
Kabarjawa – Brantas Tangani Longsor! Pembangunan Bendungan Bagong di Trenggalek mengalami tantangan dengan adanya longsor di area proyek.
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas segera mengambil langkah darurat untuk menangani kondisi ini guna memastikan kelancaran proyek yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).
Penanganan darurat dilakukan untuk mencegah longsor semakin meluas dan mengganggu konstruksi utama.
Langkah Awal Penanganan Longsor
BBWS Brantas bersama tim proyek langsung bergerak untuk menangani longsor dengan mengeruk material yang jatuh serta melandaikan kemiringan tebing agar stabil.
Langkah ini bertujuan mencegah material longsoran menutup terowongan pengelak yang berfungsi untuk mengalirkan Sungai Bagong selama pembangunan berlangsung.
Jika terowongan ini tertutup, aliran air berpotensi meluber ke area konstruksi utama, yang dapat memperlambat pengerjaan bendungan.
Upaya Pencegahan Longsor Susulan
Sebagai tindakan pencegahan, tim proyek melakukan pengupasan tanah di sekitar lokasi dan melapisi tebing dengan semen serta rencangan kawat (shotcrete).
Selain itu, kemiringan tebing juga diperbaiki agar lebih landai untuk meminimalkan potensi longsor susulan.
Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersama Komisi Keamanan Bendungan (KKB) sedang mengkaji ulang desain proyek untuk memastikan aspek keselamatan lebih optimal.
Dampak Longsor terhadap Pembangunan Bendungan
Meskipun luas area longsor mencapai 2.000 meter persegi, kejadian ini tidak mempengaruhi proses pembangunan utama Bendungan Bagong.
Pengerjaan timbunan pada main dam tetap berjalan sesuai rencana, begitu juga dengan pembangunan spillway di sisi kanan bendungan.
Senna Ananggadipa Adhitama, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan Bagong, menegaskan bahwa longsor terjadi di tebing asli, bukan di bagian konstruksi yang sedang dikerjakan.
Penyebab Longsor dan Proyeksi Penyelesaian Proyek
Analisis sementara menunjukkan bahwa longsor dipicu oleh curah hujan tinggi selama tiga hari berturut-turut, menyebabkan tanah jenuh, retak, dan akhirnya runtuh.
Meski menghadapi kendala ini, proyek Bendungan Bagong tetap dijadwalkan selesai pada 2026, setelah sebelumnya mengalami penundaan akibat masalah pembebasan lahan.
Dengan anggaran sekitar Rp 2,1 triliun, proyek ini diharapkan dapat segera rampung tanpa hambatan besar di masa mendatang.
Penanganan cepat oleh BBWS Brantas memastikan bahwa longsor di area proyek Bendungan Bagong tidak menghambat pembangunan utama.
Dengan berbagai langkah mitigasi, risiko longsor susulan dapat diminimalkan. Sementara itu, kajian ulang desain proyek oleh KKB akan memastikan konstruksi yang lebih aman dan kokoh.
Jika tidak ada kendala lebih lanjut, Bendungan Bagong diharapkan dapat selesai sesuai target pada 2026, memberikan manfaat besar bagi pengelolaan air di wilayah Trenggalek dan sekitarnya.(Kabarjawa)