
KABARJAWA- Suasana kembali bergejolak. Letupan konflik antara aparat keamanan dengan masyarakat di sejumlah titik menciptakan ketegangan yang meresahkan.
Di tengah dinamika itu, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Miftachul Akhyar, berdiri tegak mengirimkan seruan moral.
Dengan suara penuh wibawa, beliau meminta seluruh pengurus NU, badan otonom, dan lembaga di setiap tingkatan untuk turun menenangkan situasi serta menjauhi segala bentuk provokasi.
Seruan KH. Miftachul Akhyar
Ia tidak hanya mengingatkan, tetapi juga menegaskan bahwa NU harus hadir sebagai peneduh di tengah kobaran emosi massa. Dia menyebut NU lahir untuk menjaga persatuan, bukan menambah bara konflik.
“Mari kita redam ketegangan dengan kebersamaan dan persaudaraan,” demikian inti seruan beliau.
Seruan itu lahir setelah kabar duka menyelimuti peristiwa bentrokan. Seorang warga bernama Affan Kurniawan wafat. PBNU menyatakan belasungkawa yang mendalam.
KH. Miftachul Akhyar berdoa agar Allah SWT mengampuni segala khilaf almarhum dan menerima seluruh amal ibadahnya.
Duka itu sekaligus menjadi alarm bagi semua pihak. PBNU menegaskan bahwa aspirasi rakyat adalah hak yang dijamin konstitusi.
Namun, penyampaian aspirasi harus tetap tertib, menjaga keamanan, dan menghindari anarkisme yang hanya menambah luka bangsa.
Ia juga menekankan pentingnya sikap bijak dari aparat. Lalu, ia meminta aparat keamanan bersabar dan mengedepankan pendekatan persuasif ketika berhadapan dengan masyarakat yang sedang menyuarakan aspirasi.
“Ketegasan bukan berarti kekerasan, kesabaran justru melahirkan rasa hormat dari rakyat,” tegasnya.
Ajakan PBNU
Rais Aam meminta semua pengurus NU dari tingkat pusat hingga ranting, termasuk badan otonom seperti GP Ansor, Fatayat, Muslimat, dan Banser, untuk hadir menenangkan warga. NU harus memastikan tidak ada satupun pengurusnya yang terlibat dalam tindakan provokatif.
KH. Miftachul Akhyar mengingatkan bahwa tindakan anarkis hanya akan merugikan semua pihak. Ia menyerukan agar masyarakat menghindari kekerasan dan kembali merajut kebersamaan yang menjadi warisan leluhur bangsa.
“Indonesia berdiri karena keberagaman. Jika kita merusaknya dengan kebencian, kita sedang mengkhianati sejarah,” ujarnya.
PBNU pun mengajak seluruh komponen bangsa untuk memupuk solidaritas di tengah perbedaan. Ajakan itu bukan sekadar retorika, melainkan panggilan moral agar bangsa ini tidak terseret dalam pusaran konflik berkepanjangan.
Seruan Rais Aam PBNU ini menegaskan kembali posisi NU sebagai penjaga moral bangsa. Di tengah situasi panas, NU mengambil peran sebagai perekat persatuan.
Ia menutup seruan dengan doa dan ajakan agar semua pihak menundukkan ego, meredam amarah, dan mengedepankan dialog.
“NU tidak boleh lelah menjadi penyejuk. Kita harus terus hadir menenangkan situasi, menjaga rakyat, menjaga Indonesia,” pungkasnya. (ef linangkung)