
KabarJawa.com– Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang intens pada Rabu, 20 Mei 2026. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat awan panas guguran meluncur sejauh 1.500 meter ke arah barat atau hulu Kali Sat/Putih pada pukul 16.19 WIB.
Peristiwa tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 7,01 milimeter dan durasi mencapai 143,56 detik.
Gunung api paling aktif di Indonesia tersebut masih berada pada Level III atau Siaga. Di tengah kondisi cuaca yang berubah cepat, guguran lava dan awan panas berpotensi terjadi sewaktu-waktu.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menegaskan bahwa masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi seluruh rekomendasi resmi dari otoritas vulkanologi.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi ini dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” ujar Agus.
Awan Panas Merapi
Sore itu, suasana di sekitar lereng Gunung Merapi berubah tegang. Kepulan material panas meluncur cepat dari puncak menuju sektor barat daya.
Awan panas guguran membawa campuran gas vulkanik, abu, batu pijar, dan material panas yang meluncur mengikuti lembah sungai berhulu di Merapi.
Petugas pemantau segera merekam aktivitas tersebut melalui sistem pemantauan visual dan seismik BPPTKG. Dalam hitungan menit, laporan resmi diterbitkan untuk mengingatkan warga agar tidak mendekati kawasan rawan bencana.
Berdasarkan laporan MAGMA-VAR periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, aktivitas Merapi sepanjang hari memang menunjukkan peningkatan dinamika vulkanik.
Petugas mencatat sebanyak 27 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 40 milimeter dan durasi 50,96 sampai 229,84 detik.
Selain itu, BPPTKG juga mendeteksi 16 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 2 hingga 26 milimeter. Jenis gempa ini sering berkaitan dengan pergerakan magma di dalam tubuh gunung api.
Lava Gugur hingga Dua Kilometer
Tidak hanya awan panas guguran, petugas juga mengamati empat kali guguran lava pijar ke arah barat daya melalui Kali Sat/Putih dan Kali Krasak. Jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Secara visual, Gunung Merapi tampak jelas meski sempat tertutup kabut tipis hingga sedang. Asap kawah berwarna putih terlihat keluar dari puncak dengan intensitas tebal dan tinggi sekitar 25 meter di atas kawah.
Cuaca di kawasan Merapi terpantau cerah hingga mendung dengan suhu udara berkisar 23,6 hingga 26,8 derajat Celsius. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat.
Meski kondisi cuaca relatif stabil, BPPTKG tetap meminta masyarakat mewaspadai ancaman lahar hujan, terutama ketika hujan turun di sekitar puncak gunung.
BPPTKG kembali menegaskan bahwa potensi bahaya Gunung Merapi masih berada di sektor selatan dan barat daya.
Wilayah yang berpotensi terdampak guguran lava dan awan panas meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga radius 7 kilometer.
Sementara itu, sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer dari puncak.
Selain ancaman guguran dan awan panas, material vulkanik juga berpotensi terlontar hingga radius 3 kilometer apabila terjadi letusan eksplosif.
Agus Budi Santosa meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya. Ia juga mengimbau warga agar tidak beraktivitas di alur sungai berhulu Merapi karena ancaman lahar dan awan panas dapat meningkat sewaktu-waktu.
“Kami meminta masyarakat tetap tenang, tetapi tidak lengah. Semua rekomendasi harus dipatuhi demi keselamatan bersama,” katanya.
Aktivitas Magma Masih Berlangsung
Hingga saat ini, BPPTKG memastikan suplai magma ke tubuh Gunung Merapi masih terus berlangsung. Kondisi tersebut menjadi faktor utama yang memicu terjadinya guguran lava maupun awan panas guguran.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa tekanan di dalam gunung belum sepenuhnya stabil. Karena itu, BPPTKG terus memperkuat pemantauan visual, deformasi, kegempaan, dan gas vulkanik selama 24 jam penuh.
Masyarakat juga perlu mengantisipasi dampak abu vulkanik yang sewaktu-waktu dapat mengganggu aktivitas harian, kesehatan, hingga transportasi.
Jika terjadi perubahan signifikan pada aktivitas Merapi, BPPTKG menyatakan akan segera meninjau kembali tingkat aktivitas gunung tersebut.
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk mengikuti informasi resmi dari BPPTKG, PVMBG, dan Badan Geologi. Informasi terkini mengenai aktivitas Gunung Merapi dapat dipantau melalui BPPTKG dan PVMBG. (ef linangkung)