
KabarJawa.com – Dalam keseharian, banyak orang mengenal istilah weton ketika berbicara tentang penanggalan Jawa.
Namun ada satu konsep lain yang tidak kalah penting, meskipun jarang terdengar oleh telinga masyarakat umum, yaitu wuku.
Istilah ini sebenarnya mempunyai peran besar dalam tradisi Jawa, karena digunakan untuk membaca karakter waktu dan bahkan dipercaya bisa menggambarkan sifat seseorang.
Bagi yang belum pernah mendengar atau baru ingin mempelajari sistem penanggalan lokal ini, memahami wuku menjadi langkah awal yang menarik. Rupanya, wuku juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan mitologi masyarakat Jawa sejak masa lampau.
Apa yang Dimaksud dengan Wuku?
Berdasarkan laman resmi UIN Sunan Kalijaga, wuku digambarkan sebagai nama dari sebuah siklus waktu yang berlangsung selama 30 pekan.
Sistem ini merupakan bagian penting dalam budaya Jawa dan Bali, di mana satu putaran penuh wuku terdiri atas 30 minggu dengan total 210 hari. Jika dua siklus digabungkan, maka terbentuklah satu tahun wuku dengan jumlah 420 hari.
Setiap wuku tidak hanya sekadar nama. Di dalamnya terdapat unsur lain seperti angka mistis atau neptu, arah mata angin yang disebut mandala, serta dewa pelindung yang dipercaya mempengaruhi karakter waktu tersebut.
Semua komponen ini kemudian digunakan dalam perhitungan padewasan atau penentuan hari baik dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Menariknya, perhitungan siklus wuku dimulai pada hari Minggu saat matahari terbit, menandakan awal perjalanan waktu dalam hitungan tradisional tersebut.
Asal-usul Wuku dalam Tradisi Jawa
Apabila ditelusuri lebih mendalam, wuku mempunyai akar sejarah yang panjang dan berkaitan erat dengan legenda Jawa kuno.
Kisah yang sering dikaitkan dengan asal-usul wuku adalah cerita tentang Prabu Watugunung dari kerajaan Gilingwesi. Sang raja memiliki istri bernama Dewi Sinta dan dikaruniai 27 orang anak.
Nama seluruh anggota keluarga ini kemudian dijadikan dasar penamaan tiga puluh wuku yang dikenal sampai sekarang.
Karena itu, wuku tidak hanya menjadi sistem hitung waktu, tetapi juga simbol dari tokoh-tokoh yang hidup dalam mitologi Jawa.
Penggunaan wuku sebagai bagian dari penanggalan Jawa diperkirakan sudah ada sejak masa kerajaan Hindu Buddha. Namun penerapannya secara lebih luas baru terlihat ketika Sultan Agung dari Kesultanan Mataram menetapkan sistem kalender Jawa Islam pada abad ke-17.
Pada masa itu Sultan Agung menyatukan tiga konsep penanggalan, yaitu sistem matahari dari Saka, sistem bulan dari Hijriyah, serta unsur tradisional Jawa termasuk wuku. Kombinasi ini menghasilkan penanggalan khas yang digunakan turun temurun hingga sekarang.
Macam-macam Wuku dan Gambaran Karakternya
Dalam satu siklus terdapat tiga puluh wuku, dan masing-masing memiliki karakteristik tertentu yang dipercaya mempengaruhi kelahiran seseorang. Berikut daftar lengkap tiga puluh wuku beserta gambaran sifatnya secara umum:
- Sinta: cerdas dan membawa keberuntungan dalam urusan harta.
- Landep: baik untuk perjalanan.
- Wukir: pandai memimpin dan pemurah.
- Kurantil: kurang baik untuk aktivitas perdagangan.
- Tolu: cocok untuk urusan pengobatan.
- Gumbreg: suka berbagi rezeki.
- Warigalit: cakap dalam berbicara.
- Warigagung: pekerja keras.
- Julungwangi: senang berpetualang.
- Sungsang: memiliki sifat curiga dan boros.
- Galungan: ramah dan rajin bekerja.
- Kuningan: kurang perhatian pada urusan harta.
- Langkir: cerdas serta pandai mengatur keuangan.
- Mandhasiya: keras kepala dan mudah marah.
- Julungpujud: mudah dipengaruhi oleh orang lain.
- Pahang: bijaksana dan dermawan.
- Kuruwelut: setia dan bertanggung jawab.
- Marakeh: pemberani dan tegas.
- Tambir: kreatif serta inovatif.
- Madangkungan: pandai bergaul.
- Maktal: ambisius dan rajin bekerja.
- Wuye: kurang baik untuk perdagangan.
- Manahil: ahli dalam menyusun strategi.
- Prangbakat: pemberani dan menyukai tantangan.
- Bala: kuat dan tahan banting.
- Wugu: sederhana dan rendah hati.
- Wayang: cerdas serta memiliki wibawa.
- Kulawu: bijaksana dan adil.
- Dukut: tekun dan sangat ulet.
- Watugunung: lembut serta sabar.
Walaupun demikian, perlu diingat bahwa interpretasi sifat berdasarkan wuku bisa berbeda pada setiap sumber primbon.
Cara Menghitung Wuku dalam Kalender Jawa
Bagi yang penasaran ingin mengetahui wuku dari tanggal lahir, caranya dapat dihitung melalui langkah berikut ini:
- Pertama, tentukan tanggal lahir berdasarkan kalender Masehi.
- Selanjutnya, konversikan tanggal tersebut ke dalam penanggalan Jawa.
- Ketiga, hitung jumlah hari yang sudah berlalu sejak awal siklus wuku, yaitu 1 Sura pada tahun Alip.
- Kemudian, jumlah hari tersebut kemudian dibagi dengan 210 hari sebagai panjang satu siklus wuku.
- Terakhir, sisa hasil pembagian akan menunjukkan posisi dalam siklus yang kemudian menentukan nama wukunya.
Bukan Sekadar Perhitungan Waktu
Jadi, setelah memahami seluruh penjelasan di atas, wuku ternyata bukan sekadar bagian dari perhitungan waktu tradisional.
Sistem ini memuat banyak unsur budaya, sejarah, mitologi, dan kepercayaan masyarakat Jawa dari masa ke masa. Selain digunakan untuk menentukan waktu tertentu, wuku juga sering dimanfaatkan untuk membaca karakteristik seseorang.
Semua itu menunjukkan bahwa wuku merupakan warisan kebudayaan lokal yang masih tetap hidup dan terus diwariskan hingga saat ini.***