
KabarJawa.com– Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi sepanjang periode pengamatan 15–21 Mei 2026.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat peningkatan intensitas kegempaan, munculnya awan panas guguran, hingga ratusan guguran lava. Kondisi tersebut membuat status Gunung Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menegaskan aktivitas vulkanik Merapi masih didominasi erupsi efusif yang berpotensi memicu guguran lava dan awan panas di kawasan rawan bencana.
Aktivitas Gunung Merapi
Sejak pagi, puncak Merapi tampak beberapa kali menyemburkan asap putih dengan intensitas tipis hingga tebal. Asap keluar dengan tekanan lemah dan mencapai ketinggian antara 10 meter hingga 400 meter dari puncak gunung.
Cuaca cerah yang muncul pada pagi dan malam hari membuat aktivitas gunung api paling aktif di Indonesia itu terlihat jelas dari sejumlah titik pengamatan.
Namun, suasana berubah drastis ketika kabut turun pada siang hingga sore hari. Dari balik kabut tersebut, BPPTKG merekam empat kali awan panas guguran yang meluncur sejauh maksimal dua kilometer ke arah hulu Kali Sat/Putih.
Dentuman guguran dan luncuran material panas kembali mengingatkan warga bahwa Merapi masih menyimpan energi besar di dalam perut bumi.
Tak hanya awan panas guguran, aktivitas lava pijar juga masih mendominasi. Dalam sepekan terakhir, petugas mencatat enam kali guguran lava ke arah Kali Boyong sejauh dua kilometer.
Sementara itu, guguran lava ke arah Kali Krasak mencapai 81 kali dengan jarak luncur maksimal dua kilometer.
Aktivitas serupa juga terjadi di Kali Bebeng sebanyak 16 kali. Sedangkan sektor Kali Sat/Putih menjadi jalur paling aktif dengan 80 kali guguran lava dan jarak luncur mencapai 2,5 kilometer.
Di tengah tingginya aktivitas tersebut, BPPTKG juga mengamati perubahan morfologi kubah lava di puncak Merapi.
Analisis dari kamera pemantau Deles5 dan Babadan2 menunjukkan adanya sedikit perubahan pada Kubah Barat Daya akibat aktivitas guguran lava yang terus berlangsung.
Sementara itu, Kubah Tengah masih terpantau stabil tanpa perubahan morfologi yang signifikan. Berdasarkan analisis foto udara pada 7 Mei 2026, volume Kubah Barat Daya tercatat mencapai 4.026.700 meter kubik. Adapun volume Kubah Tengah mencapai 2.368.800 meter kubik.
Peningkatan Aktivitas
Peningkatan aktivitas Merapi juga tercermin dari data kegempaan. Dalam periode pengamatan tersebut, jaringan seismik merekam empat gempa awan panas guguran, sembilan gempa vulkanik dangkal, 440 gempa fase banyak, 966 gempa guguran, dan 11 gempa tektonik.
Jumlah itu menunjukkan intensitas kegempaan Merapi meningkat. Kondisi tersebut menandakan suplai magma dari dalam tubuh gunung masih terus berlangsung.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” kata Agus Budi Santosa.
Meski aktivitas vulkanik meningkat, hasil pemantauan deformasi menggunakan EDM dan GPS belum menunjukkan perubahan signifikan pada tubuh Gunung Merapi.
Pengukuran jarak EDM sektor barat laut dari titik BAB0 menuju reflektor RB2 berada pada kisaran 3.840,085 meter hingga 3.840,100 meter.
Sementara itu, baseline GPS Labuhan–Jrakah terukur stabil pada kisaran 7.108,13 meter. Data tersebut mengindikasikan belum terjadi deformasi besar yang mengarah pada letusan eksplosif dalam waktu dekat.
Di sisi lain, ancaman bahaya sekunder juga mulai menjadi perhatian. Hujan dengan intensitas cukup tinggi beberapa kali mengguyur kawasan Merapi selama pekan ini.
Curah hujan tertinggi terjadi pada 21 Mei 2026 di Pos Kaliurang dengan intensitas mencapai 36,46 mm per jam selama 48 menit.
Meski belum ada laporan aliran lahar di sungai-sungai berhulu Merapi, BPPTKG meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi banjir lahar hujan, terutama ketika hujan deras mengguyur puncak gunung.
BPPTKG memperkirakan potensi bahaya saat ini masih berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya.
Ancaman tersebut meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer.
Sementara itu, sektor tenggara mencakup Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol sejauh lima kilometer.
Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.
BPPTKG meminta pemerintah daerah di Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten meningkatkan langkah mitigasi bencana.
Hingga kini, Gunung Merapi masih menjadi salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Aktivitasnya yang terus bergerak dinamis membuat petugas pemantau bekerja tanpa henti selama 24 jam untuk memastikan keselamatan masyarakat di kawasan rawan bencana. (ef linangkung)