
KabarJawa.com – Bagi masyarakat umum, Aksara Jawa mungkin identik dengan Hanacaraka. Namun, tahukah Anda bahwa sebelum Hanacaraka lahir, nenek moyang kita menggunakan jenis aksara yang lebih tua?
Aksara tersebut dikenal dengan nama Aksara Kawi atau Aksara Jawa Kuno. Aksara inilah yang menjadi jembatan literasi di masa lampau sebelum berevolusi menjadi aksara-aksara modern yang kita kenal sekarang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut adalah penjelasan lengkap mengenai pengertian, karakteristik, hingga sejarah perkembangannya.
Pengertian Aksara Kawi
Aksara Kawi atau Aksara Jawa Kuno adalah aksara yang berkembang pesat pada masa klasik, tepatnya antara abad ke-8 hingga abad ke-16 Masehi.
Wilayah persebarannya cukup luas, meliputi seluruh kepulauan Indonesia, namun terpusat kuat di Pulau Jawa dan Bali. Pada masanya, aksara ini digunakan untuk menuliskan dua bahasa utama, yakni Bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa Kuno.
Bukti Sejarah Tertua
Kapan aksara ini mulai digunakan? Bukti fisik tertua yang ditemukan adalah Prasasti Plumpungan. Prasasti yang ditemukan di Salatiga, Jawa Tengah ini berangka tahun 750 Masehi.
Para ahli memperkirakan bahwa Aksara Kawi sebenarnya sudah ada sebelum prasasti tersebut dibuat. Hebatnya, jejak Aksara Kawi tidak hanya ada di Jawa, melainkan juga ditemukan di prasasti-prasasti di Bali, Sumatra, Semenanjung Malaya, hingga Filipina (Prasasti Laguna).
Karakteristik Penulisan
Aksara Kawi memiliki sistem penulisan yang unik jika dibandingkan dengan huruf latin, antara lain adalah sebagai berikut.
Sistem Abugida
Setiap hurufnya bukan huruf mati, melainkan mewakili satu suku kata dengan vokal dasar /a/. Bunyi vokal ini bisa diubah menggunakan tanda baca (sandhangan).
Scriptio Continua
Ditulis bersambung tanpa spasi. Jadi, pembaca harus jeli memisahkan kata per kata.
Jumlah Huruf
Diperkirakan memiliki sekitar 47 huruf. Namun, karena terbatasnya sumber prasasti, ada beberapa bentuk huruf yang fungsi pastinya belum diketahui secara jelas.
Pembeda dari Pallawa
Aksara Kawi merupakan pengembangan dari Aksara Pallawa, namun memiliki ciri khas baru, yaitu adanya huruf ‘e’ pepet dan penggunaan tanda virama (paten/pemati vokal) yang lebih umum.
Tahapan Perkembangan Aksara Kawi Versi De Casparis
Ahli epigrafi J.G. de Casparis membagi perkembangan Aksara Kawi menjadi tiga periode sebagai berikut ini.
- Kawi Awal (750-925 M): Ini adalah periode awal adaptasi dari aksara Pallawa menjadi bentuk khas Jawa Kuno.
- Kawi Akhir (925-1250 M): Periode puncak penggunaan. Masa ini berkaitan erat dengan kejayaan kerajaan-kerajaan besar seperti Kediri, Singhasari, hingga awal Majapahit.
- Kawi Baru (1250-1450 M): Tahap transisi. Pada masa ini, bentuk huruf mulai berubah drastis mendekati bentuk aksara modern.
Evolusi Menjadi Aksara Modern
Aksara Kawi tidak punah, melainkan berevolusi. Ia adalah “ibu” dari berbagai aksara daerah yang lebih modern di Nusantara.
Dari Kawi, lahirlah Aksara Jawa Baru (Hanacaraka), Aksara Bali, dan Aksara Sunda Kuno. Kemiripan struktur antara aksara-aksara tersebut membuktikan bahwa mereka berasal dari satu leluhur yang sama, yaitu Kawi.
Simpan Sejarah Panjaang
Jadi kesimpulannya, Aksara Jawa Kuno (Kawi) adalah aksara sistem abugida yang digunakan di Nusantara pada abad ke-8 hingga ke-16 Masehi untuk menulis bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno.
Sejarahnya dimulai sejak era Prasasti Plumpungan (750 M), berkembang melalui era Majapahit, dan akhirnya berevolusi menjadi cikal bakal aksara daerah modern seperti Hanacaraka dan Aksara Bali.***