
KabarJawa.com– Gunung Merapi kembali menunjukkan denyut aktivitas vulkanik yang tinggi.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat, selama periode pengamatan 5 hingga 11 Juni 2026, Merapi memperlihatkan peningkatan aktivitas internal.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi saat ini masih didominasi erupsi efusif atau erupsi yang ditandai dengan keluarnya material lava secara perlahan dari kubah lava di puncak.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi ini dapat memicu terjadinya awan panas guguran yang masih berpotensi terjadi di dalam daerah bahaya yang telah ditetapkan,” kata Agus Budi Santoso dalam laporan aktivitas Gunung Merapi.
Aktivitas Merapi Meningkat
Sepanjang pekan pengamatan, cuaca di kawasan puncak Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari. Namun, kabut kerap menyelimuti gunung tersebut pada siang hingga sore hari.
Asap putih terlihat keluar dari kawah dengan ketebalan tipis hingga tebal. Kolom asap membumbung setinggi 20 meter hingga 200 meter dari puncak.
Aktivitas yang lebih mencolok muncul dari rentetan guguran material pijar dan awan panas guguran yang terjadi selama periode pengamatan.
BPPTKG mencatat empat kali awan panas guguran meluncur ke arah hulu Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai dua kilometer. Sementara itu, guguran lava terus mengalir ke sejumlah sektor lereng Merapi.
Petugas pengamatan mencatat tiga kali guguran lava menuju hulu Kali Boyong dengan jarak luncur dua kilometer. Di sektor Kali Krasak, guguran lava terjadi sebanyak 54 kali dengan jarak luncur maksimum dua kilometer.
Aktivitas serupa juga terjadi di Kali Bebeng yang mencatat 23 kali guguran lava dengan jarak luncur hingga dua kilometer.
Namun, sektor Kali Sat/Putih menjadi kawasan yang paling aktif. Sebanyak 76 kali guguran lava tercatat meluncur ke arah tersebut dengan jarak luncur maksimum mencapai 2,5 kilometer.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa proses pengeluaran material vulkanik dari kubah lava masih berlangsung secara intensif.
Di puncak Merapi, perubahan perlahan terus terjadi. Hasil analisis morfologi melalui kamera pemantauan di Stasiun Ngepos dan Babadan menunjukkan adanya perubahan pada Kubah Lava Barat Daya.
Perubahan itu terjadi akibat dinamika volume kubah dan aktivitas guguran lava yang terus berlangsung dari waktu ke waktu. Sebaliknya, Kubah Tengah masih tampak relatif stabil tanpa menunjukkan perubahan morfologi yang berarti.
Berdasarkan analisis foto udara terakhir pada 7 Mei 2026, volume Kubah Barat Daya mencapai 4.026.700 meter kubik. Sementara volume Kubah Tengah tercatat sebesar 2.368.800 meter kubik.
Jumlah material yang masih tersimpan di puncak tersebut menjadi salah satu faktor yang terus dipantau karena berpotensi menjadi sumber guguran lava maupun awan panas apabila mengalami ketidakstabilan.
Hampir 1.500 Gempa Guncang Merapi dalam Sepekan
Jika aktivitas visual terlihat mencolok di permukaan, maka aktivitas di dalam tubuh Merapi jauh lebih dinamis. Jaringan seismik BPPTKG merekam total 1.516 gempa selama periode pengamatan satu minggu.
Jumlah tersebut terdiri atas empat gempa awan panas guguran, 32 gempa vulkanik dangkal, 512 gempa fase banyak, satu gempa frekuensi rendah, 947 gempa guguran, dan 20 gempa tektonik.
Lonjakan aktivitas kegempaan ini menjadi salah satu indikator penting yang menunjukkan meningkatnya aktivitas internal gunung. BPPTKG menegaskan bahwa intensitas kegempaan selama pekan ini lebih tinggi daripada minggu sebelumnya.
Gempa vulkanik dangkal umumnya berkaitan dengan pergerakan magma yang semakin dekat ke permukaan. Sementara gempa fase banyak dan gempa guguran menunjukkan tingginya aktivitas pelepasan material dari kubah lava.
Meski aktivitas kegempaan meningkat, pemantauan deformasi atau perubahan bentuk tubuh gunung belum menunjukkan perubahan signifikan.
Pengukuran menggunakan Electronic Distance Measurement (EDM) pada sektor barat laut memperlihatkan jarak yang relatif stabil.
Begitu pula hasil pengamatan menggunakan Global Positioning System (GPS) yang menunjukkan kondisi deformasi masih berada pada kisaran normal.
Meski demikian, Agus Budi Santoso menegaskan bahwa stabilnya deformasi tidak serta-merta menunjukkan aktivitas Merapi menurun.
Pasalnya, data kegempaan dan aktivitas visual justru menunjukkan suplai magma masih terus berlangsung di dalam tubuh gunung.
Ancaman Awan Panas Masih Mengintai
Dengan kondisi aktivitas saat ini, BPPTKG tetap mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya utama masih berupa guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Pada sektor selatan hingga barat daya, ancaman meliputi Sungai Boyong dengan jarak maksimal lima kilometer. Sementara Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng berpotensi terdampak hingga tujuh kilometer dari puncak.
Di sektor tenggara, potensi bahaya mengancam Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer.
Selain itu, jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius hingga tiga kilometer dari puncak Merapi. Kondisi tersebut membuat kewaspadaan menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Menghadapi situasi tersebut, BPPTKG meminta pemerintah daerah di wilayah sekitar Merapi untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan.
BPPTKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan yang masuk daerah potensi bahaya.
“Jika terjadi perubahan aktivitas Gunung Merapi yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali,” ujar Agus Budi Santoso. (ef linangkung)