini bisa mengganggu dan membahayakan lingkungan sekitar serta keamanan Taman Budaya Gunungkidul,” pungkasnya.
Pemerintah daerah memastikan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah DIY dan instansi terkait agar proses perbaikan dapat berjalan cepat, tepat, dan berkelanjutan.