
KABARJAWA – Fenomena bangku kosong di SMP Gunungkidul menimbulkan keprihatinan mendalam. Dinas Pendidikan Gunungkidul mencatat, sebanyak 1.313 kursi SMP masih menganggur pada SPMB 2025 ini. Kondisi ini terjadi di tengah persiapan tahun ajaran baru 2025/2026.
Dinas Pendidikan Gunungkidul menyediakan kuota 9.216 murid dari 61 SMP Negeri dan 45 SMP Swasta. Namun, jumlah lulusan SD tahun ajaran 2024/2025 hanya 7.903 murid. Artinya, ribuan kursi menanti siswa yang tak kunjung datang.
Nunuk Setyowati, Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, mengungkapkan kegelisahannya. Ia mendorong sekolah swasta agar bergerak lebih agresif melakukan promosi.
“Kami masih melakukan kajian apakah akan ada penggabungan rombel atau ke depannya akan dilakukan regrouping,” ujar Nunuk, Kamis (10/7/2025).
Penyebab Kosongnya Kursi Siswa SMP di Gunungkidul
Kenyataan miris ini tidak hanya terjadi di sekolah swasta. Sebelumnya, beberapa sekolah swasta bahkan tidak memiliki satu pun pendaftar dalam sistem SPMB. Dinas Pendidikan akhirnya membuka pendaftaran offline untuk menyelamatkan kursi kosong tersebut.
Pamuji Raharjo, Pakar Pendidikan Universitas Gunungkidul, menilai situasi ini sebagai buah manis sekaligus getir dari keberhasilan program Keluarga Berencana (KB). Karena dulu jumlah anak usia sekolah lebih banyak dari kapasitas ruang kelas, sekarang sebaliknya.
“Populasi menurun, sekolah tetap berdiri di mana-mana. Jadilah banyak sekolah kekurangan siswa,” tegas Pamuji.
Ia menegaskan penyusutan jumlah siswa bukan karena minat belajar menurun. Fakta demografis menunjukkan angka kelahiran yang menurun drastis akibat program KB.
“Ini logis. Kalau angka kelahiran turun, otomatis jumlah anak usia sekolah juga makin sedikit,” tambahnya.
Regrouping sebagai Opsi Rasional
Pamuji memaparkan kebijakan regrouping sekolah menjadi opsi rasional di tengah realita saat ini. Namun regrouping sekolah juga menimbulkan masalah baru. Nasib para guru terancam jika sekolah digabung.
“Bayangkan ada 10 sekolah, tapi masing-masing hanya punya 1 murid. Pemerintah daerah tentu bicara efisiensi. Daripada mengelola 10 sekolah yang sepi, lebih baik digabung saja,” tegasnya.
” Tetapi guru juga bagian dari SDM yang tak boleh disisihkan. Harus ada terobosan. Misalnya, guru bisa ditarik ke satuan pendidikan lain atau mengisi posisi strategis di tingkat kapanewon,” ujarnya lugas.
Guru Sebagai Pendamping Personal Anak Didik
Pamuji menekankan pentingnya inovasi kebijakan. Ia mengusulkan agar guru tidak hanya menjadi pengajar, melainkan juga pendamping personal siswa.
Guru menjadi sosok yang mendampingi siswa menentukan arah pendidikan dan potensi karier sejak dini.
” Kalau ada anak yang jago olahraga, guru bisa arahkan jalurnya lebih tepat,” paparnya.
Menurutnya, orang tua zaman sekarang jauh lebih selektif memilih sekolah. Orang tua zaman sekarang tidak asal titip anak. Sekolah negeri maupun swasta harus terus meningkatkan kualitas.
“ekolah tak hanya sarana mencerdaskan bangsa, tapi juga mulai bergerak ke arah industri pendidikan. Yang unggul akan dipilih. Ini hukum alam. Dulu murid berlimpah, sekolah terbatas. Sekarang sekolah berlimpah, murid makin sedikit. Semua harus siap beradaptasi,”ujarnya. (ef linangkung)