
KabarJawa.com — Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mulai memasuki tahap lelang pembangunan kawasan konservasi burung Aviary di Kapanewon Purwosari.
Proyek yang dibiayai melalui Dana Keistimewaan DIY tersebut memiliki pagu anggaran lebih dari Rp5 miliar dan ditargetkan mulai dikerjakan pada Juli 2026.
Kawasan ini diproyeksikan menjadi pusat konservasi satwa, penelitian, edukasi lingkungan, sekaligus destinasi wisata alternatif di wilayah barat Gunungkidul yang selama ini belum berkembang secepat kawasan pantai selatan.
Kepala Bagian Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Setda Gunungkidul, Tommy Darlianto, mengatakan minat peserta tender cukup tinggi.
Hingga proses berjalan, tercatat 85 perusahaan mengikuti lelang pembangunan kawasan Aviary Purwosari.
“Kalau sesuai jadwal, kontrak ditargetkan ditandatangani pada 13 Juli 2026. Masa pelaksanaan pekerjaan selama 135 hari kalender sejak penandatanganan kontrak,” kata Tommy, Rabu (24/6/2026).
Bangun Kubah Konservasi Jadi Ikon Baru
Pembangunan tahap lanjutan ini akan difokuskan pada tiga fasilitas utama yang menjadi fondasi kawasan konservasi.
Fasilitas tersebut meliputi:
| Fasilitas | Fungsi |
|---|---|
| Aviary Dome 1 | Habitat konservasi burung dan satwa lokal |
| Klinik Konservasi | Perawatan dan rehabilitasi satwa |
| Mess Konservasi | Hunian petugas dan pengelola kawasan |
Dari seluruh pekerjaan yang direncanakan, pembangunan Aviary Dome 1 menjadi proyek paling besar sekaligus paling mencolok.
Kubah raksasa tersebut nantinya menjadi habitat berbagai jenis burung dan satwa lokal dalam lingkungan yang dirancang menyerupai kondisi alami.
Pekerjaan yang dilakukan mencakup pembangunan struktur beton, konstruksi besi dome, pagar pengaman, sistem drainase hingga penataan taman pendukung.
“Selain bangunan dome, kawasan tersebut juga akan dilengkapi taman pendukung,” ujar Tommy.
Keberadaan taman menjadi bagian penting karena tidak hanya memperkuat fungsi ekologis kawasan, tetapi juga meningkatkan pengalaman pengunjung saat berkeliling di area konservasi.
Klinik Satwa dan Fasilitas Pendukung Ikut Dibangun
Selain kubah konservasi, pemerintah juga menyiapkan sejumlah fasilitas pendukung yang dibutuhkan untuk operasional kawasan.
Salah satunya adalah gedung klinik konservasi yang akan digunakan sebagai pusat penanganan satwa sakit, terluka, atau satwa yang membutuhkan rehabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali.
Sementara gedung mess konservasi disiapkan untuk menunjang aktivitas petugas yang bertugas mengelola dan mengawasi kawasan setiap hari.
Pembangunan juga mencakup infrastruktur penunjang seperti:
- Talud pengaman
- Tangga akses kawasan
- Saluran drainase
- Penataan lingkungan konservasi
“Fasilitas ketiga berupa gedung klinik konservasi ekosistem lokal,” kata Tommy.
Dirintis Sejak 2023
Pelaksana Harian Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul, Mohamad Arif Aldian, menjelaskan pembangunan Aviary Purwosari sebenarnya sudah dimulai secara bertahap sejak 2023.
Tahun ini menjadi fase penting karena mulai membentuk infrastruktur utama yang nantinya menentukan fungsi kawasan secara keseluruhan.
Menurut Arif, konsep yang dikembangkan tidak sekadar menghadirkan objek wisata baru.
Pemkab ingin membangun kawasan yang mampu menggabungkan fungsi konservasi, penelitian, edukasi, dan pengembangan ekonomi masyarakat dalam satu ekosistem.
Karena itu, Aviary Purwosari dirancang berbeda dibanding destinasi wisata konvensional yang hanya berorientasi pada hiburan.
Pengunjung nantinya tidak hanya melihat koleksi satwa, tetapi juga dapat mempelajari proses konservasi, rehabilitasi, serta pelestarian habitat.
Dorong Pertumbuhan Wilayah Barat Gunungkidul
Pemkab menilai keberadaan Aviary dapat membantu pemerataan kunjungan wisata di Gunungkidul.
Selama ini, sebagian besar wisatawan masih terkonsentrasi di kawasan pantai selatan, sementara wilayah barat relatif memiliki pilihan destinasi yang lebih terbatas.
“Sisi barat ini kan masih sangat terbatas venue yang bisa menarik kunjungan wisatawan. Sehingga bisa menarik kunjungan berbasis penelitian, edukasi, dan konservasi satwa,” ujar Arif.
Keberadaan pusat konservasi tersebut diperkirakan akan memunculkan aktivitas ekonomi baru di sekitar kawasan.
Mulai dari sektor kuliner, jasa transportasi, penginapan, hingga usaha mikro masyarakat berpotensi memperoleh manfaat seiring meningkatnya kunjungan ke Purwosari.
Disiapkan Jadi Pusat Konservasi dan Riset
Pemkab Gunungkidul saat ini masih berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah DIY terkait arah pengembangan kawasan pada tahap berikutnya.
Sejumlah opsi tengah dibahas, termasuk peluang kerja sama investasi maupun skema business to business untuk memperkuat keberlanjutan pengelolaan kawasan.
Arif mengatakan Aviary Purwosari diharapkan menjadi pusat aktivitas baru berbasis konservasi dan penelitian yang mampu memberikan manfaat lingkungan sekaligus dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Dengan adanya Aviary, kami berharap muncul pusat aktivitas baru berbasis konservasi dan riset yang dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” katanya.
Jika proses lelang berjalan sesuai jadwal, pekerjaan fisik akan dimulai pada pertengahan Juli.
Beberapa bulan ke depan, kawasan perbukitan Purwosari akan mulai bertransformasi menjadi rumah baru bagi konservasi satwa di Gunungkidul.
Bukan hanya destinasi wisata baru, tetapi juga ruang edukasi dan laboratorium alam yang diproyeksikan menjadi salah satu ikon lingkungan hidup di DIY.