Aktivitas Gunung Merapi 27 Februari–5 Maret 2026: Kubah Lava Barat Menurun, Guguran Lava Masih Terjadi

Bagikan :
Awan Panas Selasa/Foto: Kementrian ESDM

KabarJawa.com – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi terus menunjukkan dinamika selama periode pengamatan 27 Februari hingga 5 Maret 2026.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat penurunan volume kubah lava di sektor barat, disertai puluhan kejadian guguran lava ke sejumlah sungai berhulu di puncak gunung.

Meskipun terjadi perubahan morfologi pada kubah lava, aktivitas erupsi efusif masih berlangsung. Oleh karena itu, status aktivitas Gunung Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga.

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyatakan suplai magma ke dalam tubuh gunung masih berlangsung sehingga berpotensi memicu guguran lava maupun awan panas dalam radius bahaya yang telah ditetapkan.

Aktivitas Visual Gunung Merapi

Selama periode pengamatan, kondisi visual Gunung Merapi dipantau dari sejumlah pos pengamatan serta kamera pemantau.

Cuaca di sekitar puncak umumnya cerah pada pagi dan malam hari, sementara kabut sering menutupi puncak pada siang hingga sore hari.

Pengamatan menunjukkan Gunung Merapi terus mengeluarkan asap berwarna putih dari kawah dengan ketebalan tipis hingga tebal dan tekanan lemah.

Tinggi kolom asap tercatat berkisar antara 25 meter hingga 100 meter dari puncak. Fenomena tersebut menunjukkan aktivitas vulkanik di dalam tubuh gunung masih berlangsung.

Awan Panas Guguran Tercatat Sekali

Dalam periode pengamatan selama satu pekan, BPPTKG mencatat satu kejadian awan panas guguran. Awan panas tersebut meluncur sejauh sekitar 400 meter ke arah hulu Kali Sat atau Kali Putih.

Baca juga  Aktivitas Gunung Merapi Meningkat: 5 Awan Panas Guguran Terjadi, Volume Kubah Lava Menyusut 23.300 m³ dalam Sepekan

Awan panas guguran terjadi ketika sebagian kubah lava runtuh dan menghasilkan campuran material panas berupa batuan, abu, dan gas yang bergerak menuruni lereng gunung.

Meskipun jaraknya relatif pendek, kejadian ini menunjukkan kondisi kubah lava di puncak masih tidak stabil.

Guguran Lava Mengalir ke Empat Sungai

Aktivitas yang paling dominan selama periode ini adalah guguran lava pijar.

Petugas mencatat sejumlah guguran lava yang mengarah ke beberapa sungai di sekitar Gunung Merapi, yaitu:

  • 5 kali guguran lava ke arah hulu Kali Boyong dengan jarak maksimum 2.000 meter
  • 37 kali guguran lava ke arah hulu Kali Krasak dengan jarak maksimum 2.000 meter
  • 15 kali guguran lava ke arah hulu Kali Bebeng dengan jarak maksimum 1.800 meter
  • 50 kali guguran lava ke arah hulu Kali Sat atau Kali Putih dengan jarak maksimum 2.000 meter

Material lava pijar tersebut kemudian mengalir mengikuti lembah sungai yang berhulu di puncak Merapi.

Volume Kubah Lava Barat Berkurang

Analisis morfologi yang dilakukan menggunakan kamera pemantau dari Stasiun Tunggularum dan Babadan menunjukkan adanya perubahan kecil pada kubah lava.

Perubahan tersebut terjadi pada kubah lava bagian barat daya yang mengalami penurunan volume akibat aktivitas guguran lava.

Baca juga  Status Siaga Level III Gunung Merapi: Aktivitas Vulkanik Meningkat, Waspada Bahaya Erupsi

Sementara itu, kubah lava bagian tengah tidak menunjukkan perubahan morfologi yang signifikan.

Berdasarkan analisis foto udara pada 20 Februari 2026, volume kubah lava di puncak Gunung Merapi tercatat:

  • Kubah Barat Daya sekitar 4.044.000 meter kubik
  • Kubah Tengah sekitar 2.368.800 meter kubik

Data tersebut menunjukkan bahwa kubah lava masih menyimpan material magma dalam jumlah besar.

Aktivitas Gempa Vulkanik

Selain pengamatan visual, BPPTKG juga memantau aktivitas seismik Gunung Merapi.

Selama periode pengamatan, jaringan seismik mencatat beberapa jenis gempa, yaitu:

  • 1 gempa awan panas guguran (APG)
  • 5 gempa vulkanik dangkal (VTB)
  • 451 gempa fase banyak (MP)
  • 809 gempa guguran (RF)
  • 10 gempa tektonik (TT)

Secara umum, aktivitas kegempaan tercatat lebih rendah dibandingkan minggu sebelumnya. Namun ratusan gempa guguran dan gempa fase banyak menunjukkan aktivitas internal gunung masih berlangsung.

Pemantauan Deformasi Gunung

Pemantauan deformasi dilakukan menggunakan alat EDM dan GPS untuk mengetahui perubahan bentuk tubuh Gunung Merapi.

Hasil pengukuran menunjukkan jarak EDM sektor barat laut (BAB0–RB2) berada pada kisaran 3.840,258 meter hingga 3.840,273 meter.

Sementara baseline GPS Labuhan–Jrakah tercatat pada kisaran 7.108,13 meter hingga 7.108,14 meter. Data tersebut menunjukkan pemendekan jarak tunjam sekitar 0,5 sentimeter per hari.

Baca juga  Gunung Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 1.200 Meter, BPPTKG Imbau Warga Tetap Waspada

Kondisi ini menandakan adanya dinamika tekanan di dalam tubuh gunung akibat pergerakan magma.

Potensi Lahar saat Hujan

Selama periode pengamatan, hujan juga terjadi di kawasan puncak Gunung Merapi.

Curah hujan tertinggi tercatat pada 3 Maret 2026 di Stasiun Pasarbubar dengan intensitas 31,19 milimeter per jam selama 4 jam 38 menit.

Hujan tersebut meningkatkan potensi aliran lahar di beberapa sungai berhulu di Merapi, antara lain Kali Gendol, Kali Woro, Kali Senowo, Kali Trising, Kali Apu, dan Kali Pabelan.

Aliran lahar dapat terjadi ketika hujan deras membawa material vulkanik yang menumpuk di lereng gunung.

Status Merapi Tetap Siaga

Berdasarkan seluruh data visual dan instrumental, BPPTKG menyimpulkan aktivitas Gunung Merapi masih tergolong tinggi namun masih dalam fase erupsi efusif.

Karena itu, status aktivitas Gunung Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga.

BPPTKG menetapkan wilayah potensi bahaya sebagai berikut:

Sektor Selatan–Barat Daya

  • Sungai Boyong maksimal 5 kilometer
  • Sungai Bedog
  • Sungai Krasak
  • Sungai Bebeng maksimal 7 kilometer

Sektor Tenggara

  • Sungai Woro maksimal 3 kilometer
  • Sungai Gendol maksimal 5 kilometer

Apabila terjadi letusan eksplosif, material vulkanik berpotensi terlontar hingga radius 3 kilometer dari puncak.

BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di wilayah potensi bahaya serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan awan panas, guguran lava, lahar hujan, dan abu vulkanik.

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Jadwal Ganjil Genap Puncak 26 April 2026
Jadwal Buka Tutup Puncak 26 April 2026, Berlaku One Way atau Ganjil Genap? Cek Estimasinya