
KabarJawa.com– Jembatan Kabanaran di Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, yang belum genap setahun diresmikan, mulai rusak. Kondisi ini memicu kekhawatiran warga dan pengguna jalan yang setiap hari melintasi jembatan tersebut.
Jembatan Kabanaran Rusak
Kerusakan pada Jembatan Kabanaran tampak jelas di sejumlah titik. Di sisi selatan atau bagian kiri jembatan, beberapa tiang PJU terlihat patah. Kerusakan serupa juga muncul di sisi utara jembatan, yang menunjukkan bahwa masalah tidak hanya terjadi pada satu lokasi saja.
Jika pengendara melanjutkan perjalanan ke arah barat dari ornamen Gunungan, mereka akan menemukan dua tiang PJU di sisi utara yang juga patah. Sementara itu, satu tiang PJU lainnya tampak rusak di sisi barat ornamen tersebut.
Kondisi ini membuat beberapa lampu penerangan jalan tidak lagi berdiri tegak sebagaimana mestinya. Meski demikian, patahan tiang lampu tersebut tidak sampai jatuh ke badan jalan.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada lampu penerangan jalan. Bagian ornamen Gunungan yang menjadi ciri khas Jembatan Kabanaran juga mulai mengalami kerusakan.
Di sisi selatan jembatan, salah satu besi yang menempel pada ornamen Gunungan tampak menganga dan hampir terlepas. Dari kejauhan, kondisi tersebut mungkin tidak terlihat jelas. Namun ketika mendekat, kerusakan tersebut terlihat cukup mengkhawatirkan.
Pada bagian bawah ornamen Gunungan, salah satu besi bahkan terlihat tertali dengan tali plastik. Tali tersebut menahan bagian besi yang hampir lepas dari tempatnya agar tidak jatuh.
Meski sejumlah bagian jembatan mengalami kerusakan, kondisi kebersihan di sekitar lokasi masih terjaga. Tidak banyak sampah terlihat di area jembatan tersebut.
Hujan Deras dan Angin Kencang Jadi Pemicu
Seorang pedagang cilok yang kerap mangkal di sekitar jembatan, Yayak (50), mengatakan bahwa kerusakan tersebut terjadi pada Rabu (4/3/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu, wilayah Srandakan diguyur hujan deras yang disertai angin kencang.
“Saat itu saya sedang berteduh dari hujan di bawah ornamen Gunungan. Saya melihat langsung tiang lampu itu patah,” kata Yayak.
Menurutnya, angin kencang yang melanda kawasan tersebut kemungkinan menjadi penyebab utama patahnya beberapa tiang lampu.
Yayak menduga konstruksi tiang lampu tidak cukup kuat menahan terpaan angin. Ia juga menilai bagian atas tiang lampu terlalu berat sehingga mudah patah ketika angin bertiup kencang.
“Saya kira karena sambungan las dan bagian atasnya berat, jadi saat terkena angin kencang langsung patah,” ujarnya.
Meski beberapa tiang lampu patah, Yayak mengatakan patahan tersebut tidak sampai jatuh ke badan jalan. Hal ini terjadi karena arah angin saat kejadian berhembus ke arah utara.
Kondisi tersebut membuat patahan tiang lampu tidak membahayakan kendaraan yang melintas di jembatan.
“Untungnya tidak jatuh ke jalan. Saat itu angin bertiup ke arah utara,” jelasnya.
Namun demikian, kondisi tersebut tetap menimbulkan kekhawatiran karena bagian yang patah berpotensi jatuh sewaktu-waktu jika tidak segera diperbaiki.
Selain tiang lampu, Yayak juga mengungkapkan bahwa bagian besi pada ornamen Gunungan yang hampir terlepas juga terjadi pada hari yang sama. Namun ia tidak menyaksikan langsung proses kerusakan tersebut.
Saat hujan deras turun, Yayak sempat berpindah tempat berteduh ke sisi timur jembatan. Ketika ia kembali ke lokasi semula, ia mendapati bagian ornamen tersebut sudah dalam kondisi terlepas.
“Waktu saya kembali lagi, besinya sudah seperti itu,” katanya.
Melihat kondisi tersebut, Yayak berinisiatif menahan salah satu bagian besi yang hampir lepas menggunakan tali plastik agar tidak jatuh atau hilang.
Warga menilai jembatan tersebut merupakan infrastruktur penting yang menghubungkan wilayah dan mendukung mobilitas masyarakat.
Oleh karena itu, mereka berharap kerusakan pada lampu PJU maupun ornamen jembatan dapat segera ditangani sebelum menimbulkan risiko yang lebih besar bagi pengguna jalan.
Selain memperbaiki kerusakan yang ada, warga juga berharap pihak terkait dapat mengevaluasi kekuatan konstruksi agar fasilitas di Jembatan Kabanaran mampu bertahan lebih lama menghadapi cuaca ekstrem. (ef linangkung)