
KabarJawa.com – Kasus dugaan pengabaian anak di Daycare Little Aresha Kota Yogyakarta memasuki babak baru. Hasil skrining kesehatan dan tumbuh kembang yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menemukan sejumlah anak mengalami gangguan gizi hingga penyimpangan perkembangan.
Temuan itu muncul setelah pemerintah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap mantan peserta daycare tersebut selama akhir April hingga awal Mei 2026.
Sebanyak 149 anak menjalani skrining pertumbuhan. Hasilnya, 18 anak ditemukan mengalami masalah gizi dalam kategori berat badan kurang dan gizi kurang.
Tidak hanya itu, pemeriksaan perkembangan terhadap 153 anak juga menunjukkan hasil yang mengkhawatirkan. Sebanyak 12 anak mengalami penyimpangan perkembangan, sementara 19 anak lainnya masuk kategori perkembangan meragukan.
Kondisi tersebut membuat kasus Daycare Little Aresha kini tidak hanya menjadi persoalan pengasuhan anak, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan dan perlindungan tumbuh kembang balita.
Pemeriksaan Dilakukan Dua Tahap
Skrining dilakukan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta bersama puskesmas, UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), DP3AP2KB, Ikatan Psikolog Klinis (IPK) DIY, dan Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi).
Pemeriksaan berlangsung dalam dua tahap, yakni 28–30 April 2026 dan dilanjutkan 4–8 Mei 2026.
Lokasi pemeriksaan dipusatkan di UPT PPA Kota Yogyakarta.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta drg. Aan Iswanti mengatakan skrining dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan fisik dan perkembangan psikologis anak-anak terdampak.
“Kami melakukan pemantauan secara menyeluruh agar kondisi kesehatan dan tumbuh kembang anak dapat diketahui sejak dini, sehingga penanganan yang tepat bisa segera diberikan sesuai kebutuhan masing-masing anak,” ujar Aan Iswanti.
Selama pemeriksaan berlangsung, sejumlah orang tua terlihat datang membawa dokumen kesehatan anak dan berdiskusi cukup lama dengan petugas pendamping. Beberapa di antaranya tampak menunggu giliran pemeriksaan sejak pagi.
Gangguan Tidak Hanya Fisik
Dalam pemeriksaan tersebut, tim nutrisionis puskesmas melakukan pengukuran antropometri untuk memeriksa status gizi anak.
Sementara itu, psikolog klinis melakukan skrining perkembangan menggunakan pedoman Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK).
Data hasil skrining menunjukkan persoalan yang dialami anak-anak tidak hanya menyangkut kondisi fisik.
Sebagian anak juga mengalami gangguan pada aspek perkembangan sesuai usia mereka.
Berikut hasil skrining perkembangan anak:
| Hasil Pemeriksaan | Jumlah Anak |
|---|---|
| Perkembangan normal | 122 anak |
| Penyimpangan perkembangan | 12 anak |
| Perkembangan meragukan | 19 anak |
Temuan ini membuat pemerintah langsung menyiapkan langkah intervensi lanjutan.
Anak Dirujuk ke Puskesmas
Sebanyak 18 anak yang mengalami masalah gizi kini dirujuk ke puskesmas untuk menjalani validasi status gizi oleh Tim Asuhan Gizi Puskesmas.
Hingga pembaruan terbaru, sembilan anak telah menjalani pemeriksaan lanjutan.
Sementara itu, anak-anak dengan penyimpangan perkembangan maupun kategori meragukan juga mulai menjalani pemeriksaan lebih mendalam di fasilitas kesehatan.
Pemerintah mencatat sembilan anak telah mendapatkan tindak lanjut pemeriksaan perkembangan.
Tidak hanya anak, para orang tua juga mendapat pendampingan psikologis dari UPT PPA dan Ikatan Psikolog Klinis DIY.
Pendampingan tersebut dilakukan untuk membantu keluarga memahami kondisi anak sekaligus memberikan dukungan emosional selama proses pemulihan.
Orang Tua Diminta Aktif Memantau Anak
Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menegaskan pendampingan terhadap anak-anak korban Daycare Little Aresha akan terus dilakukan secara bertahap.
Pemerintah juga meminta orang tua lebih aktif memantau kondisi fisik, emosional, dan perkembangan anak setelah kasus ini mencuat.
Jika ditemukan tanda-tanda keterlambatan tumbuh kembang, gangguan perilaku, perubahan pola makan, atau penurunan kondisi kesehatan, orang tua diminta segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Kasus Daycare Little Aresha kini menjadi perhatian serius di Kota Yogyakarta karena menyangkut perlindungan anak pada masa pertumbuhan awal.
Di balik angka hasil skrining tersebut, tersimpan kekhawatiran banyak keluarga yang kini berupaya memulihkan kondisi anak-anak mereka setelah keluar dari daycare tersebut.