
KABARJAWA — Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas tinggi pada Sabtu (26/4) dini hari.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat belasan kali guguran lava pijar yang meluncur sejauh hingga 2.000 meter dari puncak gunung.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyampaikan bahwa selama periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, teramati 13 kali guguran lava pijar ke arah hulu Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter.
Selain itu, tiga kali guguran terjadi ke arah Kali Krasak sejauh 2.000 meter dan satu kali ke arah Kali Bebeng sejauh 1.500 meter.
“Gunung Merapi saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya utama adalah guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya,” jelas Agus.
Berdasarkan laporan aktivitas vulkanik, tercatat 24 gempa guguran dengan amplitudo antara 2 hingga 14 mm dan durasi 54 hingga 116 detik.
Selain itu, terjadi 32 gempa hybrid/fase banyak dengan durasi hingga 15 detik, menunjukkan masih berlangsungnya suplai magma dari dalam tubuh gunung.
Cuaca di sekitar Merapi saat itu terpantau berawan dengan suhu udara 20°C, kelembaban 93 persen, dan tekanan udara 916 mmHg. Gunung terlihat jelas, namun tidak terpantau adanya asap kawah.
BPPTKG kembali mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun di kawasan rawan bencana, terutama di sektor selatan-barat daya yang meliputi daerah berikut.
- Sungai Boyong (maksimal 5 km)
- Sungai Bedog, Krasak
- Bebeng (maksimal 7 km),
Selain itu, juga sektor tenggara meliputi Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Gendol (maksimal 5 km).
“Warga juga diminta mewaspadai potensi bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat terjadi hujan di sekitar Merapi,” tegas Agus.
Masyarakat juga perlu mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik serta tetap mengikuti informasi resmi dari BPPTKG.
Jika terjadi perubahan signifikan pada aktivitas vulkanik, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau ulang. (ef linangkung)