
KabarJawa.com – Indonesia secara geografis memang hanya mengenal dua musim utama, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Namun, bagi masyarakat Jawa, pembagian waktunya tak sesederhana itu.
Bahasa Jawa memiliki kekayaan kosakata yang luar biasa dalam mendefinisikan kondisi alam. Istilah musim atau dalam Bahasa Jawa disebut “Mangsa” memiliki penamaan yang spesifik tergantung pada tanda-tanda alam, curah hujan, hingga dampaknya bagi kesehatan.
Mungkin Anda pernah mendengar istilah Bedhidhing saat merasa kedinginan di tengah tahun, atau Mareng saat melihat petani mulai menjemur gabah. Lantas, apa saja nama-nama musim tersebut dan apa artinya? Berdasarkan informasi yang dihiimpun KabarJawa.com berikut adalah penjelasan lengkapnya.
Siklus Utama dan Masa Peralihan
Bagi petani Jawa, memahami perputaran musim adalah kunci keberhasilan panen. Berikut adalah empat istilah utama yang menggambarkan siklus cuaca:
Rendheng (Musim Penghujan)
Ini adalah istilah untuk musim hujan. Pada masa Rendheng, curah hujan turun dengan intensitas tinggi hampir setiap hari. Sawah-sawah tergenang air, sungai meluap, dan udara cenderung lembap. Bagi petani, ini adalah masa di mana pasokan air melimpah ruah.
Ketiga (Musim Kemarau)
Kebalikan dari Rendheng, Ketiga adalah sebutan untuk musim kemarau. Pada masa ini, hujan sangat jarang turun atau bahkan tidak ada sama sekali. Tanah menjadi kering, debit air sungai menyusut, dan matahari bersinar terik sepanjang hari.
Labuh (Peralihan Kemarau ke Hujan)
Labuh adalah masa pancaroba atau peralihan dari kemarau menuju penghujan. Tanda-tandanya adalah hujan mulai turun sesekali membasahi tanah yang kering.
Bagi para petani, Labuh adalah waktu yang krusial untuk mulai mengolah tanah dan menanam padi pertama kali (tanam) karena tanah mulai lunak.
Mareng (Peralihan Hujan ke Kemarau)
Sebaliknya, Mareng adalah masa peralihan dari musim hujan menuju kemarau. Intensitas hujan mulai berkurang drastis.
Musim ini biasanya disambut gembira karena bertepatan dengan masa panen dan sangat cocok untuk proses pengeringan gabah karena sinar matahari mulai stabil.
Fenomena Suhu dan Kondisi Sosial
Selain siklus air dan matahari, orang Jawa juga memiliki istilah khusus untuk kondisi suhu udara dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat.
Bedhidhing (Dingin yang Menusuk)
Fenomena yang satu ini cukup unik. Bedhidhing terjadi justru di tengah-tengah musim kemarau (biasanya sekitar bulan Juli hingga Agustus).
Meskipun siang hari matahari sangat terik, suhu udara pada malam hingga pagi hari menjadi sangat dingin, kering, dan menusuk tulang.
Pagering
Istilah ini berasal dari kata “gering” yang berarti sakit. Musim Pagering adalah masa di mana banyak orang jatuh sakit secara bersamaan. Biasanya terjadi saat pancaroba karena tubuh kaget menyesuaikan perubahan suhu ekstrem.
Pagebluk
Kemudian, istilah ini adalah tingkatan yang lebih parah dari Pagering. Pagebluk merujuk pada musim wabah penyakit menular yang mematikan dan meluas.
Pandemi COVID-19 yang terjadi beberapa tahun lalu juga sering kali dikategorikan sebagai masa Pagebluk.
Paceklik
Istilah ini menggambarkan kondisi ekonomi dan pangan. Paceklik adalah musim sulit pangan, biasanya terjadi ketika stok beras menipis karena gagal panen atau menunggu masa panen berikutnya yang masih lama.
Panen
Seperti namanya, Panen merupakan musim yang paling ditunggu. Panen adalah masa memetik hasil tanaman di sawah atau ladang. Musim ini identik dengan kemakmuran dan kebahagiaan para petani.
Kearifan Lokal di Era Modern
Sistem penamaan musim ini sejatinya adalah bentuk kearifan lokal leluhur Jawa (sering dikaitkan dengan Pranata Mangsa) yang digunakan sebagai pedoman bertani.
Namun, di era modern ini, tantangannya semakin besar. Perubahan iklim global membuat batas antara Rendheng dan Ketiga menjadi semakin kabur dan sulit diprediksi.
Meski demikian, istilah-istilah ini tetap hidup dan relevan sebagai pengingat betapa dekatnya hubungan masyarakat Jawa dengan alam semesta.
Ada Banyak Istilah
Jadi kesimpulannya, nama-nama musim dalam Bahasa Jawa antara lain Rendheng (hujan), Ketiga (kemarau), Labuh dan Mareng (peralihan), dan Bedhidhing (dingin di musim kemarau).
Selain itu, ada pula istilah lain seperti yang sudah dijelaskan di atas. Yang jelas, istilah-istilah ini mencerminkan kepekaan leluhur akan tanda-tanda alam.***