
KabarJawa.com – Leadership Day 2025 yang digelar di Gedung Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (11/11/2025), menjadi ruang refleksi bagi para pemimpin lintas bidang untuk meninjau ulang makna sejati kepemimpinan di tengah ketidakpastian global, krisis lingkungan, dan percepatan revolusi digital.
Forum ini menegaskan pesan penting bahwa di masa kini kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan kemampuan untuk menggerakkan perubahan nyata.
Kepemimpinan sebagai Alat Transformasi, Bukan Sekadar Posisi
Ketua Keluarga Alumni Magister dan Doktor Kepemimpinan dan Inovasi (Kapimgama), Mayjen TNI (Purn) Hassanudin, menegaskan bahwa kepemimpinan tidak boleh dipersempit sebagai posisi struktural.
“Kepemimpinan tidak hanya bicara tentang posisi, tapi berkaitan dengan tindakan yang lebih dari sekadar aktivitas dalam organisasi. Sejatinya, kepemimpinan harus melakukan perubahan,” ujarnya.
Menurutnya, seorang pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menghadirkan perubahan melalui tindakan nyata, bukan sekadar perintah atau kebijakan. Kepemimpinan, dalam konteks ini, menjadi alat transformasi yang mampu menggerakkan masyarakat menuju masa depan yang lebih baik.
Di tengah dunia yang semakin kompleks, tiga tantangan besar kini membayangi kepemimpinan global diantaranya ketidakpastian global, tekanan ekonomi, dan percepatan transformasi digital.
Ketidakpastian menjadi faktor pertama yang kian mencolok.
Berdasarkan laporan konsultan internasional di bidang sumber daya manusia, sekitar 42 persen pemimpin dunia mengakui bahwa isu-isu masa kini semakin sulit diprediksi. Kondisi tersebut turut tercermin dalam penyesuaian proyeksi ekonomi global oleh IMF.
Dalam menghadapi situasi ini, Hassanudin menekankan pentingnya pemimpin untuk
“tetap mendapatkan informasi, membuat rencana, memantau, dan terbuka terhadap perubahan.”
Tantangan kedua adalah tekanan ekonomi. Data menunjukkan bahwa 52 persen pemimpin global khawatir terhadap ancaman resesi dan inflasi, sementara 73 persen masyarakat dunia merasa cemas terhadap kenaikan harga.
Indonesia sendiri masih berupaya menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,2 persen, salah satunya lewat investasi hijau dan pemerataan ekonomi.
“Peran kepemimpinan di semua level sangat penting dalam menghadapi hal ini, tidak hanya pada kebijakan fiskal dan moneter, tetapi juga dalam upaya menurunkan kesenjangan ekonomi,” tambah Hassanudin.
Sementara tantangan ketiga datang dari transformasi digital dan adopsi kecerdasan buatan (AI). Banyak pelaku usaha kecil dan menengah merasa tertinggal dari perusahaan besar yang lebih cepat beradaptasi.
Di sinilah peran pemimpin dalam memastikan pemanfaatan teknologi menjadi strategi utama agar bisnis dan masyarakat tetap kompetitif.
Harapan untuk Para Pemimpin Muda
Momentum Leadership Day 2025 juga menjadi ajakan reflektif bagi pemimpin muda agar mampu mengubah ketidakpastian menjadi peluang. Hassanudin mengingatkan,
“Pemimpin masa depan harus berani bermimpi, mendorong perubahan, mengembangkan kemampuan, dan memberi inspirasi,” ungkap Hassanudin.
Pesan ini sejalan dengan pandangan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Wening Udasmoro, yang menekankan pentingnya kepemimpinan yang adaptif dan berdaya di tengah percepatan global.
“Kita membutuhkan model kepemimpinan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga adaptif, kolaboratif, dan berdaya,” ungkap Wening.
Sementara itu, Dekan Sekolah Pascasarjana UGM, Siti Malkhamah, menambahkan bahwa kepemimpinan sejati berawal dari diri sendiri.
“Kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri, bagaimana kita bisa memimpin diri untuk hidup lebih bahagia,” ujarnya.
Ia berharap Leadership Day tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang menginspirasi kolaborasi lintas generasi menuju Indonesia Emas 2045. (bfn)