
KABARJAWA– Generasi muda di Gunungkidul menghadapi tantangan serius: minimnya akses lapangan pekerjaan, krisis kepercayaan terhadap institusi negara, hingga meningkatnya potensi pernikahan dini.
Kondisi ini membuat masa depan anak-anak muda desa berada dalam bayang-bayang ketidakpastian. Fenomena ini tidak berdiri sendiri.
Secara nasional, Indonesia tengah diguncang persoalan mendasar seperti meningkatnya angka pengangguran, ketimpangan ekonomi yang kian melebar, serta masalah stunting yang masih menghantui banyak daerah.
Derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial justru menambah kompleksitas masalah yang dihadapi generasi penerus bangsa.
Langkah NU Gunungkidul
Di tengah situasi pelik itu, Nahdlatul Ulama (NU) Gunungkidul tampil sebagai salah satu kekuatan masyarakat sipil yang berusaha memastikan program pembangunan benar-benar sampai ke desa-desa.
Ketua Pengurus NU Gunungkidul, Mochamad Tohari, menegaskan bahwa program Presiden yang digulirkan pemerintah pusat tidak boleh berhenti sebatas slogan politik.
“Alhamdulillah, program Presiden sudah banyak yang sampai ke masyarakat Gunungkidul. Tugas kita bersama adalah memastikan manfaatnya tepat sasaran, terutama bagi warga kecil,” tegas Tohari.
NU Gunungkidul mengawal langsung program-program prioritas Presiden, mulai dari penanggulangan stunting, penguatan ekonomi rakyat, hingga pemberdayaan UMKM.
Tohari mencontohkan, NU terjun membantu edukasi gizi, pendampingan keluarga, dan penguatan layanan kesehatan ibu-anak.
Tidak berhenti di sektor kesehatan, NU juga memberi perhatian serius pada ekonomi desa. Melalui koperasi dan UMKM, warga didorong agar mandiri dan tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah. Langkah ini selaras dengan program ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan yang terus digalakkan pemerintah pusat.
“NU Gunungkidul tidak hanya bicara soal agama, tetapi juga hadir dalam kehidupan sosial masyarakat. Mulai dari membantu anak-anak putus sekolah, advokasi layanan kesehatan, hingga mengurangi kesenjangan ekonomi warga desa. Semua itu sejalan dengan arah kebijakan Presiden yang mendorong pemerataan pembangunan,” jelasnya.
Tantangan Khusus Generasi Muda Gunungkidul
Namun, Tohari tidak menutup mata. Gunungkidul memiliki tantangan tersendiri. Wilayah yang luas, kondisi alam yang kering, dan terbatasnya infrastruktur menjadi penghalang utama. Di atas semua itu, problem generasi muda menjadi bom waktu yang bisa mengancam masa depan daerah.
“Banyak anak muda yang setelah lulus sekolah bingung melangkah. Ada yang merantau ke kota, ada juga yang memilih bekerja serabutan di kampung. Kalau tidak kita kawal, generasi muda kita bisa terjebak pada rasa pesimis,” terang Tohari.
Krisis kepercayaan terhadap institusi negara menambah beban psikologis generasi muda. Mereka mulai skeptis terhadap janji-janji politik, sehingga kehilangan arah dan tujuan. Lebih memprihatinkan lagi, meningkatnya angka pernikahan dini justru mempersempit ruang anak-anak muda untuk berkembang.
NU Gunungkidul mencoba memberikan jawaban konkret. Melalui pesantren, lembaga pendidikan, hingga forum pemuda, NU menanamkan keterampilan praktis seperti kewirausahaan, pertanian modern, dan pelatihan digital.
Dengan cara ini, anak-anak muda tidak hanya berbekal ilmu agama, tetapi juga memiliki keahlian hidup yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
“Kami ingin anak-anak muda Gunungkidul bisa punya harapan. NU siap bersinergi dengan pemerintah daerah maupun pusat untuk menghadirkan pelatihan kerja, pemberdayaan ekonomi digital, hingga ruang-ruang kreatif bagi generasi muda,” tegas Tohari.
Selain itu, NU juga menggarap isu sosial lain seperti urbanisasi tanpa keterampilan, rendahnya minat generasi muda di bidang pertanian, hingga lemahnya partisipasi pemuda dalam pembangunan desa.
NU aktif menggelar majelis taklim, forum diskusi, dan program pemberdayaan agar anak muda tidak kehilangan jati diri sekaligus tetap optimis membangun daerah.
Mitra Kritis Pemerintah Daerah
Gunungkidul jelas masih membutuhkan dukungan penuh agar bisa keluar dari ketertinggalan. Tohari menegaskan bahwa NU siap menjadi mitra kritis pemerintah daerah.
Organisasi ini tidak hanya mendukung, tetapi juga mengawasi agar setiap program pembangunan berjalan efektif hingga ke akar rumput.
“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada sinergi. NU siap bersinergi dengan pemerintah daerah maupun pusat demi kesejahteraan masyarakat Gunungkidul,” tandasnya.
Dengan demikian, NU Gunungkidul menegaskan komitmennya untuk terus berada di garis depan solusi.
Program-program Presiden seperti pembangunan sumur bor, bantuan sosial, hingga kemandirian desa diyakini bisa memperkuat kesejahteraan rakyat jika benar-benar dijalankan secara tepat sasaran.
“NU akan terus mengawal, dari pusat hingga desa, agar setiap program pembangunan bisa menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, termasuk di Gunungkidul,” pungkas Tohari. (ef linangkung)