Menghayati Arti Tepa Selira, Pedoman Etika Masyarakat Jawa yang Masih Hidup di Era Modern

Bagikan :
Ilustrasi arti Tepa Selira dalam kehidupan masyrakat Jawa modern (Pexels// Andrea Piacquadio)

KabarJawa.com – Masyarakat Jawa dikenal kaya akan nilai-nilai kearifan lokal yang hingga kini tetap menjadi pedoman hidup. Salah satunya adalah tepa selira, sebuah sikap yang tak hanya berlaku di masa lalu, tetapi juga tetap relevan di tengah derasnya arus modernitas, termasuk di era media sosial.

Nilai ini terus diajarkan dari generasi ke generasi karena dianggap mampu menjaga keharmonisan dalam kehidupan sosial.

Apa yang Dimaksud dengan Tepa Selira?

Tepa selira adalah falsafah hidup masyarakat Jawa yang berarti tenggang rasa atau kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain. Inti dari ajaran ini adalah empati, yakni berusaha memahami perasaan, pikiran, serta kesulitan orang lain sebelum bertindak atau berbicara.

Berdasarkan laman resmi UNY, diketahi bahwa tepa selira bahkan diyakini dapat menjadi fondasi perdamaian, tidak hanya di lingkungan kecil, tetapi juga dalam lingkup dunia.

Jika setiap pemimpin dan masyarakat mampu menjalankan nilai ini, maka kehidupan sosial akan lebih tenteram karena setiap orang terbiasa menghormati dan menghargai satu sama lain.

Baca juga  Perayaan Cap Go Meh 2025: Sejarah, Tradisi, dan Jadwal Lengkap

Contoh Perilaku Tepa Selira dalam Kehidupan Sehari-hari

Nilai luhur ini bukan sekadar konsep, tetapi bisa diterapkan dalam tindakan sederhana sehari-hari. Misalnya, saat membawa makanan di perjalanan, seseorang dengan tulus membaginya kepada orang di sekitarnya tanpa harus diminta.

Atau, ketika ada tetangga yang sedang berduka, warga sekitar ikut membersihkan halaman rumahnya sebagai wujud kepedulian.

Contoh lain yang tampak sepele namun penting adalah menanyakan kepada tetangga yang terlihat kerepotan apakah mereka membutuhkan bantuan.

Beragam perilaku kecil seperti ini mencerminkan sikap empati sekaligus solidaritas yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kehangatan dalam hubungan sosial.

Relevansi Tepa Selira di Era Modern

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, nilai tepa selira justru semakin penting untuk dijaga. Banyak situasi yang bisa dijadikan ladang praktik ajaran ini. Dalam dunia kerja, misalnya, tepa selira mencegah seseorang bersikap egois dan mengajarkan arti kerja sama.

Dalam kehidupan digital, nilai ini juga sangat dibutuhkan. Menghargai perbedaan pendapat di ruang diskusi daring, menjaga privasi orang lain di media sosial, serta menghindari penggunaan kata-kata kasar yang dapat menyakiti, semuanya merupakan bentuk nyata dari tepa selira.

Baca juga  Peringati Hari Kartini di Gunungkidul: Bupati hingga Panewu Ikut Peragaan Busana Adat Dan Flashmob Tari Tradisional

Begitu pula ketika berinteraksi di komunitas, empati dan toleransi menjadi kunci agar tidak terjadi gesekan antarindividu.

Makna dan Filosofi yang Mendalam

Secara esensial, tepa selira mengajarkan manusia untuk berpikir matang sebelum bertindak. Filosofi ini dapat dipahami sebagai upaya “mengukur diri sendiri” sebelum melukai atau menyinggung orang lain.

Dengan kata lain, setiap tindakan dan ucapan harus dipertimbangkan dampaknya terhadap sesama.

Ajaran ini tidak hanya melahirkan rasa empati, tetapi juga membangun harmoni sosial, menguatkan solidaritas, dan menumbuhkan toleransi.

Nilai-nilai tersebut menjadi dasar penting yang membuat masyarakat Jawa tetap rukun, sekalipun menghadapi perubahan zaman.

Masih Hidup di Era Modern

Jadi, tepa selira adalah warisan etika yang tak lekang oleh waktu. Hal ini mengajarkan tenggang rasa, empati, dan kepedulian sosial yang relevan baik dalam kehidupan tradisional maupun modern.

Mulai dari lingkungan desa, dunia kerja, hingga ruang digital, nilai ini selalu dapat diterapkan untuk menciptakan suasana damai dan penuh toleransi.

Keberlangsungan ajaran tepa selira menunjukkan bahwa budaya Jawa tidak hanya menyimpan tradisi, tetapi juga menghadirkan pedoman hidup universal yang layak dihayati oleh siapa pun, di era kapan pun.***

Baca juga  Misteri Podhang Ngisep Sari, Umbul-Umbul Merah Kuning yang Ramai di Gunungkidul Jelang HUT ke-80 RI

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya