
KabarJawa.com– Pemerintah Kota Yogyakarta melaporkan bahwa angka prevalensi stunting pada Oktober 2025 turun menjadi 9,13 persen, setara dengan 873 balita pendek dan sangat pendek dari total 9.928 balita.
Pemerintah memperoleh data tersebut melalui penimbangan rutin dan pengukuran balita di Posyandu yang diverifikasi berjenjang mulai dari Puskesmas hingga Dinas Kesehatan.
Meski pencapaian ini menggembirakan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menegaskan bahwa tetap harus waspada.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Aan Iswanti, menegaskan pentingnya menjaga ritme kerja agar angka stunting tidak kembali naik. Sebab Wali Kota menargetkan satu digit, dan saat ini sudah tercapai.
“Meski tercapai Tapi kita tidak boleh ayem. Kita harus terus bekerja supaya angkanya tidak naik,” ujarnya
Fondasi Penurunan Angka Stunting
Aan menjelaskan bahwa pemerintah menjalankan dua strategi utama, yaitu intervensi sensitif dan intervensi spesifik.
Intervensi spesifik menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan dan mencakup berbagai langkah, seperti pemberian tablet tambah darah (TTD) untuk remaja putri, pemeriksaan kesehatan calon pengantin, serta pelayanan antenatal care (ANC) bagi ibu hamil.
Pemeriksaan ANC meliputi hal-hal berikut.
- Pemeriksaan fisik menyeluruh
- Cek darah dan urin
- Pemeriksaan USG dua kali
- Layanan terintegrasi seperti konseling gizi, psikologi, imunisasi TT, pemberian zat besi, dan skrining triple eliminasi (HIV, Sifilis, Hepatitis B)
Ibu hamil wajib melakukan minimal enam kali kunjungan selama masa kehamilan.
“Remaja putri kami berikan tablet tambah darah supaya tidak anemia, sehingga nanti ketika menikah dan hamil, mereka sudah dalam kondisi betul-betul siap. Ibu hamil pun harus menjalani enam kali ANC, mulai dari pemeriksaan gigi, psikologis, hingga hemoglobin,” bebernya.
Ketika petugas menemukan balita atau ibu hamil dengan kekurangan gizi, pemerintah segera memberikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
Dana bantuan berasal dari BOK Kemenkes maupun Dana Keistimewaan agar penanganan bisa berjalan menyeluruh dan berkelanjutan.
Di balik angka stunting yang membaik, muncul tantangan baru berupa menurunnya tingkat keaktifan penimbangan balita.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi, Iswari Paramita, mengungkapkan bahwa kehadiran balita dalam kegiatan penimbangan sempat mencapai 100 persen pada Agustus–September.
Namun, pada Oktober 2025, angkanya turun menjadi 96,35 persen, atau 9.566 balita hadir dari total 9.928 sasaran.
Ia menjelaskan bahwa penyebab ketidakhadiran cukup beragam. Beberapa kemungkinan itu bisa terjadi karena saat jadwal buka Posyandu anak dan orang tuanya tidak berada di tempat, tapi ada juga yang ketiduran.
“Padahal jumlah yang tidak hadir itu sebenarnya sedikit jika dibagi dengan 622 Posyandu, rata-rata hanya lima anak,” jelasnya.
Paramita menegaskan bahwa faktor lingkungan memegang peran sangat besar, bahkan mencapai 70 persen dalam memengaruhi tumbuh kembang anak.
Ia mencontohkan kejadian balita yang mengonsumsi air terkontaminasi bakteri E. coli sehingga mengalami diare berulang.
“Kalau anak sering diare, makan sebanyak apa pun berat badannya tidak naik. Kalau berat badan tidak naik, tinggi badan juga tidak naik. Ini seperti efek domino,” terangnya.
Anemia Remaja Putri
Selain balita, pemerintah juga menyoroti anemia pada remaja putri yang berisiko meningkatkan angka stunting. Kota Yogyakarta masih mengacu pada angka anemia 25,6 persen berdasarkan pengukuran Juli 2024–Juni 2025.
Paramita mengingatkan agar remaja putri membatasi konsumsi minuman seperti kopi, teh, dan minuman berkarbonasi karena dapat menghambat penyerapan zat besi.
Meski Anemia itu bukan keturunan, tetapi soal cadangan zat besi.
“Kalau minum tablet tambah darah tapi pola makannya tidak bagus, ya sama saja. Protein hewani minimal dua kali sehari, nabati tiga kali sehari. Kalau makan tempe, ukuran potongan tipis dua potong sekali makan,” jelasnya.
Menutup penjelasannya, Paramita memastikan bahwa seluruh program pencegahan dan penanganan stunting akan diperkuat pada 2026.
Pemerintah akan melakukan pendekatan promotif dan preventif secara menyeluruh, mulai dari remaja putri, ibu hamil, hingga balita.
“Kita lakukan terpadu dari remaja, ibu hamil, sampai balita. Semua harus berjalan bersamaan,” tegasnya.
Dengan terus memperkuat program dan meningkatkan partisipasi masyarakat, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap angka stunting dapat terus ditekan dan kualitas generasi masa depan semakin membaik. (ef linangkung)