
KabarJawa.com — Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik berupa awan panas guguran pada Jumat (29/5/2026) sore. Peristiwa tersebut mendorong peningkatan kewaspadaan masyarakat di wilayah lereng Merapi, terutama pada sektor selatan dan barat daya.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan awan panas guguran terjadi pada pukul 15.03 WIB. Berdasarkan data pemantauan, kejadian itu terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 72,14 milimeter dan durasi 101,12 detik.
Kondisi cuaca yang berkabut menyebabkan petugas tidak dapat mengamati secara visual arah luncuran awan panas tersebut. Puncak Merapi tertutup kabut tebal saat kejadian berlangsung.
Meski demikian, suara gemuruh dilaporkan terdengar dari sejumlah wilayah lereng gunung. Sejumlah warga yang beraktivitas di lahan pertanian memilih mengakhiri kegiatan lebih awal sambil memantau informasi resmi dari BPPTKG dan jaringan relawan.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, mengatakan aktivitas tersebut menunjukkan suplai magma ke tubuh Gunung Merapi masih berlangsung.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi ini dapat memicu terjadinya awan panas guguran di daerah potensi bahaya,” kata Agus Budi Santosa.
Menurut Agus, status aktivitas Gunung Merapi hingga saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut menunjukkan aktivitas vulkanik masih relatif tinggi dan berpotensi memunculkan guguran lava maupun awan panas.
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bencana yang telah ditetapkan dalam rekomendasi resmi.
Dalam periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, aktivitas kegempaan Merapi masih didominasi gempa guguran dan gempa hybrid atau fase banyak.
Petugas mencatat 27 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 14 milimeter dan durasi 57,41 hingga 162,45 detik. Selain itu, tercatat 24 kali gempa hybrid dengan amplitudo antara 2 hingga 33 milimeter.
Aktivitas tersebut menunjukkan masih adanya pergerakan material magma di dalam tubuh gunung.
Potensi Bahaya Masih Mengancam Sejumlah Alur Sungai
Selama beberapa hari terakhir, kawasan puncak Merapi didominasi cuaca mendung dan kabut tebal. Berdasarkan pengamatan meteorologi, suhu udara berkisar antara 19,5 hingga 25 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan lebih dari 95 persen.
Kabut yang menutupi puncak menyebabkan asap kawah tidak dapat diamati secara visual. Namun, kondisi tersebut tidak dapat dijadikan indikator penurunan aktivitas vulkanik karena pemantauan tetap menunjukkan aktivitas internal gunung masih berlangsung.
BPPTKG memetakan potensi bahaya guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya yang meliputi alur Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer dari puncak.
Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya berada di alur Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol sejauh lima kilometer dari puncak Merapi.
Selain ancaman awan panas guguran, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi lahar hujan seiring meningkatnya intensitas hujan di kawasan Merapi dalam beberapa hari terakhir.
Material vulkanik yang masih tersimpan di lereng dan puncak gunung berpotensi terbawa aliran air hujan melalui sungai-sungai yang berhulu di Merapi.
Agus Budi Santosa meminta masyarakat tetap mengikuti informasi resmi yang dikeluarkan BPPTKG maupun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi serta tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
“Kami meminta masyarakat mematuhi seluruh rekomendasi resmi dan menjauhi daerah bahaya serta alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi,” ujarnya.
Hingga Jumat petang, aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah lereng Merapi masih berlangsung normal.
Namun, relawan, aparat desa, dan petugas pemantauan terus meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan aktivitas vulkanik.