
KabarJawa.com – Tanah Jawa memang menyimpan kekayaan literasi budaya yang luar biasa, salah satunya terwujud dalam seni Tembang Macapat.
Jika kita menelusuri deretan tembang tersebut, ada satu nama yang memiliki bobot filosofis sangat berat, yaitu Tembang Pangkur.
Bagi masyarakat Jawa, Pangkur lebih dari sekadar susunan nada dan lirik yang indah. Tembang ini adalah sebuah “pitutur” atau nasihat hidup tentang fase penting perjalanan manusia menuju kedewasaan spiritual. Lantas, apa sebenarnya pesan tersembunyi di balik tembang ini?
Berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut adalah penjelasan mendalam mengenai makna Tembang Pangkur.
Filosofi “Mungkur” – Menjauh dari Keduniawian
Untuk memahami maknanya, kita harus membedah nama “Pangkur” itu sendiri. Secara etimologis atau asal-usul kata, Pangkur berasal dari kata dasar dalam bahasa Jawa yaitu “mungkur”.
Kata mungkur memiliki arti mundur, menyingkir, atau meninggalkan. Namun, dalam konteks ini, “meninggalkan” tidak dimaknai secara harfiah sebagai lari dari tanggung jawab.
Berdasarkan laman resmi Pemerintah Kabupaten Bantul, diketahui bahwa Pangkur bisa diartikan sebagai fase hidup manusia dimana ia mulai meninggalkan kepentingan duniawi, lalu bersiap diri untuk menghadapi masa akhir kehidupannya.
Sebagai tembang kesepuluh dari sebelas tembang Macapat, Pangkur menggambarkan fase kehidupan manusia yang telah melewati masa muda yang berapi-api. Ini adalah fase ketika seseorang mulai memasuki usia senja atau kematangan jiwa.
Pada tahap ini, manusia diajak untuk mengurangi ambisi mengejar harta benda duniawi dan mulai fokus mempersiapkan diri untuk “pulang” ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.
Watak yang Gagah dan Perwira
Tembang Pangkur memiliki watak yang sangat khas. Karakternya digambarkan gagah, kuat, perkasa, dan berjiwa besar.
Karena wataknya yang tegas inilah, Tembang Pangkur sering digunakan oleh para pujangga masa lalu untuk menyampaikan nasihat-nasihat yang serius (pitutur luhur).
Tembang ini menjadi media untuk membimbing manusia agar bersungguh-sungguh dalam mengendalikan diri, menjaga tata krama, dan menggunakan akal budi dalam setiap tindakan.
Dalam naskah klasik seperti Serat Wulangreh, Pangkur digunakan untuk mengajarkan manusia agar menjauhi nafsu rendah (angkara murka) demi mencapai kehidupan yang damai dan bijaksana, baik secara sosial maupun spiritual.
Struktur Aturan Tembang (Paugeran)
Sebagai karya sastra yang terikat aturan baku, Tembang Pangkur memiliki struktur unik yang disebut paugeran. Struktur inilah yang membentuk irama gagah saat ditembangkan. Berikut rinciannya:
- Guru Gatra: Terdiri dari 7 baris atau larik dalam satu bait.
- Guru Wilangan & Guru Lagu:
- Baris 1: 8 suku kata, vokal akhir a (8a)
- Baris 2: 11 suku kata, vokal akhir i (11i)
- Baris 3: 8 suku kata, vokal akhir u (8u)
- Baris 4: 7 suku kata, vokal akhir a (7a)
- Baris 5: 12 suku kata, vokal akhir u (12u)
- Baris 6: 8 suku kata, vokal akhir a (8a)
- Baris 7: 8 suku kata, vokal akhir i (8i)
Ajaran Luhur Pendewasaan Diri
Jadi kesimpulannya, makna Tembang Pangkur adalah ajaran luhur tentang proses pendewasaan diri di mana manusia harus berani “mungkur” atau meninggalkan hawa nafsu duniawi dan ambisi materialistis.
Tembang ini mengajarkan kita untuk beralih fokus pada kekayaan batin dan spiritualitas sebagai persiapan akhir menuju Sang Pencipta.***