
KabarJawa.com— Fenomena tanah amblas yang terjadi di lingkungan SMP Negeri 3 Semanu, Kabupaten Gunungkidul, memicu kekhawatiran.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui BPBD DIY bergerak cepat dengan menggandeng Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) untuk melakukan kajian bawah permukaan tanah menggunakan metode geolistrik.
Kajian tersebut berlangsung pada Senin, 27 Januari 2026, sebagai tindak lanjut dari rangkaian peristiwa cuaca ekstrem yang melanda wilayah Gunungkidul sejak awal tahun 2026. Cuaca ekstrem itu memicu dugaan munculnya rongga bawah tanah yang berpotensi membahayakan keselamatan lingkungan sekolah.
Kajian Tanah Amblas di SMP Negeri 3 Semanu
Manajer Pusdalops BPBD DIY, Julianto Wibowo, menjelaskan bahwa BPBD DIY secara resmi mengajukan permohonan kajian kepada BPPTKG sejak 8 Januari 2026 setelah menemukan indikasi awal ketidakstabilan tanah di kawasan SMP Negeri 3 Semanu.
“Pada hari ini kami melakukan kajian bawah permukaan di SMP Negeri 3 Semanu. Rangkaian kejadian ini bermula dari cuaca ekstrem di awal tahun 2026 yang memunculkan potensi rongga di bawah permukaan tanah,” ujar Julianto.
BPBD DIY menilai langkah kajian ilmiah menjadi sangat penting sebelum mengambil keputusan mitigasi lanjutan. Oleh karena itu, BPPTKG menjalankan uji geolistrik untuk membaca kondisi tanah hingga lapisan dalam.
BPPTKG menggunakan metode geolistrik untuk memetakan struktur bawah permukaan tanah. Metode ini memungkinkan tim ahli mendeteksi rongga, rekahan, atau zona lemah yang tidak terlihat dari permukaan.
Julianto menegaskan bahwa kajian ini akan menjadi dasar utama dalam penyusunan rekomendasi teknis. Kajian geolistrik ini bertujuan untuk melihat kondisi bawah permukaan secara menyeluruh.
“Setelah BPPTKG menyelesaikan analisis, mereka akan memberikan rekomendasi dan arahan kepada BPBD DIY untuk langkah mitigasi ke depan,” jelasnya.
Saat ini, BPBD DIY masih menunggu hasil resmi dari BPPTKG Yogyakarta sebelum menentukan kebijakan lanjutan.
Sambil menunggu hasil kajian, BPBD DIY mengambil langkah pengamanan awal. Petugas memasang police line di area yang diduga berisiko untuk mencegah aktivitas yang tidak perlu.
“Untuk sementara, kami belum bisa memastikan kondisi ini aman atau tidak. Oleh karena itu, area tersebut kami pasangi police line,” kata Julianto.
BPBD DIY juga mengimbau pihak sekolah untuk mengosongkan ruang yang terdampak dan tidak menggunakannya untuk kegiatan belajar mengajar hingga hasil kajian keluar.
Gunungkidul Rawan Fenomena Tanah Ambles
Julianto menjelaskan bahwa wilayah Gunungkidul secara geologis memang memiliki karakteristik kawasan karst yang rawan terhadap fenomena tanah amblas atau sinkhole.
Struktur batuan kapur yang menyusun wilayah ini memungkinkan terbentuknya rongga alami di bawah tanah.
“Secara alami, Gunungkidul memang memiliki potensi tanah ambles. Wilayah ini tersusun oleh batuan kapur yang memungkinkan terbentuknya rongga bawah tanah,” ungkapnya.
Perubahan tata guna lahan, tingginya mobilitas aktivitas manusia, serta intensitas hujan yang ekstrem turut memperbesar risiko terjadinya amblesan tanah.
BPBD DIY menegaskan komitmennya untuk menindaklanjuti hasil kajian BPPTKG. Rekomendasi tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan apakah area sekolah dapat kembali digunakan atau memerlukan penanganan teknis lebih lanjut.
“Kami menunggu hasil resmi dari BPPTKG. Setelah itu, kami akan menentukan langkah mitigasi agar kejadian serupa tidak membahayakan keselamatan warga sekolah maupun lingkungan sekitar,” kata Julianto.
Kajian ini menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah dalam mengutamakan keselamatan serta memastikan setiap potensi bencana tertangani secara ilmiah dan terukur. (ef linangkung)