
KabarJawa.com– Kepanikan menyelimuti Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, setelah puluhan siswa dan guru dari tujuh sekolah mengalami mual, muntah, dan gangguan kesehatan usai menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa dugaan keracunan massal ini terjadi secara tiba-tiba dan langsung mengundang perhatian serius pemerintah daerah.
Peristiwa tersebut mencuat pada Selasa sore, 20 Januari 2026, ketika satu per satu laporan dari orang tua siswa masuk ke pihak sekolah dan dinas terkait.
Para siswa yang sebelumnya mengikuti kegiatan belajar seperti biasa mendadak mengeluhkan mual hebat, pusing, hingga muntah berulang setelah mengonsumsi makanan MBG di sekolah.
Situasi semakin mencekam ketika jumlah korban terus bertambah hingga malam hari. Orang tua bergegas membawa anak-anak mereka ke puskesmas, klinik, dan rumah sakit terdekat demi mendapatkan pertolongan medis.
Penanganan Siswa Keracunan Makan Bergizi Gratis
Bupati Kulon Progo, Dr. H. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., langsung merespons kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa peristiwa keracunan ini sama sekali tidak diharapkan oleh siapa pun, terutama oleh para orang tua.
“Peristiwa keracunan ini sama sekali tidak kita harapkan. Kita semua sebagai orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi anak-anak kita. Kejadian ini murni insiden yang tidak disengaja,” tegas Agung Setyawan.
Ia menyampaikan rasa syukur karena seluruh korban berhasil mendapatkan pertolongan dengan cepat. Menurutnya, langkah cepat menjadi kunci utama agar kondisi para siswa tidak memburuk.
“Apapun itu, kita tetap bersyukur karena seluruh korban cepat tertolong. Pemerintah daerah langsung bergerak untuk memastikan semua anak mendapatkan penanganan medis,” ujarnya.
Bupati Agung Setyawan juga menekankan pentingnya komunikasi aktif antara sekolah dan wali murid. Ia meminta pihak sekolah segera menghubungi grup wali murid, mulai dari jenjang PAUD, TK, hingga SD, untuk memastikan tidak ada siswa yang terlewat dari pendataan.
“Kita harus segera mengontak grup wali murid. Jangan sampai ada anak yang belum tertangani karena keterbatasan informasi. Mereka semua adalah rakyat kita,” katanya dengan nada tegas.
Ia menginstruksikan seluruh jajaran untuk mendatangi langsung siswa yang belum datang ke fasilitas kesehatan dan memastikan kondisi mereka aman.
“Kita harus memastikan keberadaan anak-anak. Jangan sampai mereka jatuh ke kondisi berbahaya akibat muntah dan dehidrasi,” lanjutnya.
Bupati memastikan tenaga medis memberikan penguatan kondisi tubuh para korban, termasuk pemberian cairan infus bagi siswa yang mengalami dehidrasi. Selain itu, pemerintah daerah langsung mengambil sampel makanan MBG untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
“Secara medis, kita sudah mengambil sampel makanan untuk evaluasi dan perbaikan ke depan. Program ini sebenarnya bagus dan terukur, tetapi tetap membutuhkan pembenahan agar kejadian seperti ini tidak terulang,” jelas Agung Setyawan.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan melakukan evaluasi menyeluruh demi menjaga keselamatan dan kesehatan siswa.
Total 87 Korban dari Tujuh Sekolah
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo, Nur Hadiyanto, membenarkan jumlah korban yang mencapai puluhan orang. Ia menyebut pihaknya menerima laporan awal sekitar pukul 16.30 WIB.
“Kami menerima laporan dugaan keracunan makanan yang berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis pada Selasa sore,” kata Nur Hadiyanto.
Berdasarkan data sementara, Disdikpora mencatat 87 orang mengalami gejala keracunan, terdiri dari 83 siswa dan 4 guru dari tujuh sekolah di Kapanewon Sentolo.
Dari jumlah tersebut, 18 orang sempat menjalani rawat inap, sementara sisanya menjalani perawatan jalan. Hingga Rabu pagi, sembilan orang masih menjalani perawatan intensif, namun kondisi mereka terus membaik.
Petugas medis merawat para korban di empat fasilitas kesehatan.
- Puskesmas Sentolo I
- Klinik Pengasih Husada
- RSUD Nyi Ageng Serang Sentolo
- RS Queen Latifa Sentolo
Tenaga kesehatan bergerak cepat untuk mencegah kondisi korban memburuk, terutama pada siswa sekolah dasar yang mengalami muntah berulang.
Nur Hadiyanto menegaskan bahwa pendataan korban masih terus berjalan. Ia menyebut jumlah korban masih berpotensi bertambah karena sebagian siswa baru merasakan gejala setelah tiba di rumah.
“Kami mendata secara detail, mulai dari identitas siswa, alamat, asal sekolah, gejala, hingga lokasi perawatan,” jelasnya.
Disdikpora juga langsung berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kulon Progo untuk menelusuri sumber keracunan secara menyeluruh.
Salah satu sekolah dengan jumlah korban terbanyak adalah SD Negeri 2 Sentolo. Kepala sekolah Suryadi mengungkapkan bahwa 21 siswa di sekolahnya mengalami gejala keracunan.
“Tiga belas anak masih izin tidak masuk sekolah hari ini dan beristirahat di rumah,” kata Suryadi.
Ia menerima laporan pertama dari wali murid sekitar pukul 17.15 WIB melalui grup WhatsApp. Jumlah siswa yang bergejala terus bertambah hingga malam hari.
Kasus dugaan keracunan ini menjadi kejadian ketiga yang berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis di Kulon Progo. Sebelumnya, kasus serupa terjadi di Kapanewon Wates pada Juli 2025 dan sempat menimpa lebih dari 400 pelajar.
Hingga kini, pemerintah daerah masih menunggu hasil uji laboratorium. Masyarakat berharap evaluasi menyeluruh agar program yang ini benar-benar aman dan tidak kembali memakan korban. (ef linangkung)