
KabarJawa.com – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur tanpa henti sejak Minggu (15/2) malam hingga Senin (16/2) pagi melumpuhkan aktivitas warga di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Luapan air dari hulu Sungai Glugu, Sungai Jajar, dan Sungai Tuntang tak mampu terbendung, mengakibatkan banjir besar yang menerjang 34 desa di sembilan kecamatan.
Berdasarkan data resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Senin siang tercatat sebanyak 5.214 Kepala Keluarga (KK) terdampak genangan air dan satu unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat.
“Rinciannya, Desa Klitikan (123 KK), Desa Kedungjati (98 KK), Desa Wates (1.000 KK), Desa Jumo (310 KK), Desa Deras (450 KK), Desa Kalimaro (321 KK), dan Desa Padas (60 KK),” demikian keterangan tertulis BNPB, sebagaimana dilansir KabarJawa.com pada Selasa, 17 Februari 2026.
Pusat Kota Purwodadi Terendam, Akses Terganggu
Dampak paling signifikan dirasakan di Kecamatan Purwodadi yang menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan ekonomi.
Wilayah ini seolah lumpuh dengan genangan air yang cukup tinggi. Di Kelurahan Purwodadi, banjir mengepung lingkungan Jajar, Kemasan, Jetis Barat, Jetis Selatan, Simpang Utara, dan Banaran, berdampak pada 584 KK.
Kondisi lebih parah terjadi di Kelurahan Kalongan, khususnya di Perumahan Permata Hijau. Di kawasan ini, ketinggian air dilaporkan mencapai satu meter, memaksa aktivitas 1.180 KK terhenti total.
Sementara itu, Desa Karanganyar dan Desa Ngraji juga masih tergenang dengan ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 50 sentimeter.
Tanggul Jebol dan Sawah Terendam
Selain curah hujan, banjir diperparah oleh jebolnya sejumlah tanggul sungai di beberapa titik krusial. Di Kecamatan Tegowanu, Tanggul Sungai Cabean di Desa Tajemsari dan Tanggul Sungai Jratun di Desa Kebonagung tak kuat menahan debit air, mengakibatkan ratusan rumah dan 102 hektare sawah terendam.
Hal serupa terjadi di Kecamatan Karangrayung, di mana tanggul Sungai Jajar Baru di Dusun Krasak dan Klampisan jebol sepanjang 15 meter.
Air dengan cepat masuk ke permukiman warga di Desa Mojoagung, meski saat ini genangan dilaporkan mulai berangsur surut dan hanya menyisakan air di ruas jalan desa.
Lumpuhkan Jalur Kereta Api
Bencana hidrometeorologi ini tidak hanya memukul permukiman, tetapi juga melumpuhkan transportasi nasional. Perjalanan kereta api lintas utara rute Jakarta-Surabaya mengalami kendala serius akibat rel yang terendam banjir.
Titik genangan terdeteksi di Km 32 pada petak jalur antara Karangjati dan Gubug. Petugas PT KAI saat ini tengah melakukan penanganan darurat dan pengamanan di lokasi untuk memastikan keselamatan operasional kereta api secepat mungkin.
Status Siaga dan Potensi Hujan Susulan
Hingga pukul 14.00 WIB, pantauan di Bendung Sedadi menunjukkan elevasi muka air berada di angka 26,68 mdpl atau level siaga, meski mulai menunjukkan tren penurunan.
Namun, kewaspadaan tetap ditingkatkan karena Pos Menduran justru mencatat adanya tren kenaikan debit air.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan mencatat sebaran banjir juga melanda Kecamatan Kedungjati, Gubug, Geyer, Toroh, Pulokulon, dan Penawangan.
Di beberapa wilayah seperti Kedungjati dan Geyer, air dilaporkan telah surut, namun genangan masih bertahan di wilayah Penawangan dan Purwodadi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan intensitas tinggi masih akan terjadi dalam dua hari ke depan.
Sementara, BNPB memberikan imbauan kepada masyarakat supaya teteap siaga serta mengungsi apabila terjadi peningkatan debit air.
“BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan, memantau informasi resmi dari pemerintah daerah, dan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman apabila debit air kembali meningkat. Keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam penanganan darurat banjir di Grobogan” tutup keterangan BNPB.***