
KabarJawa.com – Bahasa Jawa dikenal sebagai salah satu bahasa daerah yang memiliki tingkatan tutur yang sangat kompleks namun indah. Tingkatan ini dikenal dengan istilah Unggah-ungguh Basa.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa, pemilihan kata sangat bergantung pada siapa lawan bicara kita. Hal ini juga berlaku saat kita menyebutkan nama-nama warna (werni).
Mungkin Anda sudah terbiasa menyebut “Abang” untuk merah atau “Ireng” untuk hitam. Namun, kata-kata tersebut masuk dalam kategori Ngoko yang hanya boleh digunakan kepada teman sebaya atau orang yang lebih muda.
Jika Anda berbicara dengan orang tua atau dalam situasi formal, menggunakan kata Ngoko bisa dianggap kurang sopan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mulai mempelajari nama-nama warna dalam Bahasa Jawa Kromo (Krama). Untuk itu, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut penjelasan lengkapnya.
Daftar Nama Warna dalam Bahasa Jawa Kromo
Agar tidak salah ucap saat berbicara dengan orang yang dihormati, berikut adalah tabel perbandingan nama warna dari Bahasa Indonesia ke Jawa Krama yang perlu Anda hafalkan.
| Bahasa Indonesia | Jawa Krama |
| Merah | Abrit |
| Putih | Pethak |
| Hitam | Cemeng |
| Hijau | Ijem |
| Kuning | Jenar |
| Abu-abu | Klawu |
| Biru | Biru |
| Merah Muda (Pink) | Jambon |
| Cokelat | Soklat |
Dengan demikian, bisa kita perhatikan bahwa perubahan drastis terjadi pada warna-warna primer seperti merah, putih, hitam, hijau, dan kuning.
Sedangkan untuk warna seperti biru, cokelat, atau abu-abu (klawu), kata-katanya cukup identik atau hanya mengalami sedikit penyesuaian pelafalannya.
Kapan Kita Harus Menggunakan Bahasa Krama?
Mungkin Anda bertanya, kenapa harus repot-repot mengganti istilah warna tersebut menjadi Krama? Jawabannya adalah Tata Krama. Bahasa Jawa Krama wajib digunakan dalam situasi-situasi berikut ini.
Berbicara dengan Orang Tua
Pertama-tama yaitu saat berkomunikasi dengan orang yang usianya lebih tua dari kita seperti kakek, nenek, ayah, atau ibu.
Berbicara dengan Orang Terhormat
Bahasa Krama juga diperlukan saat berbicara kepada mereka yang memiliki kedudukan lebih tinggi atau dihormati secara sosial. Misalnya, guru, atasan di kantor, atau tokoh agama.
Orang Asing atau Orang Baru Dikenal
Saat bertemu orang yang belum kita kenal akrab, menggunakan Krama menunjukkan sikap segan dan menghargai privasi orang tersebut.
Acara Resmi
Dalam rapat desa, upacara adat, atau pidato sambutan, Bahasa Krama adalah standar komunikasi untuk menunjukkan formalitas.
Jadi kini kita tahu bahwa tujuan penggunaannya sebenanrya sangat mulia, yaitu untuk menjaga kesopanan, menunjukkan rasa hormat, dan menempatkan lawan bicara pada posisi yang mulia.
Catat Nama-namanya
Jadi kesimpulannya, nama-nama warna dalam Bahasa Kromo adalah Abrit (Merah), Jenar (Kuning), Ijem (Hijau), Cemeng (Hitam), dan Pethak (Putih). Sementara itu, untuk warna lainnya seperti yang sudah disebutkan di atas.
Dengan menguasai kosakata sederhana ini, maka kita tak hanya belajar bahasa, tetapi juga belajar menghargai orang lain melalui budaya unggah-ungguh Jawa.***