
KABARJAWA – Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengajak ratusan mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) untuk turut serta menangani dua persoalan krusial yang masih membayangi Kota Yogyakarta: stunting dan pengelolaan sampah.
Ia menyampaikan ajakan tersebut saat memberikan pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode I Tahun Akademik 2025/2026 di Auditorium UST pada Kamis (19/6).
Pembekalan KKN
Sebanyak 795 mahasiswa UST menghadiri pembekalan tersebut. Dalam pidatonya, Hasto Wardoyo menegaskan bahwa KKN bukan sekadar kegiatan akademik.
Akan tetapi, program ini juga wahana penting untuk mengasah soft skill, menumbuhkan kepercayaan diri, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam berorganisasi serta bersosialisasi langsung dengan masyarakat.
“Kami berharap mahasiswa benar-benar memperhatikan materi pembekalan ini. Jangan sampai ketika sudah berada di lokasi, kalian masih bingung harus melakukan apa. Mahasiswa harus mampu beradaptasi dan menjalin komunikasi yang baik agar program yang dijalankan bisa diterima masyarakat,” tegas Hasto.
Penanganan Stunting dan Sampah Yogyakarta
Hasto meminta mahasiswa menjadikan isu stunting sebagai prioritas dalam pelaksanaan KKN. Ia mengungkapkan bahwa stunting dapat dicegah sejak usia kehamilan dini, bahkan sejak minggu pertama hingga kedua.
Oleh karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk menyampaikan pentingnya konsumsi gizi seimbang melalui kegiatan edukasi di tengah masyarakat.
“Stunting bisa dicegah sejak awal. Jika masyarakat memahami pentingnya gizi sejak masa kehamilan, maka generasi masa depan akan tumbuh sehat dan kuat. Mahasiswa harus aktif menyuarakan hal ini,” katanya dengan penuh penekanan.
Selain stunting, Hasto juga menyoroti persoalan pengelolaan sampah yang menjadi perhatian utama Pemerintah Kota Yogyakarta.
Ia menyampaikan bahwa Pemkot Yogyakarta berhasil menangani 45 depo sampah dan mengangkat 23.400 ton sampah hanya dalam kurun waktu 100 hari kerja.
“Kami berhasil menyelesaikan itu semua berkat kerja keras dan disiplin. Maka dari itu, saya mendorong mahasiswa untuk bertanggung jawab dan konsisten dalam menjalankan program-program KKN, termasuk dalam bidang kebersihan lingkungan,” tambahnya.
Sebelum para mahasiswa diterjunkan ke lokasi masing-masing pada 21 Juli 2025, mereka akan mengikuti kegiatan Bakti Kampus. Kegiatan ini melibatkan kerja sama dengan Bappeda dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta dalam gerakan bertajuk Sampahku Tanggung Jawabku.
Mahasiswa akan terjun langsung membersihkan lingkungan bersama komunitas sadar wisata (Pokdarwis) serta pengelola TPS di berbagai titik di Kota Yogyakarta.
Persebaran Mahasiswa KKN
Sementara itu, Rektor UST Yogyakarta, Prof. Pardimin, menyampaikan bahwa para mahasiswa KKN akan disebar ke seluruh wilayah DIY serta ke Kota Magelang dan Kabupaten Boyolali di Provinsi Jawa Tengah.
Mereka akan mengusung tema ‘Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Berbasis Among Echo (Education, Economic, Environment, Culture, Health, Outcome)’.
“Among Echo menekankan nilai-nilai kearifan lokal, gotong royong, dan semangat kebersamaan. Kami ingin mahasiswa menjadi bagian dari pembangunan masyarakat yang mandiri dan berdaya,” ujar Prof. Pardimin.
Ia menambahkan bahwa program KKN tahun ini juga merambah skala internasional melalui kegiatan magang dan pengabdian ke Jepang. Program tersebut terintegrasi dengan agenda kampus untuk memperluas wawasan dan pengalaman mahasiswa di kancah global.
Prof. Pardimin berharap seluruh mahasiswa mampu menjalin hubungan baik dengan masyarakat desa tempat mereka menjalankan KKN dan memberikan kontribusi nyata.
“Kami ingin program ini tidak hanya berhenti pada laporan akhir, tetapi benar-benar membawa dampak positif dan perubahan di masyarakat,” tandasnya.
Dengan keterlibatan aktif mahasiswa dalam isu-isu krusial seperti stunting dan pengelolaan sampah, Pemerintah Kota Yogyakarta bersama UST berharap dapat memperkuat sinergi antara akademisi dan masyarakat demi menciptakan lingkungan yang sehat, bersih, dan berdaya. (ef linangkung)