Mengenal Aksara Jawa Kuno ‘Kawi’, Pengertian hingga Sejarah Perkembangannya

Bagikan :
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Ilustrasi Aksara Jawa Kuno Kawi (Sumber gambar: pinterest/Ian Rowland)

KabarJawa.com – Bagi masyarakat umum, Aksara Jawa mungkin identik dengan Hanacaraka. Namun, tahukah Anda bahwa sebelum Hanacaraka lahir, nenek moyang kita menggunakan jenis aksara yang lebih tua?

Aksara tersebut dikenal dengan nama Aksara Kawi atau Aksara Jawa Kuno. Aksara inilah yang menjadi jembatan literasi di masa lampau sebelum berevolusi menjadi aksara-aksara modern yang kita kenal sekarang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut adalah penjelasan lengkap mengenai pengertian, karakteristik, hingga sejarah perkembangannya.

Pengertian Aksara Kawi

Aksara Kawi atau Aksara Jawa Kuno adalah aksara yang berkembang pesat pada masa klasik, tepatnya antara abad ke-8 hingga abad ke-16 Masehi.

Wilayah persebarannya cukup luas, meliputi seluruh kepulauan Indonesia, namun terpusat kuat di Pulau Jawa dan Bali. Pada masanya, aksara ini digunakan untuk menuliskan dua bahasa utama, yakni Bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa Kuno.

Bukti Sejarah Tertua

Kapan aksara ini mulai digunakan? Bukti fisik tertua yang ditemukan adalah Prasasti Plumpungan. Prasasti yang ditemukan di Salatiga, Jawa Tengah ini berangka tahun 750 Masehi.

Baca juga  Peran Aksara Jawa di Era Digital: Antara Pelestarian Budaya dan Peluang Kreatif Gen Z

Para ahli memperkirakan bahwa Aksara Kawi sebenarnya sudah ada sebelum prasasti tersebut dibuat. Hebatnya, jejak Aksara Kawi tidak hanya ada di Jawa, melainkan juga ditemukan di prasasti-prasasti di Bali, Sumatra, Semenanjung Malaya, hingga Filipina (Prasasti Laguna).

Karakteristik Penulisan

Aksara Kawi memiliki sistem penulisan yang unik jika dibandingkan dengan huruf latin, antara lain adalah sebagai berikut.

Sistem Abugida

Setiap hurufnya bukan huruf mati, melainkan mewakili satu suku kata dengan vokal dasar /a/. Bunyi vokal ini bisa diubah menggunakan tanda baca (sandhangan).

Scriptio Continua

Ditulis bersambung tanpa spasi. Jadi, pembaca harus jeli memisahkan kata per kata.

Jumlah Huruf

Diperkirakan memiliki sekitar 47 huruf. Namun, karena terbatasnya sumber prasasti, ada beberapa bentuk huruf yang fungsi pastinya belum diketahui secara jelas.

Pembeda dari Pallawa

Aksara Kawi merupakan pengembangan dari Aksara Pallawa, namun memiliki ciri khas baru, yaitu adanya huruf ‘e’ pepet dan penggunaan tanda virama (paten/pemati vokal) yang lebih umum.

Tahapan Perkembangan Aksara Kawi Versi De Casparis

Ahli epigrafi J.G. de Casparis membagi perkembangan Aksara Kawi menjadi tiga periode sebagai berikut ini.

  • Kawi Awal (750-925 M): Ini adalah periode awal adaptasi dari aksara Pallawa menjadi bentuk khas Jawa Kuno.
  • Kawi Akhir (925-1250 M): Periode puncak penggunaan. Masa ini berkaitan erat dengan kejayaan kerajaan-kerajaan besar seperti Kediri, Singhasari, hingga awal Majapahit.
  • Kawi Baru (1250-1450 M): Tahap transisi. Pada masa ini, bentuk huruf mulai berubah drastis mendekati bentuk aksara modern.
Baca juga  Jalan-Jalan ke Tempat Bersejarah di Jogja yang Bikin Kamu Serasa Balik ke Zaman Dulu

Evolusi Menjadi Aksara Modern

Aksara Kawi tidak punah, melainkan berevolusi. Ia adalah “ibu” dari berbagai aksara daerah yang lebih modern di Nusantara.

Dari Kawi, lahirlah Aksara Jawa Baru (Hanacaraka), Aksara Bali, dan Aksara Sunda Kuno. Kemiripan struktur antara aksara-aksara tersebut membuktikan bahwa mereka berasal dari satu leluhur yang sama, yaitu Kawi.

Simpan Sejarah Panjaang

Jadi kesimpulannya, Aksara Jawa Kuno (Kawi) adalah aksara sistem abugida yang digunakan di Nusantara pada abad ke-8 hingga ke-16 Masehi untuk menulis bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno.

Sejarahnya dimulai sejak era Prasasti Plumpungan (750 M), berkembang melalui era Majapahit, dan akhirnya berevolusi menjadi cikal bakal aksara daerah modern seperti Hanacaraka dan Aksara Bali.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya