Inilah Bahasa Jawa Halus Pagi, Siang, Sore, dan Malam yang Benar serta Cara Melafalkannya

Bagikan :
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Ilustrasi – Bahasa Jawa halus untuk waktu (Sumber gambar: pinterest/Ian Rowland)

KABAR JAWA – Bahasa Jawa dikenal sebagai salah satu bahasa daerah yang sangat kaya, tidak hanya dalam kosakata tetapi juga dalam tata krama penggunaannya.

Di dalam kehidupan sehari-hari, orang Jawa sangat memperhatikan tingkat kesopanan dalam berbicara. Salah satunya terlihat pada cara menyebutkan waktu, seperti pagi, siang, sore, maupun malam.

Bagi sebagian orang yang baru belajar, mungkin masih sering bingung tentang bagaimana cara menyebut waktu dalam bahasa Jawa, terlebih jika menggunakan bahasa Jawa halus.

Ada pula yang sebenarnya pernah tahu, tetapi sudah lupa karena jarang dipakai. Padahal, memahami kosakata ini sangat berguna untuk percakapan sehari-hari, apalagi ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau dalam situasi resmi.

Bahasa Jawa Umum untuk Waktu Sehari-hari

Dalam percakapan sehari-hari yang santai, penyebutan waktu dalam bahasa Jawa biasanya lebih sederhana. Beberapa istilah yang sering digunakan adalah:

  • Pagi: Esuk
  • Siang: Awan
  • Malam: Bengi

Kosakata tersebut sering dipakai dalam interaksi ringan, misalnya saat berbincang dengan teman sebaya atau dalam suasana yang tidak terlalu formal.

Baca juga  Istilah Ukuran Waktu dalam Bahasa Jawa: Sapandurat, Sak Plintengan, Sak Untoro, dll

Bahasa Jawa Halus untuk Pagi, Siang, Sore, dan Malam

Jika ingin berbicara dengan lebih sopan, terutama kepada orang yang lebih tua atau dalam suasana yang membutuhkan tata krama, maka digunakan bahasa Jawa halus. Berikut padanannya:

  • Pagi: Enjang/Enjing
  • Siang: Siang
  • Sore: Sonten
  • Malam: Dalu

Pemilihan kata ini bukan sekadar soal bahasa, melainkan juga bentuk penghormatan kepada lawan bicara. Itulah sebabnya, masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh atau tata krama dalam penggunaan bahasa.

Cara Mengucapkan Salam Berdasarkan Waktu

Penggunaan kata-kata halus tersebut akan lebih lengkap jika dirangkai menjadi ucapan salam. Bentuknya sangat sederhana, cukup dengan menambahkan kata “Sugeng” di depan penyebutan waktu.

  • Selamat pagi: Sugeng enjang
  • Selamat siang: Sugeng siang
  • Selamat sore: Sugeng sonten
  • Selamat malam : Sugeng dalu

Ucapan salam ini sering dipakai dalam berbagai situasi, baik ketika menyambut tamu, membuka percakapan, maupun sekadar bertegur sapa dengan orang lain.

Contoh Penggunaan dalam Percakapan

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh penggunaan dalam percakapan sederhana sehari-hari:

  • “Sugeng enjang, Pak/Bu” (Selamat pagi, Pak/Bu)
  • “Sugeng siang, Bu. Kulo nuwun.” (Selamat siang, Bu. Permisi)
  • “Sugeng sonten, Bu.” (Selamat sore, Bu)
  • “Sugeng dalu, Pak Lurah.” (Selamat malam, Pak Lurah)
Baca juga  Mengenal Aksara Jawa Kuno 'Kawi', Pengertian hingga Sejarah Perkembangannya

Dengan menggunakan salam tersebut, percakapan akan terasa lebih sopan, hangat, dan menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara.

Upaya Melestarikan Budaya

Mempelajari bahasa Jawa halus tidak hanya sekadar menambah pengetahuan kosakata, tetapi juga melestarikan budaya. Dalam budaya Jawa, bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga simbol tata krama dan penghormatan.

Dengan menguasai cara menyebut waktu seperti enjang, siang, sonten, dan dalu, seseorang berarti turut menjaga kearifan lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Ada Makna Tersendiri

Itulah penjelasan lengkap mengenai bahasa Jawa halus untuk menyebut waktu pagi, siang, sore, dan malam beserta cara melafalkannya.

Mulai dari “Sugeng enjang” hingga “Sugeng dalu”, semuanya memiliki makna yang lebih dari sekadar ucapan, yakni sebagai wujud penghormatan dan kesopanan.

Jadi, tidak ada salahnya mulai membiasakan diri menggunakan istilah-istilah ini dalam percakapan sehari-hari, baik di rumah, kampus, maupun ketika bersosialisasi di masyarakat.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid