
KabarJawa.com – Masyarakat Jawa dikenal kaya akan nilai-nilai kearifan lokal yang hingga kini tetap menjadi pedoman hidup. Salah satunya adalah tepa selira, sebuah sikap yang tak hanya berlaku di masa lalu, tetapi juga tetap relevan di tengah derasnya arus modernitas, termasuk di era media sosial.
Nilai ini terus diajarkan dari generasi ke generasi karena dianggap mampu menjaga keharmonisan dalam kehidupan sosial.
Apa yang Dimaksud dengan Tepa Selira?
Tepa selira adalah falsafah hidup masyarakat Jawa yang berarti tenggang rasa atau kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain. Inti dari ajaran ini adalah empati, yakni berusaha memahami perasaan, pikiran, serta kesulitan orang lain sebelum bertindak atau berbicara.
Berdasarkan laman resmi UNY, diketahi bahwa tepa selira bahkan diyakini dapat menjadi fondasi perdamaian, tidak hanya di lingkungan kecil, tetapi juga dalam lingkup dunia.
Jika setiap pemimpin dan masyarakat mampu menjalankan nilai ini, maka kehidupan sosial akan lebih tenteram karena setiap orang terbiasa menghormati dan menghargai satu sama lain.
Contoh Perilaku Tepa Selira dalam Kehidupan Sehari-hari
Nilai luhur ini bukan sekadar konsep, tetapi bisa diterapkan dalam tindakan sederhana sehari-hari. Misalnya, saat membawa makanan di perjalanan, seseorang dengan tulus membaginya kepada orang di sekitarnya tanpa harus diminta.
Atau, ketika ada tetangga yang sedang berduka, warga sekitar ikut membersihkan halaman rumahnya sebagai wujud kepedulian.
Contoh lain yang tampak sepele namun penting adalah menanyakan kepada tetangga yang terlihat kerepotan apakah mereka membutuhkan bantuan.
Beragam perilaku kecil seperti ini mencerminkan sikap empati sekaligus solidaritas yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kehangatan dalam hubungan sosial.
Relevansi Tepa Selira di Era Modern
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, nilai tepa selira justru semakin penting untuk dijaga. Banyak situasi yang bisa dijadikan ladang praktik ajaran ini. Dalam dunia kerja, misalnya, tepa selira mencegah seseorang bersikap egois dan mengajarkan arti kerja sama.
Dalam kehidupan digital, nilai ini juga sangat dibutuhkan. Menghargai perbedaan pendapat di ruang diskusi daring, menjaga privasi orang lain di media sosial, serta menghindari penggunaan kata-kata kasar yang dapat menyakiti, semuanya merupakan bentuk nyata dari tepa selira.
Begitu pula ketika berinteraksi di komunitas, empati dan toleransi menjadi kunci agar tidak terjadi gesekan antarindividu.
Makna dan Filosofi yang Mendalam
Secara esensial, tepa selira mengajarkan manusia untuk berpikir matang sebelum bertindak. Filosofi ini dapat dipahami sebagai upaya “mengukur diri sendiri” sebelum melukai atau menyinggung orang lain.
Dengan kata lain, setiap tindakan dan ucapan harus dipertimbangkan dampaknya terhadap sesama.
Ajaran ini tidak hanya melahirkan rasa empati, tetapi juga membangun harmoni sosial, menguatkan solidaritas, dan menumbuhkan toleransi.
Nilai-nilai tersebut menjadi dasar penting yang membuat masyarakat Jawa tetap rukun, sekalipun menghadapi perubahan zaman.
Masih Hidup di Era Modern
Jadi, tepa selira adalah warisan etika yang tak lekang oleh waktu. Hal ini mengajarkan tenggang rasa, empati, dan kepedulian sosial yang relevan baik dalam kehidupan tradisional maupun modern.
Mulai dari lingkungan desa, dunia kerja, hingga ruang digital, nilai ini selalu dapat diterapkan untuk menciptakan suasana damai dan penuh toleransi.
Keberlangsungan ajaran tepa selira menunjukkan bahwa budaya Jawa tidak hanya menyimpan tradisi, tetapi juga menghadirkan pedoman hidup universal yang layak dihayati oleh siapa pun, di era kapan pun.***