
KabarJawa.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dalam dua bulan terakhir mulai berdampak pada layanan publik di Kabupaten Gunungkidul.
Salah satu yang paling terasa adalah pengurangan operasional bus sekolah gratis milik Pemerintah Kabupaten Gunungkidul yang kini hanya melayani pemberangkatan siswa pada pagi hari.
Layanan penjemputan pulang sekolah sementara dihentikan sejak awal Mei 2026 setelah biaya operasional armada meningkat tajam akibat penyesuaian harga BBM non-subsidi jenis Pertamina Dex.
Kebijakan itu langsung dirasakan pelajar dari wilayah pinggiran yang setiap hari bergantung pada bus sekolah menuju Kota Wonosari. Beberapa siswa kini harus dijemput keluarga, mencari angkutan umum, atau berbagi tumpangan dengan teman sepulang sekolah.
Di sejumlah titik pemberhentian, suasana siang hari mulai berubah. Jika biasanya bus sekolah masih menunggu siswa pulang, kini banyak pelajar terlihat berdiri di tepi jalan sambil menunggu jemputan atau kendaraan umum.
Operasional Bus Tertekan Kenaikan BBM
Kepala Bidang Angkutan dan Terminal Dinas Perhubungan Gunungkidul, Sigit Wijayanto, mengatakan seluruh armada bus sekolah menggunakan BBM non-subsidi. Saat ini terdapat tujuh armada yang melayani antar-jemput siswa dari berbagai kapanewon menuju sekolah di Wonosari.
Menurutnya, kenaikan harga BBM pada April 2026 langsung memengaruhi anggaran operasional yang sebelumnya sudah dihitung sejak awal tahun.
“Hasil evaluasi menunjukkan anggaran operasional yang tersedia awalnya hanya diperkirakan mampu bertahan sampai akhir Juni 2026,” kata Sigit.
Tekanan anggaran kembali bertambah setelah pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi pada 4 Mei 2026. Kenaikan kedua membuat biaya operasional harian bus meningkat di luar proyeksi awal.
Dishub akhirnya memilih langkah efisiensi agar layanan tidak berhenti total.
“Mulai 4 Mei layanan hanya difokuskan untuk pemberangkatan siswa ke sekolah pada pagi hari, sedangkan layanan penjemputan pulang sekolah sementara tidak dilakukan, kecuali pada rute Semin–Wonosari,” ujar Sigit.
Orang Tua Mulai Mengatur Ulang Biaya Transportasi
Bagi banyak keluarga di Gunungkidul, bus sekolah gratis selama ini bukan sekadar fasilitas tambahan. Program itu menjadi penopang utama akses pendidikan, terutama untuk siswa yang tinggal jauh dari pusat kota.
Setiap pagi, bus sekolah mengangkut pelajar dari sejumlah kapanewon menuju sekolah-sekolah di Wonosari. Kehadiran layanan gratis juga membantu menekan penggunaan sepeda motor oleh pelajar dan mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas.
Kini situasinya berubah. Beberapa orang tua mulai mengatur ulang pengeluaran harian untuk biaya penjemputan anak. Ada yang bergantian menjemput bersama tetangga, ada pula yang memilih memberi tambahan uang transportasi harian.
Di media sosial lokal, keluhan soal sulitnya mencari kendaraan pulang sekolah juga mulai bermunculan, terutama dari siswa yang tinggal di wilayah cukup jauh dari pusat kota.
Trayek Semin–Wonosari Masih Beroperasi Normal
Dishub Gunungkidul masih mempertahankan layanan antar-pulang sekolah pada trayek Semin–Wonosari. Jalur itu dinilai memiliki kebutuhan pelajar yang tinggi dengan jarak tempuh cukup panjang.
Pemerintah daerah mengaku terus memantau perkembangan harga BBM dan menghitung kembali kemampuan anggaran operasional untuk beberapa bulan ke depan.
Pengurangan layanan bus sekolah ini menjadi gambaran langsung efek domino kenaikan harga BBM terhadap pelayanan publik daerah.
Ketika biaya operasional melonjak, pemerintah daerah dipaksa melakukan penyesuaian agar program prioritas tetap berjalan.