
KabarJawa.com – Baru-baru ini, jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya video yang menarasikan penemuan jejak kaki hewan buas di wilayah Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo.
Video tersebut kemudian memicu kekhawatiran warga soal adanya ancaman dari satwa liar, seperti macan atau harimau, yang masuk ke permukiman.
Menanggapi kehebohan tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melalui Resor Konservasi Wilayah (RKW) 05 Ponorogo dilaporkan telah melakukan investigasi lapangan pada Rabu, 21 Januari 2026 yang lalu.
Untuk itu, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut adalah fakta-fakta yang ditemukan petugas di lapangan.
Lokasi dan Kronologi Penemuan
Berdasarkan hasil koordinasi, lokasi penemuan jejak yang viral tersebut ternyata bukan di Desa Baosan Kidul seperti narasi awal, melainkan di Dusun Ngembel, Desa Baosan Lor, Kecamatan Ngrayun.
Petugas BBKSDA mendatangi rumah Warsito, warga yang pertama kali menemukan jejak tersebut. Warsito menjelaskan bahwa jejak itu ditemukannya di halaman rumah pada tanggal 19 Januari 2026.
Sayangnya, saat petugas datang melakukan pengecekan pada tanggal 21 Januari, jejak fisik di tanah sudah hilang atau tersamarkan karena wilayah tersebut diguyur hujan deras terus-menerus.
Tidak Ada Tanda Hewan Buas
Meskipun jejak utama sudah hilang, petugas tetap melakukan penyisiran intensif di sekitar area permukiman hingga batas hutan produksi Perhutani RPH Mrayan yang didominasi tanaman pinus.
Hasilnya, petugas tidak menemukan tanda-tanda pendukung keberadaan satwa liar pemangsa.
“Petugas tidak menemukan tanda-tanda keberadaan satwa liar berupa jejak lanjutan, kotoran, maupun tanda cakaran,” bunyi laporan resmi BBKSDA Jatim, dilansir KabarJawa.com pada Jumat, 23 Januari 2026.
Warga sekitar juga mengaku bahwa fenomena ini baru pertama kali terjadi dan belum pernah ada riwayat konflik satwa liar sebelumnya di titik tersebut.
Analisis Visual – Diduga Jejak Anjing
Karena jejak fisik sudah hilang, tim BBKSDA melakukan analisis mendalam terhadap rekaman video jejak yang beredar.
Berdasarkan pengamatan morfologi jejak, petugas menyimpulkan bahwa jejak tersebut memiliki kemiripan ciri dengan anjing, bukan kucing besar (seperti macan/harimau).
Berikut indikatornya:
- Bentuk Tapak: Melebar dan cenderung segitiga (Jejak kucing besar biasanya cenderung bulat).
- Tanda Kuku: Terlihat adanya tanda kuku.
Imbauan untuk Masyarakat
Berdasarkan fakta lapangan dan analisis visual, dugaan sementara mengarah pada jejak anjing, bukan hewan buas yang membahayakan seperti yang dikhawatirkan.
BBKSDA Jawa Timur pun mengimbau masyarakat Ponorogo, khususnya warga Ngrayun, untuk tetap tenang dan tidak termakan isu yang belum terverifikasi.
“Pelaporan cepat dapat dilakukan kepada petugas BBKSDA Jawa Timur/Resor Konservasi Wilayah setempat atau melalui perangkat desa dan aparat terkait, demi keselamatan masyarakat serta perlindungan satwa liar,” pungkas pihak BBKSDA.***