
KabarJawa.com – Gunung Merapi kembali meluncurkan Awan Panas Guguran (APG) pada Senin (13/4/2026) pukul 19.56 WIB.
Berdasarkan data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), material vulkanik tersebut meluncur sejauh dua kilometer ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Boyong dan Kali Krasak.
Instrumen seismogram mencatat aktivitas ini memiliki amplitudo maksimum 22,11 mm dengan durasi gempa selama 200 detik.
Fenomena ini menyebabkan terjadinya hujan abu tipis di sejumlah wilayah di Kabupaten Magelang yang terbawa oleh embusan angin ke arah barat.
Dampak Hujan Abu di Pemukiman Warga
Hujan abu vulkanik dilaporkan melanda beberapa titik di lereng Merapi, di antaranya wilayah Trono, Sengi, Paten, dan Krinjing.
Selain itu, sebaran abu juga mencapai Dukuh Tlogomulyo dan Ngadirojo di Desa Tlogolele.
Meskipun aktivitas tersebut tidak disertai letusan eksplosif besar, BPPTKG mengingatkan bahwa awan panas guguran tetap memiliki risiko tinggi karena suhu material yang sangat panas dan kecepatan luncurnya.
Masyarakat diimbau untuk segera mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap kesehatan dan aktivitas harian.
Data Aktivitas Vulkanik dan Suplai Magma
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menjelaskan bahwa kondisi Merapi saat ini masih menunjukkan aktivitas internal yang intens.
Dalam periode pengamatan 13 April 2026, tercatat terjadi satu kali awan panas guguran, 111 kali guguran lava, 81 kali gempa hybrid/fase banyak, dan satu kali gempa vulkanik dangkal.
Secara visual, asap kawah berwarna putih terlihat dengan intensitas tipis setinggi 25 meter di atas puncak.
Sementara itu, guguran lava juga terpantau terus terjadi ke arah barat daya dengan jarak luncur maksimal mencapai 1.800 meter.
”Selama suplai magma masih ada, potensi awan panas tetap terbuka. Kami meminta masyarakat untuk tidak lengah dan tetap mematuhi rekomendasi,” ujar Agus Budi Santosa dalam keterangan resminya.
Rekomendasi Zona Bahaya dan Status Siaga
Gunung Merapi saat ini masih berada pada Level III (Siaga). Pemerintah menetapkan radius berbahaya yang harus dikosongkan dari aktivitas manusia, meliputi sektor selatan-barat daya (Kali Boyong) sejauh 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga radius 7 km.
Untuk sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Kali Woro hingga 3 km dan Kali Gendol hingga 5 km. Masyarakat juga diperingatkan untuk menjauhi radius 3 km dari puncak guna menghindari lontaran material pijar.
Selain ancaman awan panas, risiko banjir lahar hujan di alur sungai yang berhulu di Merapi juga menjadi fokus kewaspadaan utama bagi warga sekitar.