
KABAR JAWA – Di tengah kehidupan masyarakat Jawa yang penuh dengan nilai-nilai luhur, ada satu kebiasaan berbahasa yang begitu khas, yaitu penggunaan perumpamaan atau dalam bahasa Jawa disebut unen-unen.
Tradisi berbahasa ini bukan sekadar permainan kata, melainkan warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Perumpamaan Jawa lahir dari kearifan lokal, diolah dari pengalaman hidup, ajaran moral para pujangga, hingga cerita pewayangan yang sarat makna.
Unen-unen ini sering kali hadir dalam bentuk paribasan, saloka, pepindhan, bebasa, sanepa, hingga isbat. Semua ragam tersebut mengandung nasihat dan filosofi yang mendalam, tidak dimaknai secara harfiah, tetapi ditangkap sebagai kiasan penuh makna.
Karena itu, tidak mengherankan jika orang Jawa cenderung menyampaikan pesan melalui perumpamaan, alih-alih bicara terus terang secara lugas.
Alasan Orang Jawa Gemar Menggunakan Perumpamaan
Mengapa orang Jawa begitu senang berbahasa dengan kiasan? Alasannya tidak semata-mata karena ingin terdengar indah, melainkan juga karena perumpamaan memiliki fungsi filosofis dan estetis yang sangat kuat.
Dalam pandangan filosofis, perumpamaan menjadi sarana untuk mengajarkan nilai luhur seperti kesabaran, kerendahan hati, serta sikap narima atau menerima kenyataan dengan ikhlas.
Selain itu, gaya berbahasa semacam ini juga menjaga keselarasan sosial, karena pesan yang disampaikan secara halus dapat menghindarkan dari pertentangan langsung.
Di sisi lain, ada pula aspek estetika yang membuat perumpamaan semakin bernilai. Bahasa kiasan memberi ruang bagi keindahan simbol, makna yang dalam, sekaligus menjaga kesopanan komunikasi.
Orang Jawa percaya, setiap kata yang diucapkan selalu memiliki maksud. Dengan perumpamaan, maksud itu tersampaikan tanpa melukai hati lawan bicara.
Fungsi Filosofis Perumpamaan Jawa
Jika ditelusuri lebih jauh, perumpamaan dalam budaya Jawa memiliki sejumlah fungsi penting yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
Menyampaikan Nasihat Luhur
Banyak unen-unen yang sarat dengan pitutur atau ajaran bijak. Nilai-nilai ini kemudian menjadi pedoman yang membentuk karakter masyarakat Jawa agar lebih berhati-hati dalam bersikap.
Menjaga Keselarasan Sosial
Bahasa kiasan membuat pesan terasa lebih halus. Dengan begitu, hubungan antarindividu tetap terjaga karena tidak ada yang merasa disudutkan secara langsung.
Mengajarkan Kebijaksanaan Hidup
Perumpamaan berfungsi untuk menuntun orang agar bersabar, mengalah demi kebaikan bersama, dan memahami kenyataan hidup dengan lapang dada.
Estetika dalam Bahasa Jawa
Berdasarkan laman Kemendikdasmen, dapat diketahui bahwa peribahasa atau paribasan memang dipakai ketika ada hal-hal yang tidak pantas diucapkan secara terang-terangan.
Dari sinilah yang kemudian melahirkan prinsip harmoni, yakni menghindari konflik dengan cara menyampaikan maksud melalui kalimat yang halus.
Dan bagi masyarakat Jawa, berbahasa tidak sekadar alat komunikasi, tetapi juga bentuk seni.
Estetika bahasa dalam perumpamaan tampak jelas pada simbol-simbol yang digunakan. Kata-kata dipilih bukan hanya karena maknanya, tetapi juga karena keindahannya.
Dengan gaya kiasan, pesan yang sederhana berubah menjadi lebih berlapis, mendalam, dan penuh filosofi. Inilah keunikan peribahasa Jawa, yang tidak hanya berfungsi praktis, melainkan juga melestarikan nilai budaya serta menghadirkan rasa indah dalam komunikasi.
Contoh Paribahasa Jawa dan Maknanya
Supaya bisa lebih mudah lagi dalam memahaminya, berikut beberapa contoh paribahasa Jawa beserta arti filosofisnya.
Urip Iku Urup (Hidup itu nyala)
- Artinya, manusia seharusnya memberi manfaat dan menjadi penerang bagi sesama makhluk.
Aja keminter mundak keblinger, aja cidra mundak cilaka (Jangan sok pintar nanti tersesat, jangan berbuat curang nanti celaka)
- Artinya, jangan berlaku sombong atau berbuat curang, sebab hal itu hanya akan membawa bencana.
Ngunduh Wohing Pakarti (Menuai buah pekerti)
- Artinya, setiap orang akan memperoleh akibat dari tindakannya sendiri.
Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto Dhur Angkoro (Percantik keindahan dunia, berantas keangkaramurkaan)
- Artinya, manusia hidup di dunia untuk memperindah alam dengan kasih sayang serta memberantas segala sifat jahat yang merusak.
Witing Tresno Jalaran Saka Kulino (Cinta berawal karena terbiasa)
- Artinya, perasaan cinta sering muncul karena adanya kebiasaan yang terjalin dari waktu ke waktu.
Contoh-contoh tersebut menunjukkan betapa kaya bahasa Jawa dalam melukiskan kehidupan.
Melalui perumpamaan, pesan moral tidak hanya sekadar disampaikan, tetapi juga dihias dengan keindahan bahasa yang penuh simbol.
Jadi Kearifan Lokal
Pada akhirnya, perumpamaan Jawa adalah bagian dari kearifan lokal yang terus bertahan hingga sekarang.
Dengan gaya bahasa yang halus dan penuh makna, masyarakat Jawa dapat menjaga harmoni dalam berhubungan, menyampaikan nilai moral dengan cara yang bijaksana, sekaligus menikmati keindahan bahasa itu sendiri.
Itulah sebabnya orang Jawa masih suka menggunakan unen-unen dalam kehidupan sehari-hari.
Tradisi ini bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana melestarikan filosofi dan estetika bahasa yang menjadi jati diri budaya Jawa.***