
Kabar Jawa – PHK massal kembali terjadi di industri digital Indonesia. TikTok Shop melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap ratusan karyawan setelah merger dengan Tokopedia. Apa penyebab utamanya?
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menghantam industri digital Indonesia. Kali ini, giliran TikTok Shop yang membuat keputusan mengejutkan dengan memangkas ratusan karyawan di berbagai lini operasionalnya.
Kebijakan ini muncul tidak lama setelah platform e-commerce milik ByteDance itu resmi mengambil alih Tokopedia dari grup GoTo.
Sejak proses merger yang diumumkan tahun lalu, TikTok Shop tampak melakukan penataan ulang besar-besaran dalam struktur organisasinya.
Langkah ini ditujukan untuk menyelaraskan sistem kerja kedua entitas dan menghilangkan posisi-posisi yang tumpang tindih. Namun, dampaknya tidak kecil—ribuan pekerja pun harus kehilangan pekerjaan.
Mengapa TikTok Shop Melakukan PHK Besar-Besaran?
PHK ini bukan tanpa alasan. Dalam pernyataan resminya, pihak TikTok menyebut bahwa mereka secara berkala menilai ulang kebutuhan bisnis dan membuat penyesuaian strategis demi memperkuat organisasi serta meningkatkan pelayanan kepada pengguna.
Lebih dari sekadar penghematan biaya, keputusan ini juga mencerminkan strategi TikTok Shop untuk mempercepat integrasi dengan Tokopedia.
Setelah akuisisi senilai 1,5 miliar Dolar Amerika Serikat, TikTok Shop mulai menyesuaikan kembali seluruh sistem dan struktur organisasi. Dalam prosesnya, efisiensi menjadi prioritas, yang artinya beberapa tim yang dianggap kurang relevan harus dilepas.
Sektor yang Terkena Dampak PHK
Menurut laporan Bloomberg yang dikutip pada awal Juni 2025, pengurangan karyawan terjadi di berbagai sektor vital seperti logistik, pergudangan, pemasaran, dan operasional. Beberapa di antaranya bahkan sudah mulai dilakukan sejak awal tahun, dan rencana PHK lanjutan akan dilaksanakan paling cepat pada Juli mendatang.
Sebelum merger, gabungan TikTok Shop dan Tokopedia memiliki hampir 5.000 staf. Namun kini, jumlah karyawan yang tersisa diperkirakan hanya sekitar 2.500 orang.
Itu berarti hampir separuh tenaga kerja telah terdampak—angka yang sangat signifikan untuk sebuah perusahaan teknologi besar di kawasan Asia Tenggara.
Efisiensi atau Krisis? Tanggapan TikTok Shop
Meski langkah ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri digital, TikTok tetap menekankan bahwa mereka tidak meninggalkan pasar Indonesia.
Sebaliknya, perusahaan menyatakan komitmen untuk terus berinvestasi dalam Tokopedia dan sektor e-commerce nasional.
Menurut perwakilan resmi TikTok, langkah PHK merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk menciptakan sistem kerja yang lebih ramping, hemat biaya, namun tetap efektif dalam melayani konsumen.
Mereka menambahkan bahwa penggabungan dua platform besar tentu menciptakan duplikasi tugas yang tidak efisien.
Maka dari itu, perusahaan perlu menata ulang struktur internal agar bisa bersaing secara optimal di tengah tekanan pasar yang semakin ketat.
Indonesia Masih Jadi Fokus ByteDance
Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar bagi TikTok Shop, dan juga menjadi tumpuan utama ByteDance dalam ekspansi e-commerce mereka. Namun, TikTok tidak sendiri.
Persaingan dengan pemain besar seperti Shopee (Sea Ltd.) dan Lazada (Alibaba Group) membuat mereka harus terus berinovasi agar tetap relevan.
Selain itu, regulasi pemerintah Indonesia yang bertujuan melindungi pelaku usaha kecil dan menengah lokal turut menekan perusahaan asing agar bermitra dengan entitas lokal. Hal ini juga menjadi salah satu pendorong merger TikTok Shop dengan Tokopedia.
Kondisi Karyawan dan Harapan ke Depan
Bagi para karyawan yang terdampak, keputusan PHK ini tentu menjadi pukulan berat. Tidak sedikit dari mereka yang sebelumnya bergabung setelah penggabungan perusahaan, berharap masa depan yang cerah dalam dunia e-commerce. Kini, mereka harus kembali menghadapi tantangan mencari pekerjaan di tengah ketidakpastian industri digital.
Namun demikian, masih ada harapan bahwa langkah restrukturisasi ini dapat membawa stabilitas baru bagi TikTok Shop dan mendorong pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.
Jika strategi ini berhasil, bukan tidak mungkin TikTok Shop kembali membuka peluang kerja di masa mendatang dengan sistem yang lebih efisien dan adaptif.
Kesimpulan
PHK massal di TikTok Shop bukan sekadar isu pemangkasan biaya, tetapi bagian dari strategi besar pasca-merger dengan Tokopedia.
Penyusunan ulang struktur organisasi dan fokus pada efisiensi operasional menjadi alasan utama di balik kebijakan ini.
Meski terasa menyakitkan bagi para karyawan yang terdampak, langkah ini diharapkan mampu membawa arah baru bagi e-commerce TikTok Shop di Indonesia. Di tengah persaingan yang ketat, adaptasi menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang.
***