Menghitung Hari Baik untuk Pernikahan: Panduan Menggunakan Penanggalan Jawa

Bagikan :
Ilustrasi menghitung hari baik pernikahan Jawa (AI // Kabar Jawa)

KabarJawa.com – Dalam tradisi masyarakat Jawa, menentukan hari baik sebelum melangsungkan pernikahan bukan sekadar kebiasaan turun temurun, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keharmonisan rumah tangga sejak awal.

Tak sedikit yang percaya bahwa memilih waktu yang tepat akan membuka pintu keberuntungan, mempermudah langkah pasangan di masa depan, serta menjauhkan dari pertengkaran maupun kesulitan yang tidak diinginkan.

Meskipun zaman terus berubah dan generasi muda hidup di era yang lebih modern, kebiasaan menghitung hari baik menggunakan penanggalan Jawa ternyata masih sangat sering dilakukan.

Di berbagai kalangan, terutama di keluarga yang masih memegang nilai budaya Jawa, perhitungan ini bahkan dianggap sebagai bagian penting dari prosesi sebelum ijab kabul. Karena itu, memahami bagaimana metode perhitungannya menjadi hal yang cukup menarik untuk dipelajari.

Hitungan Hari Baik yang Tetap Dipercaya

Berdasarkan laman resmi Universitas Nurul Jadid, dijelaskan bahwa penentuan hari baik dengan menggunakan penanggalan Jawa hingga saat ini masih umum dilakukan.

Salah satu metode paling terkenal adalah menghitung kesesuaian weton kedua calon mempelai. Dalam hitungan weton, setiap hari dan setiap pasaran memiliki nilai atau neptu tertentu.

Tujuan dari hitungan ini adalah mencari kecocokan serta keseimbangan antara kedua pihak sehingga hubungan yang dibangun diharapkan lebih damai dan minim hambatan.

Baca juga  Memahami Wuku dalam Kalender Jawa: Siklus 30 Hari dan Karakteristiknya

Kepercayaan ini bukan bertujuan menakut-nakuti, tetapi lebih sebagai pedoman budaya yang diyakini membawa kebaikan ketika dijalankan dengan penuh niat baik.

Cara Mudah Menghitung Hari Baik Pernikahan

Jika Anda baru pertama kali mengetahui konsep ini, langkah langkah berikut bisa menjadi panduan sederhana untuk memahami bagaimana masyarakat Jawa menentukan waktu yang dianggap tepat untuk menikah.

  • Mengetahui hari lahir dan pasaran Jawa kedua calon pengantin.
  • Menghitung neptu masing masing, karena setiap hari dan pasaran memiliki nilai tertentu.
  • Menjumlahkan neptu kedua calon mempelai.
  • Mencocokkan hasil hitungan dengan makna yang terdapat dalam Primbon Jawa.
  • Menghindari hari atau tanggal yang masuk kategori naas atau pantangan.
  • Memilih hari yang dipercaya membawa keberkahan, rezeki, serta kebahagiaan untuk kehidupan rumah tangga.

Agar lebih mudah memahaminya, berikut contoh sederhana perhitungan weton.

Seseorang yang lahir pada Jumat Kliwon memiliki nilai 6 untuk Jumat dan 8 untuk Kliwon sehingga total neptunya adalah 14.

Jika pasangannya lahir pada Selasa Pon, maka hitungannya adalah 3 untuk Selasa dan 7 untuk Pon sehingga totalnya 10. Ketika kedua angka ini digabungkan, hasilnya menjadi 24.

Dalam Primbon Jawa, 24 memiliki arti Padu yang menggambarkan hubungan yang terkadang diwarnai perdebatan kecil.

Makna ini biasanya digunakan sebagai bahan pertimbangan apakah tanggal yang dipilih perlu digeser atau tetap dijalankan dengan persiapan mental yang lebih baik.

Baca juga  Cara dan Syarat Memperpanjang SKCK Terbaru 2025, Bisa Online dan OfflineCara dan Syarat Memperpanjang SKCK Terbaru 2025, Bisa Online dan Offline

Bulan Bulan yang Dianggap Baik untuk Menikah

Selain hitungan weton, masyarakat Jawa juga memperhatikan bulan dalam penanggalan Jawa karena setiap bulan mengandung makna tertentu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, ada beberapa bulan yang dipercaya membawa keberkahan bagi pasangan yang menikah di dalamnya, diantaranya:

Ruwah

Ruwah adalah bulan kedelapan dan sering dipilih untuk pernikahan karena dipercaya membawa kedamaian serta keselamatan jangka panjang bagi pasangan.

Namun, Ruwah juga memiliki waktu yang dianggap kurang baik yaitu hari Jumat, hari sangar atau angker pada Rabu dan Kamis, hari taliwangke pada Kamis Pon, tanggal nahas 12 dan 13, tanggal sangar 26, serta tanggal bangas padewan 4 dan 28.

Jumadilakir

Bulan keenam dalam penanggalan Jawa ini dianggap baik karena dipercaya membawa kelimpahan harta dan rezeki. Meski begitu, ada pantangan tertentu.

Misalnya, hari Jumat, hari sangar pada Rabu dan Kamis, hari taliwangke pada Selasa Legi, tanggal nahas 10 dan 14, tanggal sangar 18, serta tanggal bangas padewan 10 dan 14.

Besar

Besar merupakan bulan kedua belas dan dipercaya sebagai waktu yang sangat baik untuk pasangan yang menginginkan kehidupan yang makmur dan penuh kebahagiaan.

Di bulan ini, hari yang tidak disarankan adalah Senin dan Selasa, hari sangar pada Sabtu dan Minggu, hari taliwangke pada Selasa Legi, tanggal tidak baik 25, serta tanggal bangas padewan 6 dan 20.

Baca juga  Hati-hati, Ini 7 Weton yang Menurut Primbon Jawa Kurang Mujur

Rejeb

Rejeb adalah bulan ketujuh yang sering dipilih karena diyakini membawa keselamatan dan keturunan yang banyak. Meskipun demikian, Rejeb memiliki hari yang tidak baik.

Yakni Jumat, hari sangar pada Rabu dan Kamis, hari taliwangke pada Rabu Pahing, tanggal nahas 2 dan 14, tanggal sangar 18, serta tanggal bangas padewan 13 dan 27.

Bulan yang Dianggap Tidak Baik untuk Pernikahan

Di sisi lain, terdapat beberapa bulan dalam penanggalan Jawa yang dianggap kurang membawa keberuntungan bagi pasangan yang ingin menikah.

Bulan tersebut adalah Suro yang dikenal sebagai bulan Muharram, Sapar yang merupakan bulan Safar, Mulud, serta Jumadil Awal.

Keempat bulan ini dipercaya membawa kesialan yang berkaitan dengan kesulitan ekonomi, pertengkaran, hingga cobaan lainnya bagi pasangan.

Karena itu, banyak orang yang memilih menunda pernikahan jika rencana mereka bertepatan dengan bulan bulan tersebut.

Jadi, tradisi menghitung hari baik untuk pernikahan memang sudah ada sejak lama. Meskipun tidak semua orang mengikutinya, tak sedikit pula yang tetap mempertimbangkannya sebagai bentuk penghormatan pada leluhur sekaligus sebagai harapan agar rumah tangga mereka berjalan lancar dan penuh berkah.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid