
KabarJawa.com – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa volume Kubah Barat Daya Gunung Merapi berkurang sekitar 136.900 meter kubik dalam periode pengamatan 12–18 Desember 2025.
Data ini menegaskan bahwa suplai magma masih berlangsung dan potensi bahaya erupsi tetap tinggi.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menyampaikan laporan tersebut dalam rilis resmi yang dirilis di Yogyakarta pada 19 Desember 2025. Ia menegaskan bahwa status aktivitas Gunung Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga.
Aktivitas Visual Gunung Merapi
Selama sepekan pengamatan, tim BPPTKG mengamati kondisi visual Gunung Merapi secara konsisten. Petugas mencatat cuaca di sekitar gunung umumnya cerah pada pagi dan malam hari, sementara kabut menutupi puncak gunung pada siang hingga sore hari.
Gunung Merapi secara aktif mengeluarkan asap putih dengan intensitas tipis hingga tebal. Asap tersebut bertekanan lemah dan mencapai ketinggian sekitar 25 meter dari puncak. Aktivitas ini menandakan proses vulkanik masih terus berlangsung di dalam tubuh gunung.
BPPTKG mencatat aktivitas guguran lava dalam jumlah besar selama periode laporan.
- 45 kali ke arah hulu Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter
- 3 kali ke arah hulu Kali Bebeng sejauh maksimum 1.700 meter
- 25 kali ke arah hulu Kali Sat/Putih dengan jarak maksimum 2.000 meter
“Data ini menunjukkan bahwa sektor selatan hingga barat daya Gunung Merapi masih menjadi jalur utama pergerakan material vulkanik,”paparnya.
Hasil Drone tentang Kubah Barat Daya Gunung Merapi
Tim BPPTKG melaksanakan survei lapangan menggunakan drone pada 13 Desember 2025. Survei ini menghasilkan foto udara dan foto termal yang memberikan gambaran detail kondisi kubah lava.
Hasil analisis foto udara menunjukkan bahwa volume Kubah Barat Daya menyusut sekitar 136.900 meter kubik, dari sebelumnya menjadi 4.171.800 meter kubik. Sementara itu, Kubah Tengah Gunung Merapi tetap stabil dengan volume sekitar 2.368.800 meter kubik.
Suhu Kubah Menurun, Magma Tetap Aktif
Analisis foto termal memperlihatkan penurunan suhu pada kedua kubah lava. Tim mencatat suhu Kubah Barat Daya turun 6,3 derajat Celsius menjadi 249,3°C dan suhu Kubah Tengah turun 10,3 derajat Celsius menjadi 209,5°C.
Meski suhu menurun, BPPTKG menegaskan bahwa aktivitas magma masih berlangsung dan tetap berpotensi memicu guguran lava serta awan panas guguran.
Jaringan seismik BPPTKG merekam peningkatan intensitas kegempaan selama periode laporan. Petugas mencatat 8 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 453 gempa Fase Banyak (MP), 4 gempa Low Frequency (LF), 694 gempa Guguran (RF) dan 9 gempa Tektonik (TT).
BPPTKG menilai intensitas gempa pada periode ini lebih tinggi dibandingkan minggu sebelumnya, yang mengindikasikan dinamika internal Gunung Merapi masih aktif.
Deformasi Gunung Merapi Masih Stabil
Pemantauan deformasi menggunakan EDM dan GPS menunjukkan kondisi relatif stabil. Jarak tunjam EDM dari titik BAB0 ke reflektor RB2 berada pada kisaran 3.840,429 hingga 3.840,449 meter. Sementara itu, baseline GPS Labuhan–Jrakah terukur pada kisaran 7.108,13 hingga 7.108,14 meter.
Selama sepekan, hujan mengguyur kawasan sekitar Gunung Merapi. Intensitas hujan tertinggi terjadi pada 14 Desember 2025 di Pos Kaliurang, dengan curah hujan mencapai 28,23 mm per jam selama 38 menit.
Meski hujan turun cukup deras, petugas tidak melaporkan adanya aliran lahar maupun penambahan debit sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
BPPTKG menegaskan bahwa potensi bahaya utama Gunung Merapi saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG). Ancaman tersebut mencakup sektor selatan–barat daya: Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km dan sektor tenggara: Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km
Selain itu, BPPTKG memperingatkan bahwa lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak jika terjadi letusan eksplosif.
BPPTKG menegaskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tinggi dengan karakter erupsi efusif. Oleh karena itu, lembaga tersebut mempertahankan status Siaga dan meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan.
Masyarakat sebaiknya tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya, mewaspadai ancaman awan panas guguran dan lahar saat hujan, serta mengantisipasi gangguan abu vulkanik. (ef linangkung)